Victory

Victory
Bab 10


__ADS_3

Raka sedang duduk di sudut lobi radio Qly, ketika melihat seseorang yang dikenalnya memasuki lobi.


Ajeng? batin Raka. Cewek berambut panjang yang baru memasuki lobi itu keliatan bingung. Matanya merambah ke sekeliling ruangan, mencari sesuatu. Lobi radio Qly emang sepi karena sekarang jam istirahat. Bahkan mbak resepsionis yang ada di depan ruangan pun nggak ada.


Raka segera menghampiri Ajeng yang masih berdiri di depan lobi.


"Ajeng..."


Mendengar namanya dipanggil, Ajeng menoleh. Sejurus kemudian cewek itu mengerutkan dahi, dia mengenal Raka sebagai kakak kelasnya, walau nggak begitu deket.


"Kok bengong sih? Raka, anak kelas XII IPA 1," ujar Raka sambil megulurkan tangan. Ajeng membalas uluran tangan Raka.


"Ada keperluan apa ke sini, Jeng?"


Suara Raka begitu lembut, beda saat dia bersama teman-temannya. Ajeng merasa pernah mendengar suara itu sebelumnya, tapi dimana?


"Eh, ini... di sini tempat jual tiket konser 'Qlyvaganza Parties', kan?" tanya Ajeng.


"Iya sih? tapi... Eh, kamu mau nonton acara itu?"


"Bukan Ajeng, tapi adik Ajeng. Dia yang pengin nonton,"


"Oooo" mendengar jawaban Ajeng, Raka hanya mengangguk.


"Belinya di mana?" tanya Ajeng lagi.


"Ya sebetulnya di sini. Tapi yang jual tiketnya kebetulan lagi gak ada tuh," kata Raka.


"Kok bisa begitu sih?"


"Biasanya setiap hari sih ada. Tadi pagi juga kayaknya masih ada. Gak tau sekarang ngilang ke mana. Lagi makan kali. Kalo mau tungguin aja," kata Raka lagi.


Ajeng hanya menggigit bibir bawahnya. Wajahnya yang putih basah karena keringat.

__ADS_1


"Kamu dari sekolah?" tebak Raka, melihat seragam yang masih dipakai Ajeng.


"Iya. Dari latihan paskibraka di sekolah, Ajeng langsung ke sini."


"Pantes kamu keliatan capek gitu. Kenapa gak adik kamu aja yang beli sendiri?"


"Dia nggak bisa. Makanya nitip ke Ajeng," jawab Ajeng.


Raka nggak bertanya lebih lanjut. Dia ngajak Ajeng duduk di lobi. Beberapa karyawan dan penyiar Qly FM yang kebetulan lewat tersenyum penuh arti pada Raka.


"Raka, lima belas menit lagi siaran!"kata Dewo yang kebetulan lewat di depan Raka. Dasar sirik! Nggak bisa liat orang seneng sedikit aja! gerutu Raka dalam hati.


"Iya, mas..." jawab Raka sedikit dongkol. Dewo sempat melirik ke arah Ajeng sambil tersenyum. Walau usianya udah mulai menginjak kepala tiga dan sudah punya bini, tapi cewek secakep Ajeng, mubazir kalau nggak diperhatiin bener-bener.


"Kamu penyiar?" tanya Ajeng sambil memandang Raka kagum.


"Cuman freelance. Buat nambah-nambah uang jajan."


"Kamu sering ngedengerin Qly?"


"Adik Ajeng. Hampir setiap hari. Jadi kalo Ajeng di rumah, kadang-kadang ikut ngedengerin juga. Nickname kamu Squall, ya?"


Raka nggak menjawab pertanyaan Ajeng. Dia hanya memandang cewek itu. Setiap penyiar Qly punya nickname atau nama samaran saat siaran. Katanya sih biar lebih akrab dengan pendengar. Dan nama samaran Raka adalah Squall, yang dia ambil dari tokoh dalam game Final fantasy favoritnya. Setiap penyiar nggak boleh ngasih tau nama samarannya ke pendengar kalo nggak perlu.


"Iya, kan?" desak Ajeng.


Raka hanya mengangguk pelan.


"Berarti kamu penyiar favorit adik Ajeng. Dia paling suka Squall," kata Ajeng gembira.


"Wah..." Raka jadi salah tingkah. Dia hanya dapat menggaruk-garuk kepalanya yang nggak gatal.


"Gak nyangka ternyata Squall anak SMA 14 juga," kata Ajeng.

__ADS_1


"Apa tuh KQ?" Lho, kok Ajeng malah balas bertanya?


"Kanca Qly. Semacam fans club untuk para pendengar Qly. Biasanya setiap minggu mereka mengumpul di sini, atau ngadain kegiatan," kata Raka menerangkan.


"Kayaknya nggak tuh," kata Ajeng.


"Kenapa?"


Kali ini giliran Ajeng yang nggak menjawab pertanyaan Raka.


-----------


Oti lagi main futsal di lapangan basket sekolah bareng cowok-cowok kelasnya ketika Ticka memberi tanda dari pinggir lapangan.


"Ada apa?" tanya Oti sambil mendekat ke pinggir lapangan. Di dekat Ticka ada Dea, temen sekelas mereka. Napasnya kedengaran naik turun, kayak abis lari maraton. Saingan sama Oti yang juga ngos-ngosan.


"Gawat, Ot! Kamu harus cepet datang...," kata Dea sambil berusaha mengatur napas.


"Ada apa sih?"


"Rika... dia lagi dikerjain sama Fiesta!"


"Dikerjain? Emang gara-garanya kenapa?"


"Gak tau. Tadi las Dea lewat, Rika sedang dikelilingi anggota Fiesta di kantin. Dea lihat rambut Rika sampai ditarik-tarik. Kasian banget. Kayaknya dia mau nangis. Karena itu Dea cepet-cepet cari kamu!"


Mendengar laporan dari Dea, hati Oti jadi panas.


"Kayaknya gue sekali-sekali harus ngasih pelajaran ama cewek-cewek borju kayak mereka."


Tanpa pikir panjang Oti langsung ladi ke arah kantin di belakang sekolah.


-----------

__ADS_1


__ADS_2