Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 10


__ADS_3

"Siapa lu?!" Kening Tara berkerut dalam mengamati. "Ngapa lu pake motornya Austin?" Hingga nama lengkap sahabatnya itu ia pakai, demi membuat sosok pria di depannya mengerti siapa yang dimaksudnya.


Pria dengan kacamata bening berambut pekat itu tersenyum tipis. Kemudian melangkah sedikit ke dalam, menuju satu sisi dinding bengkel di mana sebilah cermin bulat terkait di bagiannya, lalu mulai mengamati dirinya sendiri melalui bayangannya di cermin tersebut. Ia tersenyum seraya menggilir kepalanya ke kiri dan kanan, mengoprek sedikit bagian atas rambutnya, kemudian bergumam, "Cakep juga kerjaan kodok ijo."


Dari belakang tubuhnya, Tara menelisik. Disapunya tubuh pria itu mulai dari atas kepala hingga ke ujung sepatunya. "Bukannya ini pakean yang dipake si Bule tadi?" Ia bertanya lebih pada dirinya sendiri.


Kini tangannya ia lipat di depan dada, dan mulai mengingat-ingat percakapan terakhirnya dengan Austin siang tadi. Molly ... mo bikin muka gua tambah ketceh ....


Kata-kata itu persis diingat Tara.


Kemudian ditatapnya kembali sosok yang setara tinggi dengannya itu. Rambut hitam klimisnya yang dipaut rapi ke belakang, juga kacamata bening bertungkai hitam yang menimpal sepasang matanya.


Dan ....


"Le!!" Ia terperanjat, lalu dengan cepat membalik tubuh pria kacamata itu menghadap ke arahnya. "Ini beneran elu?!" seru Tara nyaris tak percaya. "Mata lu juga berobah warna?! Ada sekutil tahi lalet juga di pipi lu! Lu apain muke lu, Le?!"


Keras suaranya memicu pandangan para pengunjung di bengkel itu, juga para pegawainya.


"Berisik lu!" Austin menepis kedua tangan Tara di pundaknya. Lalu berlari menaiki tangga menuju bangunan di atasnya, sebelum orang-orang itu berkerumun melontarkan ke-kepo-an mereka terhadap perubahan yang baru saja dibuatnya.


Tara mengikutinya di belakang. Tak peduli tubuhnya bermandi peluh juga coreng-moreng hitam hasil lukisan oli yang tak sengaja terpoles di hampir seluruh baju, lengan, bahkan hingga ke wajahnya.


"Lu ngapain bikin komuk pirang lu jadi kayak gitu, Le?!" Tara tentu perlu tahu hal itu.


Kini keduanya sudah berada di dalam kamar Austin.


"Lu bakal tau juga nanti," sahut Austin ringan saja.


Namun justru semakin mempertebal kernyitan di wajah Tara. "Lu bacod ngapa! Susah amat!"


Austin baru saja membaluti tubuhnya dengan sehelai t-shirt putih bergambar lumba-lumba di di bagian depannya, yang lalu ditimpalnya dengan kemeja hitam berlengan pendek yang dipasang asal-asalan--tak dikancingkannya. "Buat nipu cewek, Tar!" sahutnya kemudian. "Puas lu?!"


Tara sedikit terkejut dengan alasan konyol itu. "Nipu cewek?" ulangnya. "Cewek mana sih, Le, ampe bikin lu sinting kayak gini?!"

__ADS_1


"Pan uda gua kata kemaren," sergah Austin cepat. "Bekasan-bini-orang!" lanjutnya menegaskan dengan ejaan seolah mengajari anak PAUD yang masih ngeces.


Tara semakin gagal paham menanggapi. Terlihat ia menggaruk kepalanya yang berkeringat dan mungkin benar-benar gatal, membuat ikatan rambut gondrongnya bergoyang-goyang kepusingan. "Heran gua. Gak biasa-biasanya lu lebay kek gini."


"Nanti lu paham." Sebotol parfum dengan kemasan kaca bebentuk hexagon dengan tutup kecil terang keemasan namun serupa, disemprotkan Austin ke tubuhnya berkeliling, memendar aroma menyengat yang cukup manis jika tercium dalam tiga menit kemudian. "Gua cabut, Tar!" tutupnya seraya menaruh parfum itu ke tempat asalnya di tengah meja.


Terasa kehabisan kata untuk menimpal atau bertanya lagi, Tara hanya terdiam berkacak pinggang dengan tampang bingung menatap punggung Austin yang mulai menjauh dari hadapannya.


"Bodo lah! Serah lu aja dah, Le!"


...****...


Sebuah tas plastik berisi kue tart berbentuk hati seukuran dua kali telapak tangan dewasa, ditenteng Austin penuh semangat. Tapak demi tapak kakinya ia jejakkan di jalanan berundak menuju rumah seng yang ditempati Jasmine.


Suara teriakan anak-anak yang berenang di arus deras itu mulai terdengar mendekat di telinga Austin, yang itu berarti semakin dekat pula jarak rumah yang ditujunya.


Namun setelah pintu itu terlihat, Austin malah terdiam di tengah turunan menatapinya dengan semilir rasa ragu yang tiba-tiba menyergapnya.


Suara itu membuat Austin terperanjat menoleh refleks ke belakangnya. Ibu yang waktu itu, kata hatinya. "Uh, ini, Bu. Saya cari Jasmine," ungkapnya jujur seraya membetulkan sedikit tungkai kacamata yang dikenakannya. Dan nama gua bukan Otong, hati Austin menghardik.


"Oh! Jasmine lagi ke warung atas. Bentaran juga balik." Si ibu memberitahu.


"Oh, iya, Bu. Gak apa. Saya tunggu aja."


"Iyedah." Kepala dengan rambut kriting sebahu itu terlihat meliuk mengamati Austin. Telapak kanan tangannya nampak menggenggam sebuah ponsel keluaran lima tahun lalu. "Lu dari mane, Tong? Perasaan ... Ncing baru liat lu kemari?"


"Iya, Bu, saya dari Pusat. Ada perlu sama Jasmine."


Ibu itu manggut-manggut. "Hmm ... salut gue, si Jasmine kedatengan laki cakep-cakep bener dari kemaren."


Dan Austin justru terperanjat karena pernyataan itu. "Maksud Ibu--"


"Panggil Ncing aje!" sergah ibu itu cepat.

__ADS_1


"Ah, iya. Ncing!" Austin mengangguk menyetujui. Sesuatu menuntunnya untuk kembali naik ke atas untuk menghampiri wanita paruh baya berkolor ijo tersebut. "Maaf, Cing. Emang laki yang dateng kemari nemuin Jasmine, banyak?" tanyanya tiba-tiba terpancing.


"Kagak juga, sih!" sangkal si Ncing. "Tempo lalu ada atu. Modelannya bule. Cakep bener dah!"


Pikiran Austin sigap bekerja. Ia tersenyum karena jelas menyadari, bahwa bule yang dimaksud si Ncing tersebut adalah dirinya sendiri. "Selain tu bule, kagak ada lagi, Cing?"


"Seingat Ncing, kagak deh!"


Austin memaut napas lega. Sesaat ia menelisik wanita paruh baya itu, sampai sebuah ide muncul di kepalanya. "Umm ... Ncing, boleh gua menta nomor hapenya?"


Si Ncing mengernyit menanggapi. "Nomor hape gua? Buat ape?"


"Buat jaga-jaga aja, Cing. Sapa tahu Jasmine mao lahiran. Ncing pan bisa tilipun gua buat menta bantuan."


Sesaat si Ncing berpikir. "Bener juga, lu!" Lalu tanpa banyak berpikir lagi, wanita itu memberikan nomor ponselnya pada Austin.


Selanjutnya seraya menunggu Jasmine, keduanya mulai membicarakan banyak hal--tentang Jasmine, yang cukup membuat ekspresi Austin sedikit tercenung, miris menanggapinya. Namun tak sesiur pun informasi terhubung dengan masa lalu Jasmine bersamanya.


Detik berikutnya, Jasmine muncul dari arah belakang rumah si Ncing dengan sekantong kecil belanjaan di tangannya. "Cing!"


"Jas!" Si Ncing terperanjat kaget menolehnya. "Elu ... ude balik?"


Jasmine mengangguk singkat. Pandangannya lalu jatuh pada pria berkacamata yang berdiri di samping si Ncing. Ia tersenyum tipis sebagai ganti menyapa. "Permisi, Cing." Kemudian melanjutkan langkahnya menuruni tanjakan di depannya.


"Jasmine tunggu!"


Langkah Jasmine terhenti, lalu menoleh ke arah si pemanggil. Ia mengernyit terheran menatap pria itu. Kenapa pemuda itu tahu namanya? Sekiranya begitu isi hatinya.


Austin mengarahkan gestur 'OK' pada si Ncing, menggunakan jempol dan ibu jari yang dihubungkannya, lalu melanting menghampiri Jasmine yang masih terpaku di tempatnya.


"Gak usah bingung gitu. Kita udah ketemu berkali-kali!" ungkap Austin jelas mengerti isi hati dan pikiran Jasmine. "Ayo ngobrol di rumah kamu!"


Jasmine tertegun. Sesaat ia mendongak menatap si Ncing yang ternyata malah senyum-senyum saja seraya mengangkat jempol ke arahnya. "Dia bukan orang jahat, Jas!"

__ADS_1


__ADS_2