Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 17


__ADS_3

Jasmine baru saja meraih alam sadarnya. Sepasang matanya ia buat mengerjap secara berulang.


"Ada di mana aku?" Ia bertanya pada dirinya sendiri. Dilirik sebuah jam weker yang terduduk tenang di meja di dekatnya. Pukul 05.30.


Pagi atau petang? Jasmine bertanya dalam hati. Dan tempat ini?


Dilihat dari sisi mana pun, ruangan itu adalah sebuah kamar. Ranjang dengan kasur empuk yang ditidurinya, lemari tiga pintu di sudut ruangan, sebuah sofa di ujung kiri dekat jendela, televisi tiga puluh inci tertempel di dinding sejajar dengan hadap ranjang, pernak-pernik hiasan juga foto keluarga di sebuah meja, juga pintu kamar mandi di sudut paling kanan ruangan.


Sebuah ruangan kamar yang cukup mewah.


Jasmine jelas kebingungan. Siapa yang telah membawanya ke tempat ini?


Dan pertanyaan itu pun terjawab setelah pintu di seberang posisinya terbuka secara perlahan.


"Nona sudah sadar?" Seorang wanita muda, dengan nampan kecil di tangannya, tersenyum ceria mendekat ke arah Jasmine.


Mendapati itu, hanya senyuman kaku yang diperlihatkan Jasmine. "Maaf, ini ... di mana?" Ia memberanikan diri untuk bertanya, dan itu jelas perlu diketahuinya.


Wanita muda yang mungkin lebih muda darinya itu lagi-lagi tersenyum. Nampan berisi semangkuk bubur juga segelas susu yang masih mengepulkan asap itu ditaruhnya di meja dekat si jam weker berada. "Nona berada di--"


"Di rumahku!"


Seorang wanita tua dengan sanggul apik juga tongkat di tangannya, memungkas jawaban wanita muda tadi. Ia baru saja masuk ke dalam ruangan.


Dua pasang mata milik Jasmin dan wanita muda di sampingnya serentak menoleh ke arahnya.


"Nyonya." Dengan gerak hormat, wanita muda yang ternyata adalah asisten rumah tangga itu, menyambut kedatangan wanita tua yang mungkin--majikannya.


Usianya mungkin lebih dari enam puluh tahun.


"Teruskan pekerjaanmu," kata wanita tua itu memerintah.


"Baik, Nyonya. Saya permisi."


Sesaat kemudian, selepas asisten rumah tangga itu berlalu dari ruangan ....


"Siapa namamu, Nak?" tanya wanita tua itu pada Jasmine, ia mengambil posisi duduk di tepian ranjang--menatap Jasmine ingin tahu.


"A-aku ... Jasmine, Nyonya. Namaku Jasmine," akunya jujur.


Wanita tua itu tersenyum. "Jasmine," ulangnya. "Nama yang cantik."


"Terima kasih." Jasmine masih menunduk. Merasa tak nyaman berada di posisinya saat ini.

__ADS_1


"Makanlah dulu, Nak. Setelah itu, baru kamu bisa cerita apa yang terjadi sama kamu, sampai kamu jatuh pingsan di tepi jalanan semalam." Dengan lembut, wanita tua itu mengelus kaki Jasmine yang berselonjor di samping tubuhnya. "Tenang aja. Jangan takut. Oma bukan orang jahat."


Ingatan Jasmine kembali tercubit oleh bayangan potret Austin di kartu identitas itu. Air matanya kembali terjatuh tanpa terasa.


Dan wanita itu jelas bisa menangkap. "Sepertinya masalahmu cukup pelik, Nak."


Wajah tua dengan kerutan di sekujurnya itu ditatap Jasmine spontan. Kedua matanya bergilir mengamati. Ia sama sekali tak bisa melontarkan jawaban apa pun. Bingung untuk bercerita.


"Ya sudah. Makanlah dulu. Setelah itu kamu mandi. Baru kita bisa bercerita santai di taman belakang setelah ini. Itu pun kalau kamu sudah merasa baikan."


****


Sesuai permintaan wanita tua itu, kini ia dan Jasmine berada di sebuah kursi taman dengan meja kayu di tengahnya. Dua cangkir teh tertata apik di masing-masing hadapan.


"Jadi ... kamu ninggalin anak kamu di rumah sakit cuma gara-gara lelaki itu?!" Suara itu jelas bernada terkejut.


Dengan isak tangisnya Jasmine mengangguk.


Ia baru saja menceritakan kisah hidupnya pada wanita tua yang telah menolongnya dari jalanan semalam, tanpa sensor.


