Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 68


__ADS_3

Di antara gemuruh udara malam, di antara kelam yang semakin menyembah kesunyian, rintik-rintik air jatuh berbondong-bondong dari langit seolah mencemooh.


Austin tentu sadar keadaan itu.


Dilepasnya pagutan intim di bibir Cindy untuk sejenak mendongak menatap langit. Ini memang bukan masalah, bercumbu di tengah hujan mungkin akan sangat menyenangkan, tapi ....


Cindy gegas menolaknya dengan melepas diri dari rengkuh pria itu, lalu berlari menuju gazebo bertiang pohon kelapa dekat koleksi anggrek di sudut kiri posisinya saat ini.


"Heleh! Padahal 'kan enak, sambil ujan-ujanan," umpat kecil Austin seraya melihat ke arah Cindy yang tengah naik ke atas gazebo. "Aer ludah campur aer ujan pasti manis asin-asin, lumer rasanya," sambungnya kembali ke mode pe'ak, lalu berlari menyusul Cindy.


"Ngapain kamu tadi bengong?!" cibir Cindy seraya mengusap-usap lengannya yang sedikit basah sesaat setelah Austin sampai di hadapannya.


"Bete'lah! Orang lagi enak-enak, kamunya mabur!" jawab Austin kesal, seraya merangkak ke sudut gazebo mendekati Cindy. "Padahal 'kan manteb sambil ujan-ujanan!"


Cindy spontan menolehnya dilengkapi mata melotot. "Emang kamu udah pernah, Kak?" tanya gadis itu sedikit ketus.


Austin balik menolehnya--tipis saja, lalu tersenyum. "Sampe sini aku gak mau bikin kamu ayan!"


Bingkai mata Cindy melebar seketika. "Kamu tuh kalo ngo--hump!!"


Terpotonglah kalimat hardikan Cindy. Lagi-lagi Austin membekapnya dengan ciuman. Rontaan Cindy justru dimanfaatkannya untuk menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapnya, merengkuhnya, lalu meneruskan apa yang tadi sempat terjeda.


BYUUURRR


Hujan pun turun dengan perkasa. Seperkasa Austin yang terus melancarkan serangan hingga merambat ke jenjang-jenjang yang lebih intim.


Lagi-lagi seperti burung tertusuk panah, Cindy pasrah saja. Tak ada gunanya lagi meronta, di saat bahkan ia pun menikmati sensasi erotis yang dilakukan pria itu terhadapnya.


Jaket rajut yang tadi diterimanya, kini dibuka kembali oleh pria itu. Mengusung kegagahan di tengah kepolosannya yang saat ini tertabrak aliran menyengat yang tercipta tanpa diduga.


Namun ....


"Cindyyyy!!!"


Mencambuk dengan paksa kesadaran Cindy yang tengah asyik dibuai khilaf. Sedangkan Austin masih lalai tak peka dengan sekitar.

__ADS_1


"Suara itu ...." Didorongnya tubuh Austin cepat-cepat, lalu terlonjak. "Abang!" pekiknya menyadari.


Menanggapi kata akhir Cindy, Austin melanting dari posisinya, seraya melongok ke arah villa, kemudian menoleh Cindy lalu bertanya, "Abang siapa?!" tanyanya dengan tampang blo'on.


"Abang aku! Bang Sigi!" jawab Cindy cepat seraya kembali merapikan penampilannya dengan raut cemas.


"Sigi?" Austin cukup bingung menanggapi jawaban itu. "Dia di sini?!"


"Mana aku ta--"


"CINDYYY, DI MANA KAMU?!!!!" Teriakan itu terdengar lagi, terasa lebih dekat dari yang tadi.


Barulah Austin menyadari maksud ucapan Cindy. "Keparat!" semburnya pada udara dengan mata melebar tak percaya.


"Cepet pake baju kamu sebelum Bang Sigi dateng ke sini!" Cindy mengingatkan gelisah.


Walaupun masih tak mengerti kenapa suara Sigi tiba-tiba menggaung di area villa miliknya, Austin mengikut juga apa yang dipinta gadis itu. Dikenakannya kembali hoodie hitam yang sudah dilepasnya tadi demi kelancaran sentuhan-sentuhan erotisnya atas tubuh Cindy.


"Fero!!" Dan itu suara wanita.


"Sial!" dengus Austin. "Cewek itu juga datang ke sini?" Ditatapnya Cindy keruh--menuntut jawaban. Dan gadis itu hanya menanggap dengan gelengan cemas berliput takut.


