Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 26


__ADS_3

"Aku bisa jeblosin laki-laki itu ke penjara."


Komentar yang sukses merebut perhatian Jasmine dari secangkir kopi di hadapannya. Ditatapnya lekat Dayhan yang juga menatapnya penuh keyakinan.


"Kalo emang dia satu-satunya penghalang buat kamu bisa rebut kembali anak kamu," lanjut pria itu lagi, "... toh kasusnya udah jelas, 'kan? Kamu bisa jadi saksi yang kuat dan memberatkan dia!"


Rasanya sedikit mencubit.


Soal Austin ... Jasmine bahkan tak bisa mengkaji perasaannya sendiri. Kocekan sendok di kopinya menariknya untuk tertunduk.


Dulu itu ... iya! Jasmine mengakui.


Iya, dia ingin menghujam jutaan serapah, atau melihat orang yang telah menghancurkan hidupnya, setidaknya mati dikerubungi tawon, terpeleset di lantai dansa hingga membengkok tulang-tulangnya, atau lebih sadisnya ... hilang dimangsa siluman gunung.


Tapi semua berubah arah, setelah ia mengenal Austin--walaupun hanya sekelip mata mereka bermanja, dan hanya sekejap hati mereka berbisik, juga didasari kebohongan, perasaaan itu, nyata telah tumbuh menjadi sesuatu yang begitu dihargainya--jauh di lubuk sana. Bahkan masih terkais hingga kini.


Dayhan bukan pria bodoh yang tak bisa menilai. Ekspresi Jasmine jelas menunjukkan sebuah kebimbangan.


Sepuluh jari tangannya ia kawinkan, lalu digunakannya untuk menopang dagu, dengan kedua sikut tertumpu badan meja. Tatapnya dibuat tajam menelisik. "Atau kamu punya cinta buat dia?"


DEG


Jasmine melengak, menancapkan pandangannya spontan pada Dayhan. Apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan itu?


Tak semua yang dialaminya ia ceritakan pada Dayhan. Termasuk soal hubungan yang pernah dirajutnya bersama Austin. Hubungan yang walaupun singkat dan pada akhirnya jua tergores, namun begitu terasa hangat dirasakannya.


Dalam sesaat, wajah Austin dengan kacamata bulat bening juga rambut hitam klimisnya, senyuman manis bermandi perhatian yang menghangatkannya, juga ... setiap sentuhan dari inci per-inci tangan lembut pria itu ... berkelebat menari-nari di pikiran Jasmine, dan ia masih bisa merasakan setiap desirnya.


"Sepertinya dia penjahat yang spesial buat kamu!"


Lagi-lagi ....


Ucapan Dayhan membuat Jasmine dilanda syok ringan. Ia bahkan lupa, jika pria di hadapannya, juga telah memiliki satu tempat dalam hidupnya saat ini.


"Aku bisa liat dari pancaran mata kamu ... ada cinta di sana." Dayhan menandaskan. "Tapi gimana caranya kamu bisa jatuh cinta sama dia?"


Kali ini Jasmine benar-benar merasa habis. Tampangnya semakin dilumuri rasa tak nyaman.


"Aku .... Aku gak tahu!" Ia menangkis pada akhirnya, seraya membuang wajah.


Itu bukan jawaban yang memuaskan, memang. Tapi Dayhan merasa tak ingin memaksa. "Ya udah, gak usah jawab kalo itu beratin kamu." Diraihnya kedua telapak tangan Jasmine, lalu dikecupnya sekilas. "Aku bakal berusaha hapus kenangan apa pun yang membekas di hati kamu soal laki-laki itu. Sampai cuma ada aku, yang jadi satu-satunya penghuni di dalamnya."


... ***...

__ADS_1


Merasa terkhianati?


Tidak!


Merasa dibodohi?


Juga tidak!


Hanya merasa sedikit terganggu!


Begitu komentar Austin tentang lukisan perasaannya terhadap Jasmine saat ini. Soal kedalamannya, ia pun tak ahli dalam mengukur. Yang ia tahu, perasaannya pada wanita itu--sedikit berbeda, itu saja!


Dan hari ini, Austin membiarkan sosok wanita lain masuk menjadi opsi. Walau sebenarnya akan lebih baik jika Cindy yang ia jadikan mainan untuk setidaknya menemani sebelah kosong tempat tidurnya. Gadis itu walaupun terkesan cuek dan tomboy, tapi cukup manis untuk dibodohi.


Nanti saja!


Masih ada mobil merah milik gadis itu, untuk bisa Austin jadikan ladang kesempatan sebuah pertemuan--kedua kali. Itu pun jika Sigi tak memasang badan menjadi tameng posesif untuk adik perempuannya tersebut.