Oma Lissa, wanita tua itu meminta Jasmine memanggilnya demikian.


"Iya, Oma."


"Tapi aku ...."


"Jasmine, Sayang ... banyak orang tua yang menginginkan kehadiran seorang anak di tengah-tengah mereka, Nak. Namun kadang sulit. Para wanita bahkan harus melakukan banyak hal supaya bisa mengandung. Tapi kamu yang sudah dianugerahi dengan sangat mudah, kenapa kamu sia-siakan?" tutur Oma Lissa sangat menyayangkan.


Jasmine semakin terisak dibuatnya. Kini tergambar dengan jelas, wajah mungil dengan hidung lancip dan bibir merah itu di pelupuk matanya.


Lily .... Anakku ....


"Apa sehabis kamu mencampakkan anak itu, kamu masih bisa menjamin akan mendapatkan anugerah itu kembali suatu hari nanti? ... Gimana kalo tiba-tiba rahim kamu bermasalah atau semacamnya, Nak? Lalu kamu gak bisa mengandung lagi?!" cecar Oma Lissa semakin menohok.


Terasa dihempas keras ke dalam sebuah lubang berisi api yang berkobar, Jasmine merasakan sesak yang luar biasa di sekujur dadanya.


Terlalu egois! Kesalahan orang tuanya, kenapa Lily yang harus menerima akibatnya?


Benar, ia telah bersalah, Jasmine mengakui akhirnya.


Dengan buraian air mata penyesalan, ia mengangkat kepalanya memberanikan diri menatap wanita tua di hadapannya. "Aku mau jemput anakku lagi, Oma!"


Dari teduhnya wajah keibuan milik Oma Lissa, tersirat kelegaan tanpa tipu daya. Ia tersenyum menanggapi kalimat Jasmine. "Biar Oma antar, Sayang."

__ADS_1


****


Dengan langkah cepat yang terkesan dipaksakan, Jasmine menapaki halaman rumah sakit ditemani Oma Lissa yang mengekor nampak tenang di belakangnya.


"Hati-hati, Nak. Kamu bisa terpeleset kalo jalannya seperti itu." Ia mengingatkan Jasmine.


"Aku nggak apa-apa, Oma," kilah Jasmine nampak tak sabar. Kini ia dan Oma Lissa mulai memasuki elevator menuju lantai tiga di mana bayi Lily dirawat sebelumnya.


Jasmine berharap, semoga anaknya masih berada di rumah sakit dan belum dibawa Austin kemana pun.


....


Setibanya ....


"Suster."


Wanita berseragam perawat itu nampak terperanjat melihat kemunculan Jasmine. Kegiatannya yang tengah membereskan ruangan sontak tertunda. "Nyonya Jasmine."


"Anakku mana, Suster?!" tanya Jasmine langsung saja. Oma Lissa sudah berdiri di sampingnya memperhatikan.


Dipulas kernyitan heran di wajah, perawat itu menatap Jasmine terheran. "Anak Anda?" tanyanya mengulang.


"Iya, anakku! Bayi yang kulahirkan tiga hari lalu!" Jasmine berseru menegaskan. "Kamu gak lagi pura-pura lupa, 'kan, Suster?!"


"Ouh, bukan begitu maksud saya, Nyonya!" Perawat itu menyela cepat. "Saya cuma bingung, kenapa Anda tiba-tiba datang menanyakan bayi Anda."


"Cukup! Jangan bertele-tele!" bentak Jasmine meradang.


"I-iya, maaf, Nyonya. Tapi bayi yang Anda maksud, sudah dibawa pulang oleh ayahnya ... Tuan Bennedict, pagi-pagi buta tadi," jelas sang perawat dengan wajah mengernyit. "Wanita ini sepertinya bermasalah," nilainya membatin.


Serasa dihantam palu gada raksasa, Jasmine merasakan sakit luar biasa yang membuat sekujur tubuhnya bergetar tak terkendali.


Dengan sigap, Oma Lissa dibantu perawat itu menahan tubuhnya yang terhuyung ke belakang.


"Jasmine!"


"Anakku ...."


"Sabar, Nak. Kita bisa menyusulnya ke rumah Bennedict, 'kan?" Oma Lissa menenangkan dengan sarannya yang mungkin benar.


Namun Jasmine dengan cepat menggeleng. "Nggak, Oma. Aku gak tahu di mana rumah Benn."


Karena yang diingat Jasmine, alamat yang tertera di kartu mungil milik Austin yang dibacanya, pria itu masih menggunakan identitasnya di Amerika.

__ADS_1


Lalu kemana ia harus mencari?


__ADS_2