Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 34


__ADS_3

"Si beku sudah lebih dari mencair rupanya."


Begitulah kata yang keluar dari mulut Andrew, usai sepasang kakinya turun dari dalam mobil yang dikendarainya. Pria itu berdiri tegak bersidekap tangan, menyapukan tatapnya pada bangunan dua lantai--perpaduan antara hunian, bengkel, dan juga kafe milik Austin, yang mungkin ... juga miliknya.


Austin yang lebih dulu keluar dari mobil kakaknya itu tersenyum kecut menanggapi. "Gua bahkan udah jadi samudera!" Ia membalas seraya berjalan melewati tubuh kembarannya. Menanjak tangga yang terpahat di kiri bangunan untuk memasuki kediamannya.


Andrew mengekor di belakangnya seraya tersenyum-senyum.


"Tar!" panggil Austin setelah dua kakinya menjejak ke dalam rumah.


"Preeeeettt!!" Tara menyahut konyol panggilan Austin dari dalam kamarnya.


"Kamu manggil siapa, Aust?" Andrew ingin tahu. Kini edaran pandangnya menyapu sekeliling isian rumah.


"Asisten presiden," sahut Austin sekenanya.


"Dia bener-bener sudah berubah," batin Andrew, lalu memulas senyuman--antara takjub, senang dan juga bangga. Si datar itu kini menjadi kelokan penuh kejutan, kenangnya masih tak percaya.


"Elu abis dari ma--" Katup mulut Tara mengerem spontan. Tangan kanannya nampak melayang dengan menggenggam sisa gigitan kue yang tengah dikunyahnya. Dengan mata melotot terserang pemandangan ajaib, Tara menatap Austin dan juga pria di sampingnya melalui bola mata yang ia gilir kiri dan kanan. "Ini mata gua siwer, apa si Bule beneran membelah diri?" tanya hatinya sinting.


Menyadari itu, Austin maju mendekatinya. Sedang Tara masih belum bergerak sama sekali. "Elu abis ditabok kompeni?!" tanya konyol Austin seraya menoyor kening Tara hingga pria itu terhuyung ke belakang.


Tara mengerjap, lalu menegakkan tubuhnya. Kembali ia menatap Austin, lalu memiringkan kepalanya meraih jarak pandang pada Andrew yang masih berdiri diam bersidekap tangan di belakang Austin. Telujuknya ia arahkan pada Andrew dengan raut tolol. "Bule ...." Lalu beralih pada Austin dan menaruh telunjuknya di kening sahabatnya itu. "Ini bule juga?"


"Jihh, si Pe'ak!" Austin menepis telunjuk Tara di keningnya. "Apaan sih, lu?"


Andrew nampak terkekeh-kekeh tanpa suara menanggapi ekspresi konyol Tara.


Semakin dilanda kebingungan, Tara bahkan mengucek pasang matanya hingga berulang kali, kemudian mengedip-ngedipkannya memastikan bahwa tak ada yang salah dengan penglihatannya. Hingga ...


"De-demiiiittt ...!!"


"Woooyyy!" Austin meneriakinya ketika Tara berbalik badan dengan cepat lalu kabur terbirit-birit. "Si setan, gua dikata demit!"


BRUGGG


Suara bantingan pintu dari dalam kamar Tara.

__ADS_1


"Ada demit di mana, Bang Tara?!" Nimas datang tergopoh menghampiri. Dan yaa ...


Gadis itu pun ikut mengulang kelakuan Tara beberapa detik lalu. Dan akhirnya pingsan sesaat kemudian.


"Nim!" Austin kembali berteriak. Disongsongnya cepat tubuh Nimas yang telah tergeletak di lantai di dekat lorong menuju dapur.


Andrew ikut membantu mengangkat gadis pengasuh itu ke atas sofa.


Frustasi sudah Austin menyikapi kelakuan-kelakuan tak lazim penghuni rumahnya. Ia berkacak sebelah pinggang, sedang tangan lainnya ia tugaskan untuk memijat keningnya. "Harusnya gua miara ultramen, bukan Sopo Jarwo kayak mereka!" umpatnya kesal ngelantur.


...---...


"Salah lu sendiri gak pernah cerita apa pun soal idup lu sama gua!" Tara membeliak. Ia keluar dari kamarnya setelah mendengar pengakuan keras Austin dari balik pintu, ketika tadi dikiranya salah satu wujud Austin adalah makhluk halus. Dan pengakuan Austin sukses mengejutkannya setengah mati.


Seulas senyuman miring ditujukan Austin pada Tara, kini. "Karena gua mau lahir kembali sebagai pribadi baru di tempat ini, di negara ini."


"Apa itu artinya kamu gak mau pulang lagi ke Amerika?" Andrew yang duduk di seberang sofanya, menyela bertanya.


Pandangan Austin sontak berbalik ke arahnya. "Gua gak pernah bilang gitu."


"Gua bakal berkunjung ke sana kalo udah berhasil nyatuin Lily sama ibunya."


Tara dan Andrew serempak melengak.


"Lily ...?" Andrew menatap Austin dengen kening berkerut penuh tanya.


"Iya! Dia anak gua!"


Satu kejutan lagi didengar Andrew dari mulut Austin. Lima tahun berpisah nyaris membuatnya tak mengenali pribadi adik kembarnya itu. Ia jelas gagal paham dengan semua berita yang diserap kepalanya. Austin menjungkirbalikan segala sesuatunya di atas normal.


"Gua ambil Lily," Tara memutuskan demi menjawab segudang tanya di kepala Andrew. "Biar lu bisa kenalan sama ponakan cantik lu!" Ia mulai bangkit lalu melenggang meninggalkan tempat itu menuju kamar Lily yang letaknya di sisi paling kanan belokan menuju serambi.


Satu kata pun rasanya sulit diucapkan Andrew sebagai komentar. Sampai akhirnya setelah beberapa saat, ia memutuskan untuk bertanya, "Kamu ... udah nikah, Aust?"


Austin melengak ke arahnya, lalu menjawab tanpa ragu, "Belum."


Andai hanya terbuat dari bahan serupa telur ayam, jantung Andrew mungkin sudah meledak terpecah-pecah. "Lalu, maksud ka--"

__ADS_1


"Ini Lily, And!"


Sejurus pandang Austin dan Andrew sontak teralih pada Tara yang berdiri di hadapan keduanya, bersama Lily dalam gendongannya. "Sorry, agak lama. Nimas ganti popoknya dulu tadi."


Austin berdiri mengambil alih Lily dari tangan Tara. "Hallo, Sweety. Sorry, tadi waktu di mall Daddy tinggal," ucapnya seraya mengecupi pipi gembul putrinya yang mungkin dibangunkan paksa Tara dari tidurnya.


"Iya, bapak laknad!" seloroh Tara. "Gua ampe kewalahan bawa segala rupa. Gaury gua suruh bantu, malah mabur!"


"Susah sekali doang gak bikin lu mati!" Austin membalas seenak udel. Kini Lily dibawanya untuk duduk. "Oke, Sweety. Itu Uncle Drew," katanya seraya mengarahkan tangan kanan Lily pada Andrew.


Memang terlalu aneh bagi Andrew. Tapi mengingat usia Austin juga hampir menanjak angka tiga puluh, sama hal dirinya, maka keberadaan Lily cukup pantas dan bahkan lebih manis terasa dalam hatinya. Diterimanya telapak tangan mungil milik Lily dengan senyuman. "Hai, Manis. Mau ya, Uncle gendong?"


Austin menyerahkan putrinya pada Andrew tak segan. "Dia anak lu juga mulai sekarang!"


"Udah masuk prioritas," kata Andrew tanpa berpikir. Sembari ditimang-timangnya bayi cantik itu penuh kasih. "Manisnya ponakan Uncle."


"Iyalah, maknya aja manis gula-gula," decit Tara. Pria itu mulai sibuk dengan camilan kacang di dalam toples yang dipeluknya. Kedua kakinya naik tertekuk di atas sofa.


"Memangnya di mana ibunya?" Andrew merasa tertarik untuk bertanya tentu saja. Austin memiliki anak tanpa menikah. Asumsi di kepalanya telah berjejal perihal kelakuan adik kembarannya. Antara Austin menghamili kekasihnya, atau ... melalui sedikit pemaksaan tanpa cinta, begitu kesimpulan dalam pikirnya.


"Dia udah sama laki-laki lain!"


"Whaaatt?!!" Tara terperanjat. "Kok gua baru denger?!"


Sedangkan Andrew hanya menyikapi dalam diam. Jelas ada cinta di mata Austin untuk wanita itu, asumsinya.


"Lu tahu pun, kagak bakal bantu apa-apa juga!" Austin membalas Tara.


"Jihh, seenggaknya gua bisa cariin cewek baru buat bikin lu move on," kata Tara bersikap sok iyak.


"Otak lu semaput?!" hardik Austin seraya menoyor kening Tara. "Gaury aja tinggal gua ji-lat seenak jidat! Yang laen tinggal gua dadah-dadahin, langsung nemplok," selorohnya sombong. "Lagak lu nyariin gua, buat lu sendiri aja blon ada hilal ampe ni ari."


"Etdah! Emang gua kalo ada cewek musti lapor-laporan sama lu?!"


"Wajip. Biar gua puas kata-katain!"


"Bangsat!"

__ADS_1


__ADS_2