
Austin mengucek mata kantuknya sesaat, lalu mengangkat tubuhnya yang masih terasa kebas usai dipaksa bangun dari lelap tidurnya. Ia mulai berjalan menyongsong pintu yang tak henti terketuk dari luar rumah, dengan langkah gontai.
Dilongok sekilas jam dinding yang tergantung di dekat meja pajangan di sudut ruangan. "Buset, jam dua malem! Setan mana sih yang dateng?" umpatnya cukup kesal, seraya menguap lagi-lagi.
Beruntung ia tertidur di sofa di depan televisi menyala di ruang tengah, usai menghabiskan sekitar tiga jam sebelum tengah malam, bermain catur bersama Tara.
Tara sendiri masih tidur serampangan di atas permadani di ruangan yang sama, dengan bantal pisang yang dibawakan Nimas dari kamar tuannya itu, saat jam masih menunjuk angka sepuluh.
Gemeletak logam beradu dari suara kunci yang diputar Austin mulai terdengar. Disusul daun pintu yang kemudian dibukanya melebar.
Dalam pandang masih belum menyesuaikan, Austin menangkap remang sesosok orang yang berdiri di depan pintu.
Kini matanya ia sipitkan--mencoba menelisik.
Cukup mengejutkan sebenarnya. Ia merasa tengah berkaca.
"Drew ...."
"Apa kabar, Aust?"
Kini semuanya mulai jelas, walaupun lampu-lampu seisi ruangan masih dalam keadaan dimatikan, selain cahaya yang berasal dari lampu di beranda rumah.
"Bangsat! Idup lu udah kayak setan, ya!" sembur Austin. "Udah lama ngilang. Nomor hape kagak aktif. Ampe gua susulin ke Amerika. Eh, nongol-nongol uda kayak tuyul, tengah malem buta!" Seketika rasa kantuknya menghilang.
Andrew menatapnya dengan kening berkerut-kerut. "Kamu nyusulin aku ke Amerika?"
"Iya! Ampe gua ubek sekelimpungan tu rumah Obamah, kagak nemu lu juga!"
Andrew tergelak lima detik setelahnya. "Ngapain ke rumah Obamah? Minta pijit Mak Misel?!"
"Bukan!"
"Trus?!" Andrew menuntut sama sintingnya.
"Nawarin domba Garut!"
"Hahaha!" Tawa Andrew terdengar lebih keras. "Uda mulai nyaingin Sule kamu, Aust!"
"Ngapa gak sekalian Anang Asanti aja?" Austin membeliak.
"Serah kamu, deh!" kata Andrew di sisa tawanya. "Aku gak bakal kamu suruh masuk, nih?" tanyanya kemudian. Gagang dari sebuah koper kecil hitam miliknya masih ia pegang.
__ADS_1
"Kagak gua silahkan juga lu pasti nyelonong!" Austin membalik tubuh, berjalan masuk kembali ke dalam rumah. Andrew mengikutinya dari belakang, setelah menutup pintu.
....
Selang beberapa saat kemudian ....
"Jadi ... kemana aja lu selama ini?!" Austin membuka pertanyaan. Dua cangkir teh dengan asap masih mengepul, sudah tersaji di meja yang menyekat antara dirinya dan juga Andrew.
Keduanya kini terduduk di sepasang kursi rotan di serambi luar kamar Austin.
"Maaf aku gak nepatin janji buat balik cepet ke sini," kata Andrew seraya mengangkat cangkir tehnya. "Aku ada misi penting di London. Tiga hari di Amerika, aku langsung pergi ke sana." Lalu mulai disesapnya teh itu penuh perasaan.
"Misi?" Sedikit saja Austin mengernyitkan dahi. "Misi apa?"
Bunyi denting yang berasal dari cangkir teh yang baru saja diletakkan Andrew ke atas alas berbahan serupa di meja, terdengar nyaring. "Nyari orang!"
Austin tentu tak paham. Jawaban tersebut mungkin hanya coretan kecil yang tak cukup untuk bisa dicernanya. "Lu kalo bacot kek kentut, ya? Singkat!"
Andrew terkekeh lagi-lagi.
Bercakap dengan Austin versi saat ini, cukup bisa menghilangkan rasa kantuknya yang tadi sempat menyerang cukup kuat.
Setelah menarik sejenak napasnya, pria itu kemudian mulai menjelaskan tentang apa yang sebenarnya ia kerjakan, segamblang-gamblangnya.
"Gitulah, Aust! Aku bergabung dengan agen mafia itu sejak awal keluar dari rumah, pasca kematian Daddy," ucap Andrew di pertengaham penjelasannya. Kini wajahnya ia buat menunduk. Ada sebersit kilatan perih menyapa hati, saat ingatannya beranjak mundur pada masa-masa tersulit mereka kala itu di Amerika. "Melalui Ashley, mereka ngajak aku gabung, dengan banyak keuntungan yang menjanjikan. Dan negara ini .. adalah target dari tugas yang mereka kasih sama aku pertama kali."
