
Esok siangnya, saat Raka baru saja tiba dari kampus, Tante Heni menyanbutnya.
"Kebetulan kamu datang. Ayahmu baru saja masuk ke ruangan dr. Satrio. Katanya hasil tes kalian sudah keluar," kata Tante Heni.
Mendengar itu, Raka bergegas menuju ruang kerja dr. Satrio yang terletak satu lantai di bawah.
"Selamat siang, Dok," sapa Raka setelah mengetuk pintu ruang kerja dr. Satrio. Setelah dipersilahkan masuk, Raka mengambil kursi yang ada dan duduk di samping ayahnya.
"Ada apa, Dok? Bagaimana hasil tes kami?" tanya Raka.
Dr. Satrio menggaruk kepalanya yang sebetulnya tidak gatal, sambil membaca beberapa lembar kertas di hadapannya.
"Pertama-tama saya ingin menyampaikan selamat. Ternyata Victory tidak butuh donor, karena ginjalnya yang tersisa bisa menerima bebannya. Tapi ada yang harus saya bicarakan mengenai hasil tes kalian. Saya tidak tau ada apa, tapi hasil tes ini menyatakan kamu dan ayahmu bukan donor yang cocok bagi Victory," kata dr. Satrio dengan sikap tenang.
"Tidak cocok? Apa maksud Dokter? Apakah kami kurang memenuhi syarat kesehatan?" tanya Raka penasaran.
"Bukan itu. Secara fisik kalian berdua dapat jado donor, jika saja cocok,"
"Cocok? Maksud Dokter?"
"Hasil tes menunjukkan gen Anda berdua berbeda dengan gen Victory. Hal itu membuat kemungkinan ginjal anda berdua dapat menjadi donor bagi Victory semakin kecil," kata dr. Satrio.
__ADS_1
"Berbeda? Bagaimana mungkin? Bukankah kami memiliki hubungan darah denga Oti?" tanya Raka lalu memandang ayahnya.
"Itulah yang sedang saya tanyakan pada ayah kamu. Pak Rudi, anda yakin Victory anak kandung anda? Maaf, bukannya saya ingin mencampuri urusan pribadi atau keluarga anda. Tapi saya perlu memastikan hal ini dari segi medis, karena meskipun keadaan Victory semakin baik, tapi kita tetap harus berjaga-jaga," kata dr. Satrio.
Raka memandang tajam ayahnya. Seperti halnya dr. Satrio, dia pun menunggu jawaban keluar dari mulut ayahnya.
"Mungkin hasil tes itu salah. Dokter bisa mealakukan tes sekali lagi?" tanya Rudi.
"Kami telah melakukan cross check dengan hasil tes di RSCM. Dan ternyata hasilnya sama. Dari segi medis, Victory bukanlah darah daging anda," jawab dr. Satrio tegas. Jawaban yang membuat berbagai perasaan berkecamum di benak Raka.
-----------------
Mendengar hasil tes Oti, Tante Heni tidak bisa menahan isak tangisnya. Apalagi setelah tau Oti bukanlah darah daging suaminya.
"Papa tau Mama nggak akan membohongi Papa. Sudahlah. Walaupun Oti bukan anak kandung Papa, tapi Papa tetap menganggapnya darah daging Papa. Kita telah membesarkannya sebagai anak kita sendiri," ujar Ayah Raka berusaha menenangkan istrinya.
"Lalu hasil tes darah dulu saat Papa mendonorkan darahya pada Oti?" tanya Tante Heni.
"Menurut dr. Satrio, tes darah saat ini tidak dapat dijadikan patokan mengenai hubungan darah seseorang. Di dunia ini sekitar satu banding lima kemungkinan dua orang punya golongan darah yang persis sama. Tapi tidak ada dua orang yang mempunyai susunan gen hampir sama, kecuali mereka memiliki hubungan darah. Jadi mungkin saja Papa punya golongan darah yang sama dengan Oti," jawab ayah Raka.
"Apa ini hukuman atas perbuatan kita dulu atas Mas Ardi?" tanya Tante Heni.
__ADS_1
"Jangan katakan itu. Dulu kita melakukan hal itu karena keadaan. Tidak ada niat sedikit pun untuk menyakiti suamimu. Papa kiraa Ardi akan mengerti. Dia juga tidak mungkin membuat anaknya sendiri menderita," hibur ayah Raka.
"Kalo begitu, biar Mama saja yang menjadi donor," kata Tante Heni mantap.
"Tidak bisa. Mama dengar sendiri kata Dokter Satrio. Akan sangat berbahaya kalo Mama jadi donor," larang papa tegas.
Tante Heni kembali menangis di pelukan suaminya.
"Mama harus tabah. Mungkin ini takdir yang maha kuasa. Kita sebagai manusia hanya bisa menerimanya," kata Papa lirih.
"Ka, jadi Kak Oti bakal hidup dengan satu ginjal?" tanya Ai yang duduk di dekat Raka, beberapa meter dari ayah-ibu mereka.
"Kecuali mendapatkan donor pengganti. Menurut dokter Satrio, walaupun kemungkinannya kecil, bisa saja Oti mendapatkan donor ginjal dari orang yang nggak punya hubungan darah sama sekali. Walau tidak sesempurna dibandingkan dengan yang mempunyai hubungan darah, tapi asal tubuh penerima dapat segera beradaptasi, maka tidak ada masalah. Hanya saja, kemungkinannya memang sangat kecil."
"Sangat kecil?" tanya Ai kaget.
Raka mengangguk.
"Mungkin nanti setelah usia Ai dan Dio cukup, bisa jadi donor ginjal bagi Kak Oti, ya?" tanya Ai lagi.
"Bisa aja. Tapi apa Kak Oti mau menerima donor dari Ai atau Dio? Kak Oti sangat sayang pada kalian. Dia pasti nggak mau kalian berkorban untuk dia, lagi pula kondisinya semakin baik."
__ADS_1
"Kasihan Kak Oti," gumam Ai.
"Ya. Tapi paling nggak, ada hikmah yang dapat dipetik dari kejadian ini," kata Raka sambil menerawang ke depan, seperti ada sesuatu yang dipikirkannya.