Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 46


__ADS_3

Pemandangan malam dengan jumlah kedip lampu tak terhitung di sekitaran kota, memenuhi pandang mata Jasmine yang tengah berdiri santai di selasar hotel, Britania Raya, London-Inggris, saat ini.


Sepasang telapak tangannya kokoh berpegangan pada pagar pembatas.


Setelan piyama tidur berlengan pendek ditimpal outer rajut di luarnya, membalut tubuhnya yang terasa cukup lelah hari ini.


"Lu ngapa senyum-senyum sendiri?" Secangkir mate tea--teh herbal asal Argentina, terkait tenang di tangan Kandyla. Kursi anyaman rotan berbentuk bulat di belakang Jasmine, dipilihnya untuk duduk di sana.


"Aku lagi bahagia, Dy," sahut Jasmine tanpa menoleh. Sejurus pandangnya masih asyik menatap kemilau kota. Dan lagi, senyuman yang ditanyakan Kandyla terlihat lebih lebar ditarik bibirnya kali ini.


"Karena apa?"


Jasmine membalik tubuhnya. Kursi pasangan di sebelah Kandyla mulai ia duduki. "Kayaknya aku emang gak mungkin nutupin apa pun dari kamu, Dy," ujarnya melirik Kandyla tipis saja. Lalu mulai memberikan jawaban atas keingintahuan sahabatnya itu sesaat setelahnya, "Aku balikan sama Austin."


Cepat Kandyla menghentak kepalanya menatap penuh ke arah Jasmine. "Serius lu?!" Dengan mata melotot tak percaya. "Ya, Tuhaaann!" Seruan itu terlontar sesaat setelah Jasmine menganggukkan kepalanya mantap. "Eh, tapi lu gak lagi ngeprank gua, 'pan?" Wajah cerianya nampak sedikit mengendur saat menanyakan itu.


"Nggaklah!" Jasmine menghardik gegas. "Aku serius, Dy."


"Hmm, syukurlah. Gua ikutan seneng dengernya!"


"Makasih, ya, Dy," ucap Jasmine tulus. Ditimpalnya punggung tangan Kandyla, sebagai gambaran rasa terima kasihnya itu dengan ekspresi bahagia tentu saja. "Sekarang aku bisa leluasa deketin anak aku. Kapan aja aku mau."


Kandyla menatapnya turut merasakan. "Selamet ya, Jas. Pulang dari sini, lu kudu bawa gua nemuin Lily."


Anggukan dengan ritme cepat digerakkan Jasmine. "Pasti, Dy."


Namun ada yang tiba-tiba sumbang. Ekspresi Kandyla berangsur datar, lalu merengut kemudian menarik tangannya dari genggaman Jasmine, seperti ada sesuatu yang tak dipahaminya. "Betewe, kapan lu ketemu si Bule? Kok gue gak tahu?"


Pertanyaan itu disambut Jasmine dengan senyuman tenang. "Dua hari lalu, Dy. Waktu kamu jalan sama Jhofan, aku juga pergi lima menit kemudian abis mobil kalian gak keliatan. Untung aja orang yang aku suruh cari alamat, pinter banget kerjanya," ungkapnya senang. "Aku juga gak nyangka, yang awalnya aku cuma pengen ketemu Lily, tapi malah dapet bonus daddy-nya juga." Dia Lantas terkekeh.


"Jiaaaa ... menang besar banget dong lu?!" olok Kandyla, kemudian menyeruput teh hangatnya penuh perasaan.


"Anggep aja kayak gitu."


Jika saja belum terikat kontrak atas film layar lebar yang syutingnya dilakukan di negara ini sekarang, Jasmine mungkin akan membatalkan keberangkatannya, lalu menghabiskan seluruh sisa waktu kerjanya bersama Austin dan juga Lily.


Namun ya ... terlanjur tercebur, basahnya tetap jua harus dinikmati.

__ADS_1


Hanya melalui video call, ia dan Austin juga putrinya bisa bertatap wajah untuk setidaknya mengobati rasa rindu yang dihasilkan dari sebuah pertemuan singkat. Rindu di dadanya secara cepat telah menggunung melewati tingginya mega.


______


Keesokan harinya ....


Pukul 18.45 waktu setempat.


Satu jam sebelumnya, Jasmine dan Kandyla baru usai mengambil seluruh adegan syuting hari keduanya ini di sebuah taman. Dan saat ini, untuk sedikit mencari hiburan, mereka memutuskan untuk pergi berjalan-jalan ke sebuah gedung perbelanjaan di pusat kota London, ditemani asisten pribadi mereka--Denia.


"Jas ... kok sakit, ya?"