Austin melempar pandangnya ke lain arah. Rasanya tak ada kata yang tepat untuk menimpal. Ia merasakan betul, bagaimana posisi mereka pada masa yang cukup menyengsarakan bagi keluarganya kala itu.
Karena itu, pilihan yang diambil Andrew tak bisa ia salahkan.
"Apa dari kerjaan lu itu ... lu pernah bunuh orang?!"
Pertanyaan tersebut seketika membuat Andrew melengak. Ditatapnya Austin yang juga menatapnya ingin tahu, lalu dengan cepat mengalihkannya kembali ke depan.
"Jujur aja ... pernah Aust!"
Jantung Austin terhentak luar biasa. Tapi tak sebait pun kata ia buat untuk menghardik. Pekerjaan Andrew sebagai mafia juga agen pencarian orang yang disiapkan tetuanya, sudah pasti akan melibatkan kata; jatuhkan, habisi, lenyapkan atau sejenisnya. Sekuat hati ia berusaha mengerti.
"Lu mafia, apa lu bisa bantu gua?" Entah apa yang ada di pikiran Austin hingga melahirkan pertanyaan tersebut.
"Bantu ... bantu apa, Aust?"
__ADS_1
Kembali lagi, di luar dugaan Andrew. Ia mengira Austin akan memintanya meninggalkan pekerjaannya, seperti dulu-dulu ketika mereka masih bersama. Jika ada hal yang tak disetujui adiknya tersebut, ia pasti akan menurut tanpa perlawanan. Demi sebuah harga mati persaudaraan. Tapi keadaan terakhir, membuatnya tak memakai pendapat Austin, hingga memutuskan mengambil jalan melarikan diri, dengan sedikit clue yang sulit dicerna.
Tapi dengan kedipan takdir, mereka akhirnya dipertemukan.
Puncak pohon mangga di depannya, menjadi sejurus pandang Austin kini. Wajahnya nampak keruh, tak tenang. "Bantu gua gali sesuatu yang gak gua pahami sampe detik ini."
Andrew menggeser hadapnya menjadi lebih mengarah pada adik kembarnya tersebut. Cukup tertarik sepertinya. "Maksudmu?"
Seraup udara dihitup Austin sebelum memulai. Dan ....
"Jasmine ...."
DEG
Andrew tersentak. Mendengar nama itu, selain jantungnya yang terpukul, sepasang matanya pun turut melebar seketika. Ia jelas tau nama itu, pun dengan sosoknya. Sosok yang dua hari lalu memberinya kenikmatan bermandi peluh di hangatnya kamar hotel Britania Raya. Hingga kini, sensasi kegiatan itu bahkan masih tak bisa dilupakannya.
"Jasmine bilang ... gua orang yang udah nyulik, bahkan ampe perkosa dia," ungkap Austin melanjutkan langsung pada intinya. "Tapi sayangnya ... gua gak pernah bisa inget semua itu sama sekali ampe sekarang. Sedetail apa pun Jasmine jelasin. Hati gua tetep gak mengakui."
Poin keterkejutan Andrew semakin memuncak. Lebar matanya menatap cangkir teh di hadapannya, gusar.
Culik ... perkosa? Ia mengulang dalam hati.
"Gua emang pernah amnesia. Tapi anehnya ... tentang Jasmine, sama sekali gak bisa gua inget."
Semakin lama, Andrew semakin mulai memahami. Ia buat kepalanya menunduk semakin dalam, agar Austin tak bisa melihat ekspresi kacaunya.
Tentang ini, adiknya itu baru menceritakannya sekarang. Tepat saat tujuan kembalinya ke Indonesia adalah untuk menggali masa lalu kelamnya yang berkaitan dengan Jasmine.
Saat ini hati Andrew benar-benar lebih dari sekedar bergejolak.
"A-pa kamu uda periksain ke dokter?" tanyanya sedikit tergagap, entah itu sebentuk saran, atau peralihan.
Namun tak cukup disadari Austin. Ia tenggelam dalam perasaannya sendiri. "Udah, Drew. Dokter bilang, kepala gua uda gak ada masalah. Malah udah pulih secara menyeluruh." Ia membenturkan punggungnya ke sandaran kursi dengan ekspresi berubah frustasi. Dipautkannya sepasang telapak tangan pada wajahnya dengan cukup kasar.
Hening ....
Tak ada komentar lagi dari mulut Andrew.
Desir udara pekat semakin tajam menusuk pori-pori. Austin mulai merasa kedinginan. Selimut tebal mungkin akan cukup membuat hangat, pikirnya.
Namun baru saja tubuhnya terangkat untuk beranjak mengambil selimut, tatapannya terkunci spontan. Ketika didapatnya raut wajah Andrew yang entah mengapa tiba-tiba berubah kacau.
__ADS_1
"Drew ... lu kenapa?"