Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 20


__ADS_3

"Jihh! Pelan-pelan ngapa, Dan! Sakit kaki gua."


"Perut sixpack, dada bidang, kepal kuat, otot kawat ... dipakein ginian aja treak-treak lu!" Dialah Giordan, atau orang-orang lebih sering menyapanya; Yordan--seorang dokter umum, teman dekat Tara, yang kini juga mulai dekat dengan Austin, mencibir. Ia baru saja memasangkan gips di telapak kaki Austin yang beberapa saat lalu tertimpa kunci inggris di bengkelnya.


"Sakit, Beggeh!! Lu pikir konci enggres kagak berat!" Austin menghardik.


"Makanya besok-besok bengkel lu jan pake konci inggris!" decit Giordan seraya membalutkan kain kasa di kaki Austin. "Konci ambon 'pan lebih bagus!"


"Ambon pala lu!"


"Udah, nih! Sono lu lari!" ujar Giordan mengolok, seraya merapikan alat-alat yang baru saja digunakannya untuk merawat kaki Austin. "Gua masih ada pasien. Lu mo balik, apa di sini dulu?"


Austin membeliak. "Gua balik aja!" Seraya menurunkan kakinya hati-hati. "Ngapain gua di mari. Mending maen sama Lily di rumah."


Giordan tertawa kecil menyikapi komentar Austin. "Iya, sih. Anak lu itu lucu banget. Ampe pengen gua pajang di atas kulkas Mak gua."


Pukulan kecil di lengan Giordan didaratkan Austin. "Ngapa gak mak lu aja yang lu pajang di kantor kelurahan." Kini ia mulai melangkah menuju pintu keluar dengan kaki sedikit terpincang.


"Mak gua uda gua jadiin toping eskrim!" kata Giordan sekenanya.


"Bocah laknad lu!"


Giordan terkekeh lagi-lagi. "Gua anter ampe depan," katanya seraya merangkulkan tangannya ke pundak Austin.


"Ampe rumah gua aja sekalian."


"Tar gaji gua digergaji."


Keduanya terus saling menimpal seraya tertawa-tawa sepanjang menyusur koridor.


Iyupss, saat ini Austin tengah berada di rumah sakit di mana Giordan bertugas. Dengan taksi ia meluncur ke tempat itu, karena Tara tak bisa mengantarnya terhubung keadaan bengkel yang tengah ramai dipenuhi pelanggan dengan berbagai keluhan kendaraan.


"Mo gua gendong?" tawar Giordan dengan wajah songong.

__ADS_1


"Ogah!!" Austin tentu menyadari kelakuan sinting pria dokter yang sarafnya sebelas dua belas dengan Tara itu, termasuk juga dirinya tentu saja.


Obrolan unfaedah keduanya terus berlanjut sepanjang jalan menuju halaman rumah sakit. Giordan dengan wajah setengah wibu setengah Jawa, beriring Austin dengan tampilan bule dan rambut blonde-nya, cukup mencuri perhatian sekitar.


Yaahh, nasib orang kece mah begeto!! Di mana-mana jadi tontonan!


Namun ada yang berubah! Tepat di depan pintu kaca loby yang baru saja tertutup di belakang tubuhnya, langkah kaki Austin tiba-tiba terhenti. Sepasang matanya melebar mengarah pada satu titik di depan sana. Degup jantungnya mulai terasa berantakan tak beraturan.


Dan hal tersebut mencuatkan keheranan di wajah Giordan. "Ngapa berenti, Tin?"


Sedang Austin masih bergeming. Sosok yang dilihatnya di depan sana kini semakin dekat ke arahnya. "Jasmine ...," sebutnya bergumam.


"Jasmine," Giordan mengulang dengan kening berkerut, lalu diikutinya kemana sejurus tatapan Austin mengarah.


Dan ....


"Lain kali kalo gak enak badan gak usah maksain pergi ke resto." Dan itu suara Dayhan, sangat jelas tertangkap pendengaran Austin. Terlihat dengan sangat protektif pria itu merangkul pundak Jasmine dari samping layaknya pasangan kekasih pada umumnya.


"Aku cuma gak enak badan. Kamu aja terlalu berlebihan." Dan suara itu ... suara yang begitu diingat Austin. Suara milik wanita yang berbulan-bulan ini dirinduinya.


Lalu sampai pada batasnya, percakapan Dayhan dan Jasmine mulai terhenti ketika ....


"B-Benn!!" Kini jelas sudah. Kedua netra Jasmine telah menangkap sosok itu dengan vivid.


Seperti dikurung dalam satu ruangan kedap udara dengan pencahayaan minim, aduan napas


Austin dan Jasmine terdengar saling memburu. Dua pasang mata itu saling bertemu tatap dalam keterkejutan yang nyata.


Dayhan menanggapi perubahan tatap dan sikap Jasmine dengan wajah terheran. Sesaat ia melihat Austin, lalu beralih pada Jasmine, dan begitu lagi-lagi hingga beberapa kali.


"Kamu kenal dia?" tanya Dayhan lantas ingin tahu.


Namun bukan jawaban yang Jasmine lontarkan untuk pertanyaan Dayhan. Wanita itu dengan kasar melepas rangkulan Dayhan di pundaknya tanpa sadar dan pertimbangan.

__ADS_1


Dengan perasaan yang bahkan ia pun sulit mendefinisikan, perlahan Jasmine menuntun langkahnya maju mendekat ke arah Austin. Ditatapnya sepasang mata pria bule itu, tajam--melukiskan kekacauannya yang terpendam selama ini. "Mana anak aku?!" tanyanya langsung saja. Matanya telah remang berkaca-kaca.


Mendengar itu, tentu saja Austin terhenyak. Selain pemandangan mesra Jasmine bersama pria itu berhasil mengocok hatinya, kini dengan nada keras, wanita itu tiba-tiba menanyakan anak yang katakan saja dengan kasar, telah dibuangnya.


"Mana anak aku?!" ulang Jasmine kini dengan nada setengah berteriak. Kedua tangannya bergerak mengguncang-guncang tubuh Austin dengan air mata yang mulai berjatuhan.


"Mbak, tenang, Mbak!" Giordan mengambil peran menenangkan, dengan memegangi dua bagian pundak Jasmine dari belakang.


Tara pernah menceritakan bagaimana kisah miris Austin dan Lily, padanya. Dan kehadiran tanpa diduga Jasmine, jelas langsung menunjukkan kelemahan Austin, membuat Giordan seketika paham siapa wanita itu.


"Dia baik-baik aja!" cetus Austin secepat angin berlalu. Pasang matanya berkilat tajam menakutkan. Kalimat yang diucapkannya terdengar tak enak, terkesan ketus, namun juga memperlihatkan kerapuhan di waktu yang bersamaan, seolah menelan sesuatu yang begitu pahit. Ia lantas membuang wajah ke lain arah--tak ingin menatap Jasmine lebih lama lagi.


"Balikin Lily sama aku!" Jasmine kembali meminta. Isak tangisnya mulai terdengar menyesakkan. "Balikin dia sama akuu!!" teriaknya mulai histeris kembali.


Dayhan maju mendekati Jasmine, mengambil tindak merenggut tubuh wanita itu agar tak terus memukuli dada Austin. "Jas, Jasmine! Tenang. Jangan kayak gini!" ujarnya berusaha menyadarkan.


"Tapi dia yang udah--"


"Kamu yang minta aku rawat dia! Juga kamu sendiri yang bilang, gak mau rawat anak yang gak pernah kamu harapkan sama sekali kehadirannya! Dan sekarang dengan tololnya kamu minta dia balik sama kamu, huh?!" seru sarkas Austin dengan nada cukup tinggi. "Gak akan pernah aku biarin itu terjadi! Camkan itu ... Jasmine!"


Dayhan dan Giordan hanya saling terdiam. Cukup terkejut sebenarnya dengan kata-kata Austin. Orang-orang yang berlalu lalang nampak berhenti dan menjadikan seteru antara Jasmine dan Austin sebagai tontonan menarik.


"Tapi aku mau anak aku ...." Selipan kesakitan itu nampak jelas di wajah Jasmine.


"Maaf, kita bisa bicarain ini baik-baik, 'kan?" Dayhan mengambil sikap. Dan kalimat itu ia tujukan pada Austin.


Austin menatapnya tak suka. "Gak perlu! Gua mau balik!" hardik tegasnya. Sesaat ia memandang Jasmine yang masih terisak menatapnya penuh harap, lalu mulai bergerak mengambil langkah seribu meninggalkan tempat itu tanpa peduli dengan sekitar, dan juga ... Jasmine tentu saja. Rasa sakit di telapak kakinya bahkan tak ia pedulikan lagi.


"Le!" Giordan berteriak. Namun sejenak disempatkannya untuk diam menatap Jasmine, kemudian berkata, "Dia udah jadi ayah ... sekaligus ibu yang baik buat Lily. Tolong jangan usik kebahagiaannya, Nona!" Kemudian melanting menyusul Austin yang mulai menjauh dari pandangnya.


Tentu saja kalimat pria itu menjadi tombak yang menohok seisi jiwa Jasmine. Tubuhnya mulai bergetar hebat mengiringi tangis yang semakin merebak juga menyesakkan dadanya.


Dayhan dengan sigap menopang Jasmine, ketika tiba-tiba tubuh wanita itu terkulai tak sadarkan diri. "Jasmine!"

__ADS_1


__ADS_2