
Jasmine tak henti menangis sepanjang perjalanan menuju apartemennya, sedari awal pulang dari tempat Austin. Dan sekarang ia meneruskan dengan mengurung diri di kamarnya.
"Jas! Inget lu masih punya Lily! Awas aja lu kalo ampe nekat nantang ko'it lagi!" Kandyla memperingatkan seraya menggedor-gedor pintu kamar Jasmine dari luar. Rasa cemas menyergapnya, mengingat bagaimana sahabatnya itu nyaris kehilangan nyawa akibat pemikiran dangkal.
Sedang Jasmine sama sekali tak ingin menyahut.
Sepasang lututnya ia rapatkan menekuk, lalu dipeluknya dalam posisi duduk di atas ranjang. Wajah sembab lengkap dengan air mata yang terus mengalir, melukiskan dirinya dalam jurang kerapuhan yang hakiki.
Keputusan sepihak Austin benar-benar membuatnya terluka. Ia tahu ia bukan wanita sempurna. Ia sadar, ia bahkan telah kotor. Selain Austin, Dayhan juga pernah menyentuhnya. Ditambah ... pria asing mirip Austin di London sana, juga ikut menikmati sensasi hangat tubuhnya. Ia memang tolol!
Dan mungkin itu yang menjadi penyebab Austin merasa jijik terhadapnya, hingga berakhir memutuskan kisah cinta yang bahkan baru mencapai halaman kedua. Sekedar asumsi.
Tapi kenapa Austin harus berpura-pura seolah menerima, ketika ia menjelaskan semua kronologi kejadian busuk itu, di London?
Kenapa Austin membuatnya berharap begitu tinggi atas sebuah penerimaan?
Kenapa harus bersikap palsu untuk menutupi sekepal kekecewaan?
Jasmine tak bisa mengerti. Pria itu bahkan tak menyebutkan alasan di balik keputusannya.
Kini pundak ringkihnya semakin kuat berguncang. Lagi-lagi waktu memberinya siksaan sesakit ini.
Tuhan ....
Mulai diangkatnya wajah untuk sekedar meluruskan napas, lalu merotasikan lehernya ke arah jendela yang gordengnya tersibak sempurna.
Sore yang indah ....
Selaksa bayangan wajah Austin terasa semakin banyak menyesaki ruang pikirnya. Sakit yang dihasilkannya serupa goresan pisau dengan bilah tipis dan tajam.
Mungkinkah ia yang terlalu percaya diri? Jasmine tersenyum kecut di antara tangisnya. "Bodoh!" Itu rutukan untuk dirinya sendiri.
Austin itu pria tampan, lucu, berkarisma, semua kelebihan secara serakah dirangkulnya. Jelas saja, pria itu pasti akan dengan mudah mendapatkan wanita mana pun, sesuai kehendaknya.
Sedang dirinya?
Hanyalah sampah!
Bersamaan pergelutan dunia batinnya ....
"Jas! Buka pintunya, dong!" Kandyla kembali berteriak dari luar kamar. "Ada yang mau ketemu, nih!"
Jasmine menghentak wajahnya ke arah pintu. Tanpa menjawab, ia lalu turun dari ranjangnya, setelah mengusap terlebih dahulu air matanya yang terasa sulit untuk mengering.
KLEK
__ADS_1
"Hhuufftt! Syukur deh, gua gak kudu manggil security lagi, buat dobrak pintu." Kandyla mengusap dada dengan hembusan napas lega.
"Siapa yang mau ketemu aku, Dy?" Jasmine bertanya dengan suara serak, langsung saja tanpa membalas cakap Kandyla sebelumnya. Hanya menyembulkan sebagian tubuhnya, pintu itu ia buka.
"Ah, iya! Ada Sigi noh di ruang tamu!" Sebuah arah ditunjuk Kandyla dengan dagunya seraya berpaling. Ada raut bersyukur tercetak di wajahnya saat mengucapkan, "Untung dia dateng."
"Sigi?"
"Hmm. Temuin, ya!" kata Kandyla dengan senyuman riangnya seperti biasa. "Oiya, Jas. Mbok mau dateng dari Jawa. Sekarang masih di kereta, sih. Gua mau jemput ke stasiun sekarang. Biar pas dia nyampe, gak kelamaan nunggu."
Pemberitahuan Kandyla disambut Jasmine dengan anggukan tipis. "Hati-hati bawa mobilnya."
"Iya! Ya udah, yok temuin Sigi. Sekalian gua cabut."
Dari sekian jarak, wajah tampan oriental Sigi sudah terlihat. Pria itu mengangkat rendah tubuhnya untuk berdiri dari duduk manisnya di sofa, menyambut Jasmine yang semakin dekat ke arahnya. "Jas!" Pemandangan wajah mengenaskan Jasmine disikapinya dengan wajah prihatin.
Sedikit Kandyla menceritakan kondisi itu tepat ketika ia datang tadi. Dan pikirnya langsung memberi komentar, "Dia sampe kayak gini, cuma gara-gara Bennedict!"
