
Sebulan udah berlalu. Liburan sudah tiba. Dan itu berarti saatnya bagi Oti untuk pergi. Ninggalin semua. Ninggalin teman-teman, rumah, sekolah, juga cintanya.
Jam empat sore, Oti dan ibunya udah ada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Selain mereka, ada juga Ai yang ikut nganter, juga Ticka, Laras, dan... Revi!
"Kak Raka belum datang juga?" tanya Ticka pada Ai.
"Kayaknya nggak. Tadi Ai nelpon tapi HP-nya gak aktif," jawab Ai. Kemudian pandangannya beralih ke Oti. Oti hanya tersenyum kecil. Dia nggak tau apakah Raka benar-benar sibuk seperti yang dikatakanya semalam, atau hanya alasan untuk menghindari dirinya.
"Kalo ngga ada lagi, kita check in sekarang," kata mamanya. Oti terdiam sejenak, memandang ke arah depan bandara. Kemudian ia mengangguk, seraya memandang adik dan teman-temannya, seolah ingin mengatakan saat perpisahan sudah tiba. Oti mendekati Ai yang berada di dekatnya.
"Jaga Raka ya, dan ntar kalo liburan kamu harus main ke sana," kata Oti pada Ai. Ai memandang Oti dengan mata berkaca-kaca, kemudian memeluk kakaknya.
"Ai akan kesepian lagi, ngga ada Kakak," kata Ai dengan suara bergetar.
"Jangan begitu. Raka pasti akan menjaga kamu dengan baik. Percayalah." Oti lalu beralih ke Ticka yang ada di sebelah Ai.
"Gue juga akan kesepian tanpa lo, Ot. Laras sama sekali nggak bisa diajak berantem. Gak seru jadinya," kata Ticka. Laras yang berada di sebelahnya tersenyum kecil mendengar ucapan Ticka.
"Jangan gitu. Lo belum tau kemampuan Laras yang tersembunyi," balas Oti. Ticka kemudian memeluk Oti.
"Sayang Raka nggak datang. Gue tau lo pengin ketemu dia untuk terakhir kalinya," ujar Ticka lirih di telinga Oti.
"Mungkin dia sedang berusaha ngelupain gue. Gue bisa ngerti " balas Oti.
"Terima kasih, Ot, kamu selama ini udah nolong Laras, dan membuat Laras jadi orang yang percaya diri," kata Laras saat Oti berada di hadapannya.
"Nggak, Ras, itu semua karena diri kamu sendiri. Oti hanya ngebantu. Oti juga ingin berterima kasih, karena kamu udah banyak ngebantuin Oti selama ini,: kata Oti tulus.
"Jangan lupain kami ya..," kata Laras di sela-sela pelukannya pada Oti.
"Nggak akan, Ras, kalian teman-teman terbaik yang pernah Oti punya. Oti harap kalian juga ngga akan melupakan Oti."
Kini giliran Revi yang mengucapkan salam perpisahan pada Oti.
"Kapan-kapan gue boleh main ke tempat lo, kan?" tanya Revi.
__ADS_1
"Tentu aja. Kalo mau liburan besok lo bisa pergi bareng Laras dan Ai. Mereka juga akan ke London," jawab Oti.
Revi memeluk Oti.
"Thanks, Ot, lo udah nyadarin gue dari sikap gue selama ini."
"Gak perlu. Itu semua pada dasarnya lo orang baik. Gue tau itu dari pertama kali ketemu lo. Jaga Bayu baik-baik. Gue akan selalu berdoa semoga kalian bahagia."
"Udah, Ot?" tanya mamanya. Oti mengangguk.
"Ai, Mama pergi dulu." Mama Oti memeluk dan mencium kedua pipi Ai, kemudian dilanjutkan dengan yang lain.
"Selamat tinggal, semua...," seru Oti sambil melambaikan tangan.
"Hati-hati di jalan, Ot," kata Laras.
"Di sana lo belajar ya, jangan ikut kontes-kontesan lagi. Dan jangan lupa salam buat Pangeran William...,"sambung Ticka.
Oti tersenyum, kemudian, sambil mendorong kereta berisi koper-kopernya, ia dan mamanya melangkah masuk untuk check in.
