Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 14


__ADS_3

Tentang Tara


Serimbun pohon kamboja dengan bunga-bunga berserak jatuh di bawahnya, cukup menghalau sinar matahari yang menyorot tegak ke arah Tara yang terjongkok di depan sebuah pusara pemakaman umum di ujung kota.


Ia tengah khusyuk menziarahi makam seseorang di tempat itu.


Terlihat setelah cukup dengan barisan do'a-do'a yang dipanjatkannya, telapak tangan Tara beralih merayap mengelus-elus batu nisan dengan goresan pena membentuk nama ibunya tersebut--SRI KEMALA, yang meninggal tepat di hari ulang tahunnya delapan tahun lalu.


Kini usia Tara menginjak angka 29, satu tahun lebih tua di atas Austin, yang itu berarti, ibunya meninggal tepat di ke-21 tahun usia Tara saat itu.


Sekonyol dan seceria apa pun pria itu, tetap dia hanyalah manusia dengan hati merah yang peka terhadap rasa kehilangan.


Nisan yang disentuhnya seakan melahirkan sugesti spontan yang menyentak ulu hatinya. Bayangan wajah teduh sang ibu tiba-tiba berkelebatan memenuhi kepalanya. Itu adalah bentuk kerinduan, Tara menyadari.


Namun hati tetaplah hati, selalu peka dengan keadaan. Tara tak lagi bisa menahan lelehan air yang menetes titik demi titik dari bening matanya.


"Tara kangen Ibu," ucapnya getir, lalu dikecupnya nisan itu sedalam kasihnya terhadap pemilik batu nisan itu tersebut.


"Kalo batu nisan bisa gue ajak ngomong, gue bakal kemari saben ari!"


HEH!!


Suara itu cukup membuat Tara tersentak. Dengan gerak cepat lelaki itu menoleh ke belakangnya.


Nggg ....


"Siapa lu?" tanya Tara seraya menyeka kasar basahan di pipinya, lalu bangkit berdiri.


Seorang gadis, dengan kaos oblong abu-abu berlengan panjang, dipadu celana jeans sobek-sobek di sekitaran lututnya. Sepasang kakinya di alas sepatu putih bertali yang mungkin sudah dua hari tak dibasuhnya. Rambut panjangnya ia ceploskan ke dalam lubang topi ber-pet di belakang kepalanya.


"Gue cuma liwat aja!" sambar gadis itu ringan saja. Terlihat kepalanya melongok ke arah batu nisan yang kini di belakangi Tara. "Sri ... Ke-ma-la. Wafat di usia ke 46 tahun," ia membeberkan tulisan di nisan tersebut. "Mak lu?" tanyanya kembali mengalihkan wajahnya ke arah Tara.


Tara membeliak sebal. "Apa urusan lu?"


Gadis dengan tinggi badan nyaris setara dengannya itu tersenyum. Sekilas matanya melirik batu nisan, lalu kembali menyorot Tara. "Gak ada, sih!" kilah gadis itu cengengesan. "Angin tadi bisikin gua. Gini katanya, 'hey, jalan ke arah sana! Lu pasti dapet pemandangan ajaib'," kelakarnya receh. "Eh, nyampe di mari, ternyata adi abang-abang tamvan nyang lagi mewekin kuburan." Laju terkekeh kegelian.


"Asem lu!" Tara menghardik. "Gua kagak mewek, hoy!" elaknya tak terima--lebih kepada menutupi perasaan malunya sendiri.


Dan gadis itu jelas menangkap. "Serah lu, dah!" katanya. "Mudah-mudahan dua detik kemudian, tu kuburan mau njawab bacotan lu, yak!" Ia geleng-geleng dengan senyuman mengejek, lalu melenggang mendorong kembali sepeda bututnya, begitu saja meninggalkan Tara.


"Hoyy! Lu nyablak seenak udel olok-olok gua! Sekarang cabut kagak pake akhlak!" Tara berseru dongkol.


Mencapai jarak sekian meter, di atas tunggangan sepedanya, gadis itu menoleh Tara seraya menjulurkan lidahnya, lalu tertawa. "AKHLAK GUA BENTUKNYA DUIIITT!!" balasnya berteriak, kemudian mengayuh cepat sepedanya melewati celah demi celah tepian kuburan yang berjejer, menuju arah keluar area.


"Sakit jiwa tu cewek!" cebik Tara geleng-geleng.


****


Tak seperti Austin yang lebih menyukai motor, Tara memilih mobil sebagai sarana transportasinya. Mobil berjenis sedan itu bukan milik sahnya secara pribadi saja, melainkan cicilan rembukan antar dirinya dan juga si Bule itu tentu saja.


Bukan kakak beradik, bukan sepupu dengan buyut yang sama, bukan satu golongan dari jenis darah serupa, bukan siapa-siapa!

__ADS_1


Meski dilirik dari segi mana pun mereka jauh berbeda, juga sikap dalam komunikasi yang terkesan asal cablak ... itu tak mengubah apa pun pada hubungan keduanya. Dua dalam satu!


Kedekatan Tara dan Austin, melebihi chemistry antar saudara yang lahir dari rahim yang sama.


"Uda lama, Le?!" Tara menghempaskan tubuhnya pada salah satu kursi di mana Austin sudah terduduk santai di sebelahnya--di sebuah resto dengan nuansa Sunda.


"Baru sedetik," Austin menyahut sekenanya.


"Sedetik pala lu!" hardik Tara seraya meraih cangkir berisi Americano milik Austin. "Kopi tinggal setetes begini!" Yang lalu dihentaknya kembali ke hadapan Austin.


"Berarti otak lu masih jalan!"


Tara mendelik. Sebuah korek gas dilemparnya ke arah Austin. Namun pria bule itu nampak tenang saja dengan ponsel yang dimainkannya--tak menggubris. "Serius amat lu!"


"Diem, Tar! Gua lagi godain calon bini."


"Jih, Lag--"


🎼 🎼 🎼


Oh, hush, my dear ... it's been a difficult year


And terrors don't prey on, innocence victims


Trust me, Darling ... trust me, Darling


It's been a loveless year


I'm a man of three fears


Trust me, Darling ... trust me, Darling


So look me in the eyes


Tell me what you see ...


Perfect paradise, tearing at the seams


I wish i could escape,


I don't wanna fake it


Wish i could erase it


Make your heart believe ....


But i bad liar ... bad liar ...


Now you know ... now you know


I'm a bad liar ... bad liar ....

__ADS_1


Now you know ... you're free to go!


🎼 🎼 🎼


Song by; Imagine Dragon ~ Bad Liar


Mulut dan telinga Tara seolah terkunci. Bait demi bait lagu yang didendangkan seorang wanita pengamen dengan gitar bolongnya benar-benar seperti membawa Tara pada sejuknya udara pantai, atau lembutnya terbaring di atas awan--jika bisa.


Benar-benar smooth di telinga pria itu.


Lembut mendayu seperti angin sepoy mengiring gerimis kecil di padang savana. Ia sama sekali tak peduli dengan makna lagu yang dinyanyikan wanita pengamen itu, yang sebenarnya penuh perasaan mendalam.


"Ngapa lu, Tar?" Sudah sejak tadi Austin memerhatikan sahabatnya itu--hanya menggunakan bola matanya saja.


Tara masih tunduk pada gemingnya.


Mata, telinga dan hatinya masih terikat pada sejurus suara merdu yang masih belum menyelesaikan bait lagu juga petikan gitarnya, di tengah ruangan dengan posisi membelakanginya.


Kini Austin ikut tertarik untuk mengikuti kemana wajah Tara terarah. Hmm .... "Lu demen sama lagunya, apa orangnya, Tar?" Karena bentuk body tinggi dengan jaket jeans milik si pengamen bertopi itu cukup lumayan walau terlihat dari belakang, pendapat Austin sebagai seorang player terang saja.


"Suaranya, Le ... ampun gua ... lembut banget." Mulut Tara berkomat-kamit menjawab pertanyaan Austin dengan eskpresi bego, tersenyum-senyum kagum. Namun matanya tetap fokus pada si pengamen yang kini terlihat mulai berkeliling menyodorkan plastik bekas kemasan permen sak itu, meja ke meja.


Austin hanya menggedik bahu menanggapi. Tapi ia tahu, lagu apa yang tadi dinyanyikan pengamen tomboy itu sesaat lalu. Lumayan sedap, komentar hatinya.


"Le, dia kemari, Le!" Dengan ekspresi kelojotan riang, Tara memukul-mukul lengan Austin dengan ritme cepat.


"Apa sih, lu?!" Austin menepis tak kalah kasar tangan si Tara di lengan atasnya disertai wajah kesal.


"Gua pinjem duit lu dulu sini! Gua gak pegang duit cash!" Kini telapak tangannya berganti menadah tepat di depan wajah Austin.


"Bakal apaan?" Austin bertanya risih.


"Ngasih tu pengamen lah, Le! Elah ... cepet--"


"Permisi ...."


Ngok!


Kedua pria itu sontak menoleh ke arah plastik yang telah terbuka di depan mereka, lalu mendongakan kepala melihat pemilik benda itu secara bersamaan.


Dan ....


"ELU!" seru Tara dan pengamen itu serempak dengan wajah sama-sama terkejut.


...*****...


Kisah Tara dan cewek itu akan jadi pelengkap nantinya, ya ....


So, stay tuned!


Oya! Kasi Bintang dukungan dong, Sayang. Melalui dukungan kecil kalian. Biar Bintang cemungud nulisnya.

__ADS_1


Berupa; Tap favorite, like, positif komen, gift, and vote.


Gratis kok! Hehe. 😍🥰😘


__ADS_2