Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 25


__ADS_3

Tubuh kecil Cindy terseret-seret. Sigi menarik lengan adiknya itu persis menyeret karung berisi setumpuk sampah. Gadis itu terus menyerukan ketidakbersalahannya atas pemikiran kotor Sigi dan pernyataan sinting Austin.


“Bang! Aku gak ngapa-ngapain sama dia! Aku gak bohong. Dia yang bohong!”


“Diem kamu!”


KLEK


BAMM


Setelah menyibak pintu kamar Cindy, masuk ke dalamnya, lalu dihempasnya tubuh gadis itu ke tempat tidurnya secara kasar oleh Sigi.


“Apa pun itu, kalo berhubungan sama lelaki sialan itu, haram bagi kamu buat berurusan sama dia!” Peringatan Sigi disertai napas memburu, seraya menodong-nodongkan telunjuknya ke arah Cindy yang terlihat kacau di posisinya.

__ADS_1


Tak ingin mendengar sanggah dan pembelaan apa pun dari mulut gadis itu, ia berbalik cepat meninggalkan ruangan.


Suara berdebam pintu terdengar keras setelah ditutupnya kasar dari luar.


“Bangsad!” umpat kesal Sigi di perjalanan menapaki koridor panjang menuju kamarnya sendiri. Sebatang rokok diraihnya dari atas meja kecil di samping ranjang. Lalu berjalan menuju ke balkon yang pintunya tak ia kunci, lantas berdiri di tepian pagar pembatas. Memantik api, menyalakan rokok, lalu menghisapnya penuh napsu, merasakan betapa ia sangat marah kali ini. “Kalo Cindy sampe kenapa-napa ... mampus lu, Bennedict!” Jalanan lengang di bawah sana, ia tatap dengan kilatan amarah yang meletup.


Selama meluapkan kekesalan dengan caranya, pikiran Sigi tiba-tiba melayang pada ucapan Austin tadi. Ekspresi geramnya seketika berubah menjadi lain.


“Gimana kalo dia beneran punya bukti buat jeblosin gua ke penjara. Bakal berantakan karir gua.” Rasa cemas merayapi hatinya tiba-tiba. Wajahnya dipulasi rengutan bermakna takut. “Gak! Gak bisa! Ini gak boleh dibiarin!” Ia menggeleng-geleng, menolak argumennya sendiri.


___


Di dalam kamarnya, posisi Cindy masih belum berubah. Menelungkup, membenamkan wajahnya di atas bantal yang kini sudah basah terkena tetes demi tetes air matanya. Ia begitu menyayangkan sikap Sigi yang tak pernah mau mendengarnya. Tapi ia bisa apa? Berontak pun tak pernah diberikan waktu. Sigi mengekangnya seperti hewan peliharaan.

__ADS_1


Sayangnya ia terlalu takut--takut walau sekedar untuk berteriak.


Cindy adalah adik perempuan Sigi satu-satunya. Ia hanya anak SMA yang butuh perhatian lebih. Kelakuan minusnya selama ini hanya bentuk demo, yang mengharap perlakuan manis dan kasih sayang Sigi sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa.


Keduanya adalah anak Panti Asuhan yang diadopsi pasangan suami istri kaya raya di Surabaya, saat masa TK. Tapi sepasang pengadopsi itu kemudian meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat di usia Sigi menginjak masa kuliah. Untuk kedua kalinya, kakak beradik lain gender itu kehilangan keluarga.


Untuk orang tua kandung, keduanya bahkan tak tahu, seperti apa wujud mereka.


Cindy terus meraung. Meratapi hidupnya tak seberuntung teman-temannya, yang merasakan betapa hangatnya pelukan keluarga.


Satu-satunya keluarga--Sigi, bahkan tak pernah sekali pun menyisihkan waktu untuknya walau sekedar bercokol di meja makan. Selain aturan-aturan yang justru membuatnya gila--gila perhatian.


Sigi terlalu egois untuk dikatakan sebagai kakak. Perannya hanya tentang melarang---larangan yang terbentuk karena tak ingin dipermalukan. Semua orang bahkan tak ada yang tahu wujud Cindy, adik seorang Bastian Sigi--pembalap nasional, sekaligus CEO sebuah perusahan musik terbesar di tanah air.

__ADS_1


Begitulah Sigi ... bagi seorang Cindy.


__ADS_2