Bait pesan yang dikirimkan Gaury Berdine dua jam lalu, akhirnya sedikit mendapat perhatian Austin. Telah tak terhitung jumlah pesan, panggilan telepon, juga panggilan video yang dilakukan wanita itu setiap harinya hingga bertumpuk, Austin selalu menanggapi serupa--datar tak terusik.


Tapi kali ini ... sepertinya Austin memang tengah mendapatkan masa jenuhnya sendiri. Atau entah karena moncong Tara yang mengatakan; "Jangan terlalu kejem lu sama tu cewek! Dipelet tau rasa, lu!"


Masa iya karena ancaman klasik semacam itu? Austin mendelik malas. Tara terlalu sinting untuk dibenarkan.


Tapi sekarang ....


Ia hanya merasa ingin saja. Ya, ingin saja!


Untuk keambiguannya ... cukup diam dan simak apa pun yang akan ia terjuni.


 ----


Jalanan cukup ramai di akhir pekan ini. Tiupan angin kemarau yang meliuk, membuat sekitar diseraki dedaunan kering yang terpatah lalu tersebar kemana-mana. Cukup menjadi kerja yang berat untuk para petugas kebersihan.


Austin menghadang udara dengan memacu cepat Ninja-nya untuk segera sampai di tempat yang telah dibagikan Gaury melalui chat-nya.


Pria itu berdandan cukup manis malam ini. Sebuah blazer biru yang lengannya ia gulung sedikit menghampiri sikut, melapisi kaos abu di dalamnya yang ketat. Celana jeans baggy yang mengecil sampai di mata kaki, tersambung sepatu vans hitam bercorak putih yang sangat pas diselaraskannya. Rambut blonde-nya ia sisir klimis ke belakang walau kini masih diselubung besi pelindung.


Itu dia! 👉Austin tampan!


Setengah jam berselang.


Dari jarak sekian meter, tubuh gemulai dibalut slim dress selutut tanpa lengan, dengan warna biru cerah menyala, melambai-lambai tangan ke arah Austin dengan ekspresi seperti menyambut kedatangan tamu negara.

__ADS_1


Austin berjalan gagah menyongsong sambutan, setelah apik memarkirkan motor dan melepas helm-nya di tempat yang sediakan pihak penyelanggara pesta.


"Hay, Aust!" Senyum Gaury merekah lebar. Mata dengan softlens biru senada dress-nya itu, nampak berbinar melihat pria itu akhirnya mau menanggapinya. Terlebih menyanggupi keinginannya menjadi pasangan di dalam pesta ulang tahun yang diadakan salah satu sahabat Gaury sesama model di tempat tersebut.


"Hay!" Sejentik jari Austin menyahut.


Senyuman semanis harumanis ia sunggingkan seraya menyambut uluran tangan wanita itu.


Keduanya lantas berjalan beriringan bergandeng tangan memasuki keramaian pesta.


Ratusan pasang mata menyorot layaknya paparazi. Austin nampak percaya diri, meskipun penampilannya terkesan paling santai dibanding tamu-tamu pria lainnya.


Satu persatu teman disenyumi Gaury sebagai ajang pamer.


"Austin Bennedict!" Seorang gadis menjerit histeris, kala menyadari siapa pria dalam gandengan Gaury.


Ya, pembalap yang terpaksa hiatus, setidaknya begitu. Beberapa pria menghampiri hanya untuk menanyakan kapan Jagoan Motor itu akan turun kembali ke lintasan. Austin hanya menjawab sealakadarnya.


Menit berlalu berganti jam. Acara semakin semarak dan semakin pula sesak seiring tamu yang terus berdatangan.


"Aku ke toilet sebentar!" kata Austin.


"Aku anter, ya?" Gaury menawarkan.


"Gak! Gak usah! Kalo kamu ikut, yang keluar bukan aer pipis!" Austin berkelakar seraya melenggang begitu saja.


Gaury hanya memulas senyuman lucu menanggapi kalimat ngaco Austin.


 


Tuntas beban yang menggunung di kandung kemih Austin. Ia masih terlihat merapikan pakaiannya di depan cermin di dalam toilet.


Sampai ....


"Iya, Oma. Aku gak akan pulang terlalu larut."


Suara dari arah luar itu membuat Austin melengak. "Jasmine," gumamnya. Tentu saja karena terpanggil, ia melanting keluar dengan cepat mengikuti godaan di telinganya.


Dan ya ....


Sosok itu tengah sibuk dengan ponselnya di sudut koridor, seorang diri.


"Jasmine."

__ADS_1


Spontan wanita menoleh, lalu terbelalak. "B-Ben!"


__ADS_2