
Pada hari minggu pagi, Raka harus pergi siaran. Belum ada yang bangun, kecuali Ai yang emang biasa bangun pagi, dan ibu tirinya.
"Maafkan Ai ya, Kak! Ai yang ngomong ke Ayah. Pas telepon, Ayah nanyain kabar Kak Raka dan Kak Oti. Ai jadi kelepasan ngomong.
Ai ngga mengira Ayah begitu marah mendengar hubungan Kakak dan Kak Oti, lalu datang kemari. Kalo Ai tau akan begini kejadiannya..."
Mendengar suara Ai yang bergetar dan wajahnya yang tampak memelas, Raka merasa iba. Adiknya tampak merasa sangat bersalah.
"Sudahlah. Cepat atau lambat hal ini pasti terjadi. Kalo bukan dari kamu, pasti Ayah akan tau juga. Kamu nggak perlu merasa bersalah. Justru Kakak berterima kasih, karena nggak perlu ngomong sendiri hal ini pada Ayah," jawab Raka sambil mengelus rambut adiknya.
"Tapi Kakak jadi dimarahin Ayah. Hubungan Kakak dengan Kak Oti jadi berantakan..."
__ADS_1
"Siapa bilang? Kami udah memperhitungkan hal ini akan terjadi. Kakak dan Kak Oti bertekad, apa pun yang terjadi, kamk harus bisa mempertahankan hubungan kami, karena apa yang kami lakukan nggak salah. Ai mendukung hubungan Kakak, kan?"
Ai mengangguk.
"Bagus itu baru adik Kakak. Udah ya... Kakak mau pergi siran dulu," kata Raka, kemudian melangkah ke luar. Di dekat tangga, dia bertemu Oti yang baru bangun. Beberapa saat lamanya keduanya hanya saling memandang.
"Lo mau siaran?" tanya Oti.
Raka mengangguk.
"Berapa lama?" tanya Raka.
__ADS_1
"Gak tau. Mungkin kami akan nginap di sana. Soalnya saudara Mama kan banyak," kata Oti.
"Baiklah. Hati-hati aja," kata Raka.
"Thanks... lo juga. Jangan bikin masalah dengan Papa semakin besar," pesan Oti.
Oti melangkah menuju dapur Saat melewati Raka, tiba-tiba cowok itu memegang tangannya.
"Ot..."
"Ada apa?" tanya Oti.
__ADS_1
"Nggak. Gue pergi dulu," kata Raka.
Oti mengangguk. Raka kemudian meneruskan langkahnya menuju pintu depan.