"Gi, gua cabut. Titip Jasmine sampe gua balik, ya," ujar Kandyla seraya meraih kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja hingga menghasilkan bunyi kerincing yang kemudian dilahap kepalan tangannya.
"Iya! Gua pasti jagain! Lu hati-hati, Dy! Gosah ngebut-ngebut."
"Hmm."
"Jas!"
"Hmm." Jasmine menyahut alakadar, tanpa minat.
"Kamu baik-baik aja, 'kan?"
"Ya, aku baik."
Sigi tentu tahu, itu bukan jawaban sebenarnya yang dirasakan Jasmine. Gadis itu bahkan tak mampu untuk menarik senyum walau setipis kasa.
Kalau begitu, berarti di sini ia sendiri yang bodoh, terhubung pertanyaannya.
Udah tahu, nanya!
Menit merangkak menanjak angka ke dua puluh. Jasmine masih diam di posisi duduknya dengan pandang menyamping mengarah pada sebuah guci giant berukir bunga di pojok ruangan.
Dan hal itu membuat Sigi mulai merasa jengah. Setiap kata dan pertanyaannya selalu dibalas Jasmine dengan jawaban singkat ‘hmm’.
Jelas merasa terabaikan, Sigi akhirnya memilih bangkit, lalu melangkah mengitari meja yang menyekat di tengah, untuk mencapai posisi lebih dekat dengan wanita itu.
Kini ia duduk tepat di samping Jasmine. Cukup ragu kelihatannya. Sampai akhirnya pria itu memutuskan di antara singkat pikirnya.
__ADS_1
"Kamu mau apa?!" Spontan Jasmine menyentak kepalanya ke arah Sigi dan tepat membentur wajah tampan itu.
Sepasang tangan Sigi merengkuh tubuhnya dari samping. Keterkejutan Jasmine lengkap dengan mata membola.
Napasnya dan juga Sigi membentur saling beradu.
"Lupain Bennedict," ucap pelan Sigi dengan suara berat. "Dan liat aku."
Jasmine masih mematung di posisinya. Perlakuan Sigi terlalu mengejutkan, sampai aliran darahnya serasa ikut membeku.
"Aku masih nunggu kamu," lanjut Sigi semakin mengetatkan pelukannya. "Aku janji aku akan bikin kamu terus bahagia. Asalkan kamu mau lupain Bennedict." Perlahan, satu tangannya ia naikan pada wajah Jasmine, lalu menghapus air matanya dengan lembut. "Aku cinta kamu, Jas," bisiknya semakin berat.
Itu adalah ungkapan cintanya ke sekian kali, yang kemudian selalu ditolak Jasmine dengan alasan sama. Sedang kali ini ....
Sesaat Jasmine masih diam--terhipnotis oleh aroma wanginya tubuh Sigi juga perlakuan intimnya.
Sampai sepersekian detik kemudian, kesadarannya tiba-tiba kembali, ketika bibir Sigi tahu-tahu sudah menempel di bibirnya. "Nggak!" Didorongnya kuat tubuh Sigi hingga punggung pria itu terjerembab menimpa lengan sofa. "Aku nggak bisa!" Ia menggeleng dengan ekspresi terguncang.
Inilah bodohnya Jasmine, mudah terpengaruh dengan godaan seorang pria. Lemah!
Tapi sepertinya ....
Setelah Dayhan ... tidak akan ada lagi!
Jasmine berdiri gegas mengangkat tubuhnya. Lalu melanting berlari menuju kamarnya, namun ....
"Sialan!"
GEP
Sigi menangkap cepat lengannya. "Aku udah baik-baik ngomong penuh perasaan sama kamu!" ujarnya dengan tatapan tajam. "Apa kurangnya aku dibanding Bennedict, Jasmine?! Aku tampan, aku kaya!" serunya angkuh. "Ingat satu hal! Karena aku hidup kamu menjadi sebaik ini!"
Jasmine mulai kembali menangis. Ia terus berusaha melepaskan diri dari cekalan pria itu, tanpa peduli celotehnya. "Sigi tolong ... jangan paksa aku."
Bukan mengabulkan, Sigi malah menarik tubuh Jasmine lebih rekat direngkuhnya, lalu mendorongnya hingga membentur dinding.
Jasmine terdesak dengan satu tangan yang dikunci Sigi di dinding samping kepalanya, sedang tubuhnya sama sekali tak bisa ia gerakkan, karena tangan lain Sigi melingkar rekat 90 derajat di punggung hingga ke pinggangnya.
"Aku gak butuh ucapan terima kasih dari kamu, Jasmine. Yang aku butuhin ... cuma kamu mau nerima aku. Just it! Apa itu sulit?!"
Semakin kuat Jasmine meronta, semakin kuat pula Sigi menguncinya.
"Dengan kamu terus menerus menolak aku ... itu artinya, kamu memancing aku memaksa dengan cara lain!"
"Nggaaaaakkkk!"
__ADS_1