"Jangan tunjukin tampang kayak maling ayam gitu!" Austin nenghardiknya. "Kamu bikin ekspresi kamu sebiasa mungkin. Jangan sampe mereka sadar kalo kita abis begulat!" terangnya menyarankan. "Padahal blom kelar!" Tersirat jelas kekesalan di wajahnya.


Cindy sudah turun dari gazebo, lalu melangkah ke satu titik tanpa peduli Austin yang terus saja mengumpat. Sebagai pengalihan, ia membuat suasana natural dengan berlagak tengah memainkan satu pot bunga anggrek yang sepertinya belum lama ditanam, di tangannya.


Suara berdebam langkah kaki mengudara semakin dekat. Austin mengawasi melalu gulir bola matanya. Ia duduk dengan tegang di tepian gazebo seraya memainkan ponselnya--nonton bola di yutup. Akting kelas paus!


"CINDY!"


Akhirnya ....


Bastian Sigi Wijaya, pria berwajah oriental itu sudah berdiri di atas jembatan cembung yang memang didesain sebagai penghubung, dari villa utama ke taman buatan tersebut, diikuti Alsy, satu pria berjaket kulit mengkilat--asistennya, juga penjaga villa kepercayaan Austin.


"Abang!" Cindy menyahuti tanpa bisa menyembunyikan keterkejutannya.

__ADS_1


Dengan membawa serta pot berisi setangkai anggrek di tangannya, ia berjalan menghampiri Sigi yang juga tengah berjalan menghampirinya dengan langkah-langkah lebar.


"Kamu ngapain di sini?!" tanya cemas Sigi seraya memegangi kedua bahu rendah milik Cindy, lalu menelisik setiap bagian tubuh adiknya itu.


"Aku ...." Cindy diserang gagap. Buyar sudah mode biasa saja yang tadi direncanakannya bersama Austin. "Abang juga ngapain di sini?" Malah balik bertanya.


Ia jelas bukan artis yang berbakat dalam seni peran seperti Jasmine dan Kandyla apalagi Gaury Berdine.


Melihat sosok yang berjalan mendekat ke arahnya, Sigi tentu terkejut. "Bennedict," desisnya dengan tatapan keruh.


Kehadiran Austin memang sudah didengarnya melalui cerita Alsy ketika di mobil dalam perjalanan ke tempat ini. Ia memang murka, mendapati kenyataan Cindy tak berada di villa, dan Alsy yang terkunci dari luar, juga siapa yang bersama Cindy saat ini. Namun tetap saja, wajah mantan rival-nya itu seolah menjadi momok mengerikan dalam hidupnya. Sama seperti kembaran si sinting itu--Andrew Bennedict, pria yang pernah menghajarnya saat pelecehannya terhadap Jasmine kala itu.


"Gua ajak dia makan!" Austin menyela, mensejajarkan posisinya di samping Cindy. "Trus ke sini buat obatin rasa penasarannya, liat-liat taman yang tadi gua ceritain ke dia waktu di resto," kelakarnya santai saja, dengan tangan menyusup di kantong luas kiri dan kanan hoodie yang dikenakannya. "Iya, 'kan, Cin?" Ia memandang Cindy dengan satu alis terangkat.


Cindy mengerjap tanggap, "Ah, iya, Bang. Tadi aku makan di kafe, trus ke sini, buat minta, umm ...." Sejenak berpikir, lalu .... "Ini!" Mengacungkan anggrek di tangannya ke depan wajah. "Cantik, 'kan, Bang! Aku mau bawa pulang!" Dengan wajah ceria kekanak-kanakan.


Namun sepertinya kelakar itu tak berguna.


KRUCUK KRUCUK ....


Semua sontak menanggap dengan mata memicing, menyorot tatap pada satu titik;


Cindy!


Gadis itu menurunkan wajahnya perlahan, menatap perutnya yang baru saja mengeluarkan suara signal kehabisan amunisi.


Austin memelototinya dengan gigi saling beradu gemas, lalu memalingkan wajah ke lain arah. Salah pilih tema gua, decit hatinya menyesali.


"Cin ...." Suara Sigi terdengar horor di telinga Cindy. Gadis itu mulai mengangkat wajahnya dengan raut cemas.


Sedangkan Alsy, memundurkan langkah seraya melontarkan ejekan tanpa bersuara ke arah sahabatnya itu. "Mampus!" Lalu membekap mulutnya menahan tawa.


"Salah dia sendiri cuma pesen minuman. Sok-sokan nahan laper!" Austin mulai berkelakar demi menetralkan keadaan agar tak memperluas kecurigaan Sigi. "Rasain dah tu perut bunyi-bunyi kek ayam pelung piaraan si Jamilin!" Seraya mendelik malas.


Kini semua perhatian teralih ke arah si Bule.

__ADS_1


__ADS_2