Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 49


__ADS_3

Kegiatan bermandi gerak erotis semalam, sepertinya cukup membuat susunan tulang-tulang di tubuh Jasmine serasa retak dan terpatah-patah.


Sayu mata khas bangun tidur itu, menyampu sekitar. Mencari-cari sosok yang membuat sekujur badannya, nyaris tak mampu bergerak bebas. Ujung selimut putih diremasnya di depan dada, menginterupsi bagian intim yang menonjol di baliknya, seraya mengangkat perlahan tubuh polosnya untuk duduk.


Dengan rambut terburai acak-acakan, dihelanya kepala ke samping kiri, di mana semalam pria yang dikiranya Austin itu mengambil posisi. Bagian kasur di sebelahnya itu telah kosong. Benedict tak ada di sana.


"Di mana dia?" Jasmine bergumam, lalu mulai memanggil setelah dirasa tak ada pergerakan berarti dalam ruangan itu. "Ben!" Tak cukup kencang. Sejenak terdiam menunggu sahutan. "Kok gak ada?" gumamnya lagi. "Huh, mungkin dia lagi sarapan di bawah." Setidaknya asumsi itu cukup membuatnya tak mencuatkan pikiran buruk terhadap sang pujaan.


Ponsel di atas nakas nyaring berdering tepat ketika ia baru saja menurunkan sepasang kaki telanjangnya ke dasar lantai.


Diraihnya benda itu, menggunakan kanan tangannya. "Ya, Dy!"


"...."


Mendengar lengking suara Kandyla di seberang telpon, Jasmine sontak melirik jam yang tergantung di sudut kanan ruangan. "Ya, Tuhan!" ucapnya terperanjat. "Jam tujuh!"


"...."


"Iya, iya! Aku ke sana sekarang!"


Dengan gegas, Jasmine mengenakan satu persatu busananya yang tercecer di beberapa titik sekitaran lantai, tanpa lagi peduli pada rasa ngilu di seluruh tubuhnya.


Sesaat ia bercermin, merapikan rambut alakadarnya, agar tak terlihat berantakan.


Menangkap selukis bayangan di dalam cermin itu, Jasmine tersenyum menggelitik. Perlahan dirabanya, dua ukuran kecil kiss mark yang terbagi di dua titik berjauhan, hasil karya Andrew di lehernya. "Kamu bikin aku malu, Ben! Aku 'kan mau syuting bentar lagi."


Terhitung dua kali, ponselnya lagi-lagi berbunyi. Dan kali ini, nama Denia terpampang mengisi layar panggilannya. Jasmine tak ingin merespon. Cukup risih mendengarnya.


Ia mengambil langkah gegas, agar tak terlalu membuang waktu.


Namun sebelum pintu ditutupnya, Jasmine bergumam seraya menyapukan tatapnya ke sekitaran ruangan seraya tersenyum-senyum, "Aku kerja dulu ya, Ben. Aku bakal temuin kamu lagi, abis kerjaan aku selesai. Papay, Honey!"


...****...


Sebuah mobil bergerak lebih cepat dari batas seharusnya. Dari rute yang diambilnya, kendaraan itu melaju menuju ke arah Bandara internasional di negara itu.


"Aku harus ke Indonesia. Aku harus memastikan semuanya!"


Andrew Blue Bennedict.


Sejak menyadari jelas siapa Jasmine sebenarnya, ia tak lagi bisa memejamkan matanya semalaman. Hanya ritual mondar-mandir gusar yang dilakukannya di dalam kamar hotel yang menjadi saksi percintaan panasnya dengan wanita yang terlelap di ranjang.


Hingga melewati sepertiga pekatnya udara malam, Andrew mulai memutuskan;


Ia harus pergi, sebelum Jasmine terbangun dan menyadari ketidakberesan yang menimpanya. Gegas tiket pesawat dipesannya, untuk mengambil penerbangan paling cepat menuju Indonesia.

__ADS_1


 


 


Saat ini di tempat Jasmine berada ....


Sudah berjam-jam lamanya, wanita itu terdiam kaku di dalam kamar mandi--merendam diri di dalam bathtub yang penuh terisi air.


"Aku menjijikkan! Aku menjijikkan!" Ia meraung dalam pilu tanpa tandingan. Menghujat sekujur tubuhnya melalui pukulan-pukulan penuh amarah. Tentu saja pada dirinya sendiri.


Menumpahkan segenap rasa dalam bulir air mata yang serasa tak ada habisnya. Menggulung resah, menyesap ketidakpercayaan, menelan kepahitan yang lebih pahit seribu kali lipat dari empedu.