Selanjutnya mereka akan menunggu keberangkatan di ruang duduk yang memang khusus untuk penumpang. Dari balik kaca yang memisahkan ruang keberangkatan, Oti masih sempat melambaikan tangan kepada teman-temannya.
"Kamu ngga mau nelepon Raka untuk terakhir kalinya?"tanya Mama saat mereka bangkit dari duduk dan bersiap akan masuk pesawat.
"Nggak, Ma. Kata Ai HP-nya gak aktif," jawab Oti.
Baru aja Oti menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara yang sangat dikenalnya memanggil dari arah belakang.
"Otiii!!"
Oti menoleh. Raka berdiri beberapa meter darinya. Napasnya ngos-ngosan. Oti memandang Mamanya penuh harap. Mamanya mengangguk pelan.
"Jangan lama-lama. Pesawat akan segera berangkat," kata Mama.
Oti segera berlari ke arah Raka.
__ADS_1
"Kenapa lo bisa masuk ke sini?" tanya Oti setelah mereka berdua berhadapan.
"Itu nggak penting...," jawab Raka di sela-sela napasnya yang terengah-engah. Raka tiba di bandara beberapa saat setelah Oti masuk untuk check in. Dan atas bantuan Revi yang kebetulan kenal dengan salah satu petugas bandara, Raka bisa masuk ke ruang yang sebetulnya khusus bagi penumpang yang akan berangkat. Revi sendiri yang masuk bareng Raka hanya melihat kejadian itu dari jauh. Dia nggak pengin mengganggu mereka.
"Jadi ini saatnya kita berpisah?" tanya Raka.
"Kita nggak akak berpisah. Kita pasti akan ketemu lagi. Dan ketika saat itu tiba, Oti harap kita dapat bertemu sebagai kakak-adik."
Raka menatap mata Oti. Tangannya merogoh sesuatu dari jaket.
"Ini..." Raka memberikan benda yang digenggamnya. Ternyata suntai kalung kuning keemasan, yang matanya membentuk ukiran "VR".
"Gue pesan kalung ini ke teman gue. Sebetulnya buat hadiah ulang tahun lo. Tapi kemudian keadaan berubah. Tadinya akan ada gambar hati di belakang ke dua huruf itu. Walau begitu, gue tetap ingin memberikan kalung ini ke lo..." Raka mengatur napasnya sejenak sebelum melanjutkan.
"Kalo ketemu nanti kalung ini udah gak tergantung di leher lo, atau udah gak ada sama lo, berarti lo benar-benar ngelupain cinta kita. Saat itu, barulah gue bisa tenang."
Oti menerima kalung pemberian Raka, dan memasangnya di leher, menggantikan kalung yang di pakainya. Kalungnya sendiri disershin ke Raka.
"Sama. Gue harap lo mau nerima kalung gue. Kalo gue liat lo gak pake, berarti lo udah ngelupain cinta lo ke gue," balas Oti.
Raka menerima kalung Oti. Nggak seperti kalung lainnya, kalung Oti ini bermatakan proyektil peluru yang pernah menembus perutnya. Katanya sebagai kenang-kenangan dia pernah tertembak.
"Boleh gue nyium lo?" pinta Raka.
Oti membelalakkan matanya, seolah-olah mengingatkan Raka akan janjinya.
"Hanya ciuman Kakak pada adiknya yang akan pergi jauh," lanjut Raka. Oti terdiam sejenak, kemudian mengangguk. Raka membungkuk sedikit, mencium kenig Oti dengan lembut. Oti pun memejamkan mata, seakan menikmati ciuman tersebut.
Ulangan panggilan untuk boarding bagi para penumpang yang akan ke London menyadarkan mereka. Oti menoleh ke arah mamanya, yang memberi tanda untuk segera masuk ke pesawat.
"Gue pergi dulu jaga diri lo, jaga Ai."
"Lo juga. Jaga diri lo di sana."
Oti melangkah mundur meninggalkan Raka sambil melambaikan tangan, kemudian berbalik, dan berjalan ke arah mamanya.
__ADS_1
"Ma...," kata Oti sambil memandang mamanya. Dia takut mamanya akan menceritakan kejadian saat Raka mencium dirinya pada ayahnya.
"Mama mengerti. Jangan takut, Mama nggak akan cerita pada Papa," kata mamanya, seolah mengerti kekhawatiran Oti.