
Tiiiiiddddd
Suara klakson motor yang dikendarai Austin tiba-tiba mendecit keras di tengah jalanan yang cukup ramai.
Rem diinjaknya mendadak hingga mengangkat bagian belakang ban motornya, sesaat setelah dilihatnya seorang wanita menyebrang jalan dari arah kiri depannya secara tiba-tiba tanpa diduganya.
Karena terkejut, wanita itu berteriak keras hingga refleks melempar sesuatu yang dijinjingnya di dalam sebuah kantong plastik kecil berwarna hitam. Tubuhnya terlihat gemetaran.
"Woooyyy!!" Seorang pemuda remaja pejalan kaki meneriaki di sisi jalan.
Yang kemudian memicu orang-orang di sekitaran untuk mendekat ke arah Austin.
Austin menoleh sekilas ke arah remaja itu, lalu turun dan men-standart motornya gegas. Tanpa membuka helmetnya, ia menghampiri wanita itu, berdiri di depannya, lalu bertanya dengan nada cemas, "Nona gak papa?!"
Dengan kaku dan masih gemetar, wanita itu menggeleng. "Aku gak papa," sahutnya lemah. Wajahnya tertunduk malu mendapatkan tatapan tak nyaman semua orang yang kini mengelilinginya.
"Syukurlah." Austin menghela napas lega.
Remaja lelaki berkulit hitam pejalan kaki yang tadi berteriak di tepi jalan, menghampiri keduanya. "Om, gentiin dah tu. Kesian, makanannya ancur noh!" Telunjuknya mengarah ke suatu tempat di mana kantong plastik milik wanita itu tergeletak mengenaskan. Seluruh isi yang terdiri dari sebungkus nasi dengan sepotong kecil ikan tongkol beserta kuah kuningnya itu terhambur berantakan di tengah jalan.
Austin dan wanita beserta semuanya, menoleh bersamaan mengambil jarak pandang mengikuti telunjuk si pemuda pemberitahu.
Wanita itu terhenyak, lalu menundukkan kepalanya dalam. Setitik air matanya jatuh menggelinding di pipi tirusnya.
Austin menatapnya penuh rasa bersalah dari balik kaca helm yang masih bertengger di kepalanya. Suaranya mendengung tertahan karena batasan dari benda itu, namun masih cukup jelas terdengar orang-orang di depannya. "Maaf, sebentar aku beliin yang baru."
"Nggak perlu! Makasih," sergah cepat wanita itu. "Permisi!" Lalu tanpa babibu seraya menyeka pipi basahnya, ia melanting pergi meninggalkan tempat itu seolah tak ingin berlama-lama terjebak dalam situasi canggung yang mungkin bisa membongkar segala kelemahannya--menciptakan keprihatinan di mata pria itu dan semua orang.
__ADS_1
"Tunggu!" Telapak tangan Austin melayang menggapai udara kosong--mencegah wanita itu untuk pergi. Namun langkahnya untuk mengejar terhenti, setelah suara decit klakson dari mobil di belakangnya mengusik situasi. Ia dan semua orang menoleh serentak ke arah mobil, ke motornya yang menyilang, lalu ke arah wanita itu lagi. Namun sayang, tubuh itu telah mengecil seiring jarak yang semakin membentang.
"Kalo Om mau genti makanannya, cewek itu tinggal di bantaran kali di bawah sana, Om," ungkap remaja itu memberitahu. "Dia pemulung. Kasian, lagi hamil gada lakinya! Dia pasti kelaperan!"
Informasi itu cukup mencubit setitik sisi lemah dalam diri Austin. "Oke, makasih infonya. Pasti gua ganti makanannya!"
"Siap. Sama-sama, Om!"
...🦠🦠🦠🦠...
Setapak jalan berupa bebatuan yang dibuat berundak menyerupai tangga sejauh kurang lebih lima meter, ditapaki Austin dengan langkah hati-hati--menuruninya.
Setelah sebelumnya pria itu menitipkan motornya pada pemilik bengkel bubut, di bahu jalan tak jauh darinya. Dengan alas sehelai uang 50 ribuan sebagai ganti jasa penitipan.
Sebuah kantong berwarna putih berisi satu box nasi padang, juga beberapa makanan dan minuman lainnya, terayun riang di telapak kanan tangannya.
Setelah mencapai anak tangga terakhir, Austin mulai mengedar pandang mengamati sekitar dengan tampang bingung. Terlalu banyak bangunan-bangunan serupa yang berdiri serampangan. Keseluruhan bangunan itu terbuat dari bahan-bahan nyaris sama; seng berkarat, kardus bekas, juga kayu-kayu limbah yang ditempel asal-asalan, berjejer memadati area di sekelilingnya.