Kalimat itu terdengar tiba-tiba, saat pasang kaki mereka baru saja menapak jarak sekitar dua meter saja menuju pintu keluar lobi.


Jasmine menghentikan langkahnya, lalu dengan cepat menghela tubuh menghadap Kandyla yang tadi berjalan di belakangnya.


Nampak wajah sahabatnya itu meringis, menahan sakit di bagian perut yang diremasnya dengan tubuh sedikit membungkuk.


"Kamu kenapa, Dy?" tanya Jasmine cemas.


"Perut gue sakit, Jas!"


"Kayaknya iya, Dy," timpal Jasmine sembari memegangi pundak Kandyla. "Masuk lagi aja, yuk! Kamu harus istirahat. Muka kamu pucet." Ia menyarankan.


"Gak, Jas. Elu pan mau banget pergi ke sana, cari baju-baju buat Lily!" tolak Kandyla. Seperti tak peduli pada kesakitannya.


"Waktu kita di sini masih banyak, Dy."


"Tapi ...."


"Dy, please!! Aku gak mau kamu kenapa-napa!"


....


....


Dilirik Jasmine, jam dinding yang tergantung di kanan posisinya. Waktu menunjuk angka 20.05.

__ADS_1


Kandyla nampak telah tenang dengan pejamnya di atas ranjang di kamar hotelnya, terhubung efek obat yang diminumnya setengah jam lalu.


Menyisikan rasa cemas atas sahabatnya, Jasmine duduk diam di tepian ranjang seraya memainkan ponsel. Di saat yang sama, Denia nampak asyik dengan buku yang dibacanya di sudut sofa, dengan posisi punggung bersandar dan kaki terjuntai menyentuh lantai. Kegiatan Denia mulai terusik ketika Jasmine mengatakan sesuatu padanya, "Den, kamu temenin Didy, ya?"


Wanita berkacamata itu menanggapi cepat, "Emang Mbak Jasmine mau kemana?!"


"Aku pengin keluar bentar. Kayaknya suasana di taman belakang hotel ini, enak juga." Itu mungkin benar, atau bisa juga sebentuk kelakar.


Denia bangun dari duduknya setelah menaruh bukunya serampangan di atas sofa. "Mau aku panggilin salah satu crew buat nemenin Mbak Jasmine?"


Yang dengan gegas dijawab gelengan oleh Jasmine, "Nggak, Den. Nggak perlu. Kasian mereka uda kecapean. Lagian cuma ke bawah doang, kok!"


Barang sejenak Denia terdiam. Perasaannya cukup tak tenang untuk mengiyakan. "Atau aku--"


"Aku bakal baik-baik aja, Denia!" Jasmine menghardik. "Jangan parnoan gitu deh! Kayak ngelepas anak baru ngerangkak aja!"


Jika sudah begitu, apa boleh buat, Denia hanya bisa pasrah. Setelah menghembus napas cukup berat, gadis itu lalu mengangguk. "Ya udah, hati-hati, Mbak. Jangan ampe kemaleman."


Jasmine tersenyum menanggap asistennya, "Paling ... sampe pagi."


"Ishhh!!"


Terkekeh tanpa lagi menimpal, dengan langkah semangat, Jasmine melanting menyongsong pintu dan lalu menutupnya setelah berada di luar.


Suara hentak kakinya terdengar jelas, berdebam mengudara di sepanjang koridor hotel yang dipenuhi pintu-pintu dengan nomor berurutan di sisiannya.


Mengingat tujuannya keluar untuk menghubungi Austin, ia lantas mengeluarkan ponsel dari dalam saku bagian bawah depan piyamanya.


Senyumnya kembali mengembang, saat diketuknya layar ponsel yang disambut wajah tampan Austin dan juga Lily di layar wallpaper. Langkahnya mulai melambat, seiring jari yang mulai asyik menyusur icon gallery di dalam ponselnya yang kini dipenuhi potret Lily dan Austin dengan berbagai ekspresi menggemaskan mereka.


BRUKK


"Awww!!" Jasmine memekik spontan. Ketika secara tak sengaja dan tiba-tiba, tubuhnya ditabrak seseorang di ujung koridor, tepat ketika ia akan berbelok menuju lift hingga terhuyung nyaris jatuh ke belakang.


"I'm sorry, Miss!" seru orang yang menabraknya. Jelas suara seorang pria. "Are you okay?"


Jasmine mengangguk seraya menegakkan kembali tubuhnya. "Yeah," jawabnya singkat saja. Dan ....

__ADS_1


Sepersekian detik, seolah waktu tiba-tiba berhenti, Jasmine membeku dalam tatapnya, ketika seraut wajah di hadapannya itu telah terjamah penglihatannya .... "B-ben!"


^^^Next chapter ....^^^


__ADS_2