Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 61


__ADS_3

Jasmine bukan tak senang, Andrew telah sadar dan melewati masa kritisnya, namun seperti halnya ranjau dengan duri-duri tajam yang menyakitkan ketika diinjak, hatinya belum bisa menerima pria itu.


Hanya secarik kata, "Maaf," ia berucap sebelum akhirnya berlalu dari ruangan di mana Andrew dirawat. Sakit sebenarnya. Tapi melihat wajah naas Andrew, ia tak ingin meletakan hatinya sembarang lagi seperti yang sudah-sudah. Jasmine menyadari dirinya terlalu lemah.


••••


Sepuluh hari dilaluinya tanpa ketenangan. Jasmine ingin menemui pria itu. Namun hatinya masih keras bertahan dalam ego.


Dan hari ini ....


Terikat tanggung jawab, Jasmine kembali berkubang dalam kesibukan aktifitasnya.


Sebuah undangan acara panggung kembali mengharap ia dan Kandyla untuk mengisi.


Keseruan acara sudah berlangsung beberapa segmen yang melaju dari mulai jam tujuh malam tadi, hingga kini telah berlalu satu jam kemudian.


Kedua gadis yang tergabung dalam nama panggung The Lotus itu akan tampil sesaat lagi. Mereka tengah bersiap-siap sambil sesekali bersenandung mengetes kualitas suara masing-masing sebelum tampil--di belakang panggung.


Dalam lima menit kemudian, suara pembawa acara sudah mendengking memanggil nama The Lotus pertanda Kandyla Jasmine harus segera naik.


‌Dengan penampilan yang seperti biasa sederhana, kedua idola baru itu naik dengan senyum percaya diri. Kandyla sudah siap dengan gitar terselempang di pundak, sedangkan Jasmine akan tampil tanpa piano. Ia hanya akan bernyanyi, mengikuti iringan petikan gitar sahabatnya seperti biasa.



‌Setelah menyuarakan beberapa patah kata sambutan, bait-bait lagu merdu mulai mereka nyanyikan, diiringi teriakan kagum para penggemar di bawah panggung yang hampir memenuhi seluruh area tanpa celah.



‌Dalam waktu sepuluh menit, lagu pertama berhasil dinyanyikan dengan mulus. Kini mereka akan melanjutkan dengan lagu kedua yang tengah booming di pasaran. Namun baru dua bait lagu itu didendangkan Jasmine, sebuah pemandangan berhasil merebut perhatiannya, hingga tangan yang ia gunakan untuk memegang mic, menjuntai lemas ke sisian tubuhnya dengan wajah terpelongo kaget.


__ADS_1


‌Tepat di tengah lautan manusia, sehelai spanduk raksasa turun menjuntai dari atas sebuah helikopter yang menderu di ketinggian langit remang, kemudian berkibar merentang dengan untaian huruf-huruf cantik berwarna putih, bertuliskan;


JASMINE ... PLEASE, FORGIVE ME!


Semua wajah mendongak ikut membaca tulisan giant size tersebut.


‌Terpaku dan tercekat. Tak ada kata apa pun yang keluar dari mulut pemilik nama yang tertulis di helaian kain lebar itu.


‌Disergap kebekuan yang seolah menghentikan waktu.


Kandyla ikut menganga. Petikan gitar sudah dihentikannya sesaat setelah disadarinya Jasmine telah meng-cut lagunya tiba-tiba dan lalu mengikuti kemana pandangan sahabatnya itu mengarah.


Setelah mengetahui apa yang menjadi alasan keterkejutan Jasmine, Kandyla mendengus. "Gua tahu ni kelakuan siapa," katanya. Walau sedikit kesal karena lagu keduanya terpotong, pada akhirnya ia tetap mengembangkan senyum.


Jasmine menolehnya sontak. Ia pun sama tahu, tapi tetap saja ini terlalu mengejutkan.


Ribuan penonton terdiam memperhatikan seraya menunggu. Siapa dalang di balik pengacau acara. Tapi mereka cukup penasaran juga. Laki-laki ataukah perempuan yang meminta maaf dengan cara spektakuler seperti itu.


Dalam detik ke sekian, pekikan masal terdengar memecah langit, seiring lampu yang tiba-tiba mati seluruhnya. Membuat keadaan otomatis gelap gulita. Ratusan ponsel dikeluarkan penonton untuk meraih jarak pandang mereka, hingga terlihat seperti kubang-kunang yang bertebaran. Ini jelas mengherankan.


Semua dibuat terkejut lagi-lagi. Keadaan ini sepertinya sudah terencana dengan baik melalui penyelenggara acara.


Layar besar di tiap sudut menyala tiba-tiba dalam kegelapan, menampilkan dengan jelas sosok pria berjas putih itu.


Dalam sekejap, suasana kembali riuh. Jeritan para wanita mendengking saling meneriakan;


"BENNEDICT!"


Itulah dia!


Mereka mengenali sosok itu.

__ADS_1


Wajah tampan dengan rahang tegas dibingkai alis tebal di atas bola mata hazel dalam sorotan terang, memukau seluruh mata.


Senyum manisnya lurus mengarah pada satu titik; Jasmine.


Langkahnya semakin dekat pada wanita itu, bersama spotlight yang masih terus mengikutinya dengan setia.


Kandyla tersenyum lebar memandangnya dengan gelengan geli sekaligus terharu. "Pengacau!" semburnya ringan. Gitar diputarnya menyelempang ke balik punggung. Berdiri lebih santai dengan tangan berkacak di kedua pinggang. "Tau gini mending gua molor," sambungnya seolah menyesalkan. Ia kemudian menyisi menjauhkan diri dari area depan. Merasa tak akan dibutuhkan di sana.


Jasmine tak peduli sekitar. Suara riuh lautan manusia tak menembus perhatiannya sedikit pun. Jantungnya semakin kencang bertabuh saat jarak langkah kaki pria itu semakin mendekat ke arahnya.


Habis sudah. Jarak itu hanya bersisa kurang lebih dua jengkal saja. Jasmine semakin tak bisa mengendalikan hatinya menatap wajah pria yang kini berada menjulang di hadapannya. Susah payah saliva diteguknya agar mencapai kerongkongan yang tiba-tiba terasa kering.


Belum ada kata yang keluar dari mulut pria itu. Sedikit gestur menandakan telapak tangannya tengah merogoh sesuatu dari saku bagian dalam jas putih yang ia kenakan.


Dalam beberapa detik, terrlihat sudah apa yang diambilnya. Sebuah kotak beludru berwarna merah terang yang semua pasti sudah bisa menebak apa isi di dalamnya.


Jasmine semakin membeku. Bingung harus bagaimana menyikapi. Ia ingin berlari dari sana, tapi kaki dan hatinya seolah terkunci dan terpaku, tak bisa melancarkan berontakan yang justru semakin membuat tubuhnya gemetar.


Suara penonton semakin riuh bersuit ria, berteriak dan menjerit-jerit, manakala pria tampan di hadapan Jasmine itu, mulai bergerak merendahkan tubuhnya dengan satu kaki tertekuk dan lainnya ditopang lutut menyentuh dasar. Kotak beludru berisi sebuah cincin bermahkota berlian, telah dibuka dan dijulurkan ke hadapan Jasmine dengan posisi elegan.


Pria itu tersenyum sangat manis sekali. Tanpa banyak basa-basi seperti pria kebanyakan, mulutnya langsung saja mengucap dengan suara bergema yang tersalur melalui mikrofon kecil yang terjepit di kerah jasnya.


...•••••••••••••...


...•••••••••••••...


...•••••••••••••...


..."NASTYA JASMINE ... WILL YOU MARRY ME?"...


...💕💕💕💕...

__ADS_1


...💦💦💦💦...


Hari Senin nih, Vote Austin dong!😁 Nanti Bintang kasi Kiss yang banyak😘😘😘😘


__ADS_2