Ia mulai berkeliling mencari. Memutar kepalanya kiri dan kanan, depan juga belakang. "Yang mana rumahnya?" tanya Austin, lebih kepada dirinya sendiri.
"Hello, Mister!"
Austin tersentak, spontan menghela tubuhnya cepat menghadap pemilik sapaan itu.
Seorang anak remaja kurang lebih lima belas tahunan usianya, bergaya rocker jalanan, bertelanjang dada. Bagian bawah tubuhnya ia balut dengan celana jeans ketat berwarna merah terasi--mirip cacing tanah berkepala manusia.
Austin mengamatinya dari atas hingga ke bawah. Rambut bercucuk tiga berwarna-warni, tersusun dari ujung kening hingga ke kepala belakangnya. Tindikan dengan anting-anting stainless di bibir juga telinga yang berjejer lebih dari satu, serta uku lele yang digenggam sembari dimain-mainkannya pelan tanpa lagu, berdiri di dekatnya cengengesan.
__ADS_1
"Mister, syedang appa di syini?" Bukannya menggunakan bahasa Inggris, bocah itu malah bertanya dengan aksen nada dicadel-cadelkan, meniru bagaimana umumnya para bule ketika mengucapkan bahasa Indonesia--tak lancar.
Wajah terkejut Austin perlahan berganti senyuman geli menanggapi decitan bocah berandal di hadapannya. Ia cukup hafal tampang-tampang semacam itu di kota ini.
"Lu tau cewek bunting, mukanya manis ...." Austin mulai bertanya, sesaat nampak berpikir seraya mengingat ciri-ciri wanita yang ingin ditemuinya. ".... Ah, iya!" Mengacungkan telunjuknya ke depan wajah bocah itu. "Dia pemulung! Kata laki di jalan tadi, tu cewek tinggal di sekitar sini, sendiri. Kagak ada lakinya," jelasnya ramai lancar.
Bukan jawaban pasti terhubung pertanyaannya yang didapat Austin, kicauannya itu malah membuat remaja berandal bertubuh mungil di depannya terpelongo seperti mujair kehabisan air. Wajah kusamnya nampak seram dengan mulut menganga lebar. "Busseehh," katanya. "Bule ... mulutnye ude kek petasan korek Haji Ukat!"
Austin terlihat mengernyitkan wajah mendengar kalimat bocah itu. Sesaat ia membeku seraya menggaruk pelan pelipisnya yang tak gatal.
Segala Haji Ukat dibawa-bawa, kata hatinya geleng-geleng. Sampai akhirnya ia memilih menegakkan tubuh. "Jadi gimana, lu tau gak, di mana tu perempuan tinggal?!" Dan menegaskan pertanyaannya.
"Kalo pokalis sepenpol bisa gua ajak ngomong modelan ni bule, jadi jutawan udah gua," anak jalanan itu masih dalam modenya, kembali bergumam konyol dengan bibir kedat-kedut lucu, tatapannya kosong berimajinasi. "Bisa gua ajak ngamen di Pasar Rebo."
Austin membuang wajahnya jengah. Kini ia mengamati bocah itu memalui ekor matanya. "Ya kali gua kayak lu!"
"Temenin gua ngamen ngape, Bang Bule?!"
Loh loh loh!
Sesaat dibetulkannya kacamata bulat bening bertungkai hitam yang sedari awal ia kenakan, Austin mulai merasakan perangai tak beres pada bocah jalanan itu. "Gendeng ni bocah!" gumamnya, merasa akan membuang-buang waktu meladeninya. Ia lalu membalik tubuh hendak meninggalkan bocah sengklek itu tanpa permisi, namun ....
"Gua denger, wooyy! Apaan lukata gua gendeng?!" Bocah urakan itu meneriakinya cukup keras walau jarak mereka masih cukup dekat.
Austin hanya sekilas menoleh lalu melanjutkan kembali langkahnya--tak peduli. Ia merasa salah memilih orang untuk bertanya.
"Namenye Kak Jasmine," tiba-tiba bocah itu berseru mengungkapkan. "Dia tinggal di rumah seng paling ujung di pinggir kali sono." Wajahnya ia arahkan ke suatu arah. "Cuma dia satu-satunya cewek yang lagi bunting di mari!"
__ADS_1
Dalam bekunya Austin menatap bocah itu. "Ngapa gak dari tadi lu bilang, Kampreet!!" geramnya jengkel. Lalu terlihat ia merogoh sesuatu dari dalam saku jaket merah yang dikenakannya--mengambil sesuatu. "Nih, lu ambil!" Sehelai uang pecahan dua puluh ribuan ia lemparkan ke arah bocah itu.
"Anjim! Duit!" Si bocah urakan berseru kegirangan seraya menjembreng uang yang ditangkapnya dari tangan Austin, setelah pria bule itu berlalu dari hadapannya. "Mayan ... buat beli tahu gejrot!"