Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 9


__ADS_3

Sepuluh hari lamanya, Jasmine beraktifitas dengan perasaan takut.


Dua hari selepas pertemuannya dengan Austin, ia bahkan sama sekali tak keluar dari area rumahnya. Hari berikutnya ia jalani dengan penuh antisipasi--cemas pria bermata keemasan itu akan muncul tiba-tiba di hadapannya, lalu kembali melakukan hal buruk terhadapnya seperti dulu.


Itu bentuk wajar dari hasil trauma yang cukup membuat hidupnya nyaris menjadi gila.


Namun sepertinya yang ia takutkan hanya bentuk perasaan berlebihan. Pria itu sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya hingga kini. Cukup melegakan dan membuat Jasmine berkali-kali mengusap dada--bersyukur.


Dengan keadaan perut yang semakin membesar, Jasmine masih harus terus mengais-ngais sampah demi menyambung hidupnya, juga untuk modal menyongsong si jabang bayi menatap dunia luar, yang kurang lebih hanya tinggal dua bulan saja waktu normalnya ia melahirkan.


Jalanan berdebu itu kembali disusurnya rapuh. Kakinya mulai terasa pegal hingga merambat ke pinggang juga punggungnya. Dan itu mulai ia rasakan setiap waktu, terlebih pada malam hari.


Andai bayi di kandungannya ini adalah hasil pernikahan yang mana ada seorang suami di sampingnya, ia pasti tak akan sesulit dan semenderita ini, pikir Jasmine getir.


Lalu ia harus apa, selain berpasrah?


Dan pemandangan itu berhasil mencongkel sisi lemah Austin yang kini berjalan sedikit berjarak di belakangnya. Topi juga kacamata hitam, ia kenakan agar Jasmine tak menyadari kehadirannya.


Sudah berhari-hari ia mengikuti wanita itu, layaknya seorang penguntit, namun masih tak berani menegur dan menemuinya secara langsung, semenjak kejadian tempo lalu, saat wanita itu memekik histeris hanya karena menatap wajahnya.


Di sisi yang lain, Austin bahkan belum mampu mengkaji dirinya sendiri tentang mengapa ia menjadi begitu peduli pada wanita itu. Selain karena ia ingin menggali ingatan tentang Jasmine yang mungkin terlupakan, ia juga merasakan hal lain di samping itu. Sebuah perasaan ingin melindungi.


Banyak hal dilakukannya untuk membuat Jasmine tersenyum selama beberapa hari ini.


Mulai dari membeli seikat bunga, