
Satu bulan kemudian ....
Di deretan kursi tunggu Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
"Kamu yakin gak mau ikut aku, Aust?"
Menanggapi pertanyaan Andrew, Austin memulas senyuman hambar. "Gak ada udara yang bisa gua hirup di sana."
Satu tepukan ringan didaratkan Andrew di pundak Austin. "Tapi Mommy Daddy pasti kangen kamu," katanya, tentu saja hanya sebagai bentuk rayuan agar Austin bersedia ikut besertanya pulang ke Amerika, walaupun itu jelas gurauan semata.
"Kalo roh Mommy bisa lu ajak bicara, trus Daddy bisa lu ajak ngopi bareng, kabarin gua! Gua pasti langsung terbang nyusulin lu ke sana tanpa ganti kolor!"
Andrew tergelak menanggapi lelucon sinting adik kembarnya itu. Sekali lagi ia mencoba; "Sepiring aglio e olio buatanku mungkin."
Austin menggedik bahu. "Sayangnya sekarang gua lebih suka makan bakso beranak daripada spaghetti pucat buatan lu itu."
Gelak tawa Andrew bertambah oktaf. "Hey, tapi itu enak! Kamu bahkan sampai rela menghabiskannya tanpa sisa."
"Itu karena gua gak mau bikin muka lu ditekuk seharian!" hardik Austin membeliak.
Senyuman Andrew perlahan berubah samar. Selaksa ingatannya bergerak mundur pada masa-masa itu--masa di mana keduanya masih hidup penuh ketenangan dalam rengkuh keluarga bahagia. Orang tua yang lengkap, juga rumah sederhana yang nyaman.
Austin dan Andrew sangat dekat untuk kategori kembar identik pria. Kedekatan mereka terhitung manis, bahkan mungkin bisa melebihi kembar sesama wanita. Saling peduli juga saling melindungi. Sangat harmonis, nyaris tak pernah berselisih.
Namun sayang, bentuk saling di antara keduanya harus terpecah oleh keruhnya masalah pekerjaan Arthur Blue Bennedict--ayah mereka yang seorang mata-mata. Sebuah pekerjaan berat penuh resiko. Resiko yang pada akhirnya mengantarkan nyawa pria paruh baya itu ke gerbang kematian.
Dan Andrew sendiri, di saat-saat tersulit keluarganya, ia memilih melarikan diri, setelah mencuri perhiasan ibunya untuk bekal perjalanan kaburnya. Meninggalkan Austin dalam sarang kerapuhan bersama sang ibu yang kemudian juga harus meregang nyawa--imbas dari sumber masalah serupa.
Hanya secarik kata pada sesobek kertas yang ditempelkan Andrew di daun pintu kamarnya, untuk dibaca Austin sebagai clue tujuan kepergiannya; INDONESIA.
"Jangan usik ketenangan Mommy dan Daddy sama suara mewek lu yang fals itu!"
Kicauan mulut Austin tersebut sontak menarik Andrew kembali pada kenyataan. Ia terkekeh kecil seraya menggeleng.
"Lagak mafia ... muka mellow kek Ayu Ting Ting!" seloroh Austin seenak jidat. "Mommy sama Daddy mungkin udah tenang. Tugas lu ke sana cuma buat nyambangin makam mereka aja. Jadi gosah sok-sokan ngedrama," lanjutnya dengan wajah sok serius. "Tuh, pesawat lu udah manggil. Cabut sono!"
"Yayaya." Andrew menggeliat-geliutkan kepalanya, lalu mulai berdiri. Membenarkan sesaat jaketnya, berlanjut menurunkan kacamata hitam di atas kepala hingga pas menenggeri hidung mancungnya. "Aku bakal sampein sama Mommy Daddy, kalo anak patungnya udah jadi pembalap terkenal di Indonesia!"
Austin menyergah cepat, "Dan gua bakal teleportasi lebih dulu ke sana, cuma buat bilang sama mereka, kalo anak nakalnya gak pernah nonton televisi, ampe gak sadar kalo adik patungnya mondar-mandir di layar, trus deketan sama dia di depan idung, tapi gak keliatan."
Andrew lagi-lagi tergelak. "Ducati Desmosedici, akan aku belikan sebagai gantinya."
__ADS_1
Senyuman kecut disodorkan Austin pada kembarannya. "Sayangnya gua udah gak mau balapan lagi."
Kening Andrew sedikit mengernyit menanggapi. "Kenapa?"
Napas sekasar angin laut dihembuskan Austin. Dilepaskannya headset yang menyumbat sebelah telinganya. "Gua pengen fokus gedein Lily. Gua gak mau mati di lintasan, trus bikin anak gua jadi yatim." Penuturan tersebut dihubungkan hati dan pikiran Austin pada kejadian kurang lebih setahun lalu, di mana ia mengalami kecelakaan yang berakibat menghilangkan potongan ingatannya.
"Lalu kemana wanita yang katamu mommy-nya Lily? Kenapa setelah hampir sebulan kita barengan, aku belum juga lihat dia?" Andrew cukup penasaran tentang itu.
"Gua gak tahu, Drew," tanggap singkat Austin.
"Bukannya kamu bilang mau menyatukan Lily sama ibunya?"
Austin menghentak wajahnya menatap Andrew, lalu menggeleng. "Gua ralat omongan gua."
"Why?"
"Jasmine mungkin udah bahagia sama laki-laki itu. Gua gak mau ngusik dia lagi," jawabnya terbersit getir. "Soal Lily, gua akan gedein dia pake tangan gua sendiri. Gua sanggup jadi bapak, sekaligus ibu buat dia."
***
Kepala Austin terdongak menatap langit di mana pesawat yang ditumpangi Andrew baru saja mengudara. "Jaga dia, Tuhan," harapnya dalam hati.
Sebuah lagu didengarkannya melalui headset yang kembali terpasang di telinganya.
Kedua telapak tangan ia susupkan ke dalam saku hoodie yang dikenakannya. Cukup santai dengan hanya dipadu jeans hitam cukup ketat dan sepatu kets senada gelap, ia tetap terlihat cool seperti biasa. Dan akan selalu seperti itu. Kepalanya nampak bergoyang-goyang mengikuti alunan musik.
Sampai ....
BRUUGG
Austin tak sengaja menabrak seseorang, hingga tubuhnya terpental sedikit ke belakang, bersamaan dengan pekikan 'aduh' yang keluar dari mulut orang yang ditabraknya.
"Maaf-maaf, saya nggak senga--" Sepasang mata Austin membesar dalam sekejap. Kenapa lagi-lagi ia harus melihat sosok itu. Sosok yang baru saja akan ia lupakan sepenuhnya. "Jasmine," sebutnya sangat pelan.
"B-Ben!" Tak salah kata Austin, seseorang itu adalah Jasmine. Wanita itu tak kalah terkejut dari ekspresi yang ditunjukkan Austin.
"Maaf," kata Austin. "Aku gak sengaja!" Seraya melepaskan headset di kedua telinganya.
"Ah, gak apa-apa."
"Jas!"
__ADS_1
Jasmine menghentak pandang ke asal suara di mana sosok itu muncul dari arah belakang tubuh Austin. "Sigi."
Tentu sebutan nama yang dikeluarkan Jasmine itu didengar Austin, walau cukup pelan. Dengan rasa ingin tahu, ia menolehkan kepalanya ke belakang.
Dan yaaa .... "Bastian Sigi."
Semakin dekat, jarak pandang Sigi, semakin jelas pula ia menangkap sosok yang berdiri di hadapan Jasmine. "Bennedict."
Seperti berada dalam mode pause, semua terdiam saling melempar tatap.
Sampai tak lama sosok Kandyla datang menghampiri dari arah yang sama dengan Sigi, memecah keheningan.
"Elo, bukannya lo itu ...." Telunjuk Kandyla mengarah pada Austin dengan ekspresi juga terkejut. "Bukannya elo yang di restoran waktu itu, ya?!"
Pertanyaan Kandyla mengalihkan sejenak perhatian Austin. Dari wajahnya pria itu nampak berpikir, lalu .... "Elu ... si Bad Liar itu, 'kan?"
Kandyla terbahak. "Masih inget gua juga ni bule cakep!" ujarnya. "Temen lu si Gondrong itu mane?"
Sedikit kekehan kecil dipulas wajah Austin. "Ada' lah!"
"Pengen gua cekek tu orang!" seloroh Kandyla dengan sisa tawanya. "Betewe, lo mau kemana?" tanyanya sok akrab sekali.
"Gua abis anterin kakak gua! Dia balik ke Amrik hari ini."
Sigi dan Jasmine hanya diam memperhatikan kelakuan kedua orang itu.
"Ayo, Jas, Dy, kita gak bisa lama. Jadwal syuting berikutnya sisa dua jam lagi." Sigi menyela pada akhirnya. Tak cukup menenangkan baginya berlama-lama berdekatan dengan rival-nya itu.
"Syuting?" tanya hati Austin terkejut. Benar, ia baru menyadari, bagaimana bisa Jasmine mengenal Sigi?
Ditatapnya wajah Jasmine yang juga menatapnya. Ada segetir luka yang membayang di bening mata wanita itu. Tapi Austin tak cukup paham untuk menyimpulkan.
"Aku pamit, Ben."
Austin terhenyak, elusan lembut walau sekilas yang diberikan Jasmine di lengannya, merambat ke dalam hatinya, lalu perlahan kembali membentuk sekilat goresan perih.
"Gua cabut, ya, Bule Ganteng!" Seruan pamit Kandyla bahkan tak terhirau olehnya.
Kini tubuh itu perlahan menjauh. Sedikit sesal menggoda perasaan Austin, kenapa tak ia seret langsung saja wanita itu untuk ikut bersamanya. Lemah!
"Lily pasti kangen dipeluk kamu, Jas," gumamnya.
__ADS_1