Bukan lagi bentuk frustasi, melainkan ... menanjak makna 'depresi'.


Selepas syuting sore tadi, wanita itu menerima permintaan video call dari Austin--Austin sebenarnya. Kata pertama yang lontarkannya tepat ketika wajah Austin muncul di dalam video; "Hay!" Seraya berdadah-dadah dengan senyum merekah. "Kamu di mana sekarang? Kok keluar kamar gak ninggalin pesan buat aku tadi pagi?"


Mendengar demikian, kernyitan tebal membaluti wajah Austin tentu saja.


"Tadi pagi?"


____


Cerita girang Nimas juga foto-foto yang dikirim Austin padanya, berisi moment jalan-jalan pria itu bersama Lily hari kemarin di Taman Hiburan, semakin memperkuat kenyataan, bahwa yang dikatakan Austin bukan sebuah kebohongan, ia tak pergi menyusul Jasmine ke London sama sekali.


Dan Jasmine ... sikap tololnya yang terlampau senang karena mendapati sosok itu di koridor hotel kemarin, membuat ia melupakan sekecil pertanyaan tentang putrinya tersebut.


Lalu pria yang kemarin itu ... siapa?!


"Ouh, maaf, Ben. Saking kangennya sama kamu, aku sampe kebawa mimpi."


Bait kalimat itu yang Jasmine ucapkan sebagai kelakar untuk mengalihkan kebingungan Austin dalam sambungan panggilan video-nya.


Pria itu tentu saja percaya. Meski setelahnya Jasmine tak mampu lagi menahan tangisnya. Panggilan ditutupnya sepihak setelah berpamitan pada Austin untuk pergi ke kamar mandi.


Dan saat ini ....


"Jas! Jangan kayak gini terus, dong?!" Kandyla mulai kebingungan. Pintu yang tak juga terbuka itu terus digedor-gedornya.


Bersama Denia, ia tak henti mencoba membujuk Jasmine untuk keluar.


"Gimana dong, Mbak Didy?" Denia memperlihatkan putus asanya.


"Gua juga gak tahu, Den!"


Di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Dengan masih berbusana lengkap sisa syuting tadi sore, tubuh Jasmine mulai menggigil. Memeluk rekat lututnya di dalam rendaman air.


Lima belas menit lalu, ia masih meraung-raung terpukul penyesalan. Kegiatan kotor yang dilakukannya bersama pria yang mirip Austin kemarin malam, benar-benar menghempasnya lagi-lagi dalam kubangan kesalahan.


Bagaimana bisa ia begitu ceroboh?


Padahal jelas-jelas ia menyadari ada yang berbeda dari perangai pria itu.


Lelah meratapi, sayu tatapan Jasmine tergerak menyapu sekitar dengan lirikan keruh.


Kran air, tissue golong, berbagai jenis sabun beda fungsi, dan ... semuanya tak ada yang menarik!


Sampai akhirnya ... tatapan putus asa wanita itu jatuh pada air yang tengah merendamnya.


Didukung sugesti sinting yang masuk ke dalam pikirnya, secara perlahan dengan mata terpejam penuh kesiapan, Jasmine menurunkan tubuhnya.


Perlahan ....


Sangat pelan ....


Terasa batas air kini mencapai pertengahan lehernya, terus turun, hingga akhirnya terendam seluruhnya.


Seluruh raga Jasmine telah tenggelam di dalam air dengan posisi telentang. Telapak tangannya rekat memegang tepian bathtub, sampai terlihat urat-urat manis di sekitar ruas jarinya meregang.


Sebisa mungkin ia menahan bobot tubuhnya dan menekan agar tak naik ke permukaan.


Sejenak dibukanya mata, ditatapnya langit-langit ruangan dari dalam air penuh kesakitan.


Lily ... maafin Mama, Nak.


Ben ... maafin aku ....


Aku pergi ....


Lalu kembali mengatupkan matanya. Menendang hasrat untuk menyembul ke permukaan. Saat itu napasnya mulai merasakan sesak yang luar biasa.


Terasa hening, walaupun dari luar pintu, Kandyla terus berteriak menyeru namanya.


Ia akan menutup segala kisahnya mulai dari sini.


Mungkin sebentar lagi, ia akan melihat bagaimana wujud sebenarnya malaikat maut.


Mungkin sebentar lagi, ia akan melihat jasadnya sendiri mengambang di atas air dengan mata melotot.


Pesan dari hati, di antara napas yang semakin menyempit;

__ADS_1


Angin, sampaikan salam terakhirku untuk orang-orang yang mencintai aku.


Katakan pada mereka, bahwa aku ... juga sangat, sangat, sangat mencintai mereka.


__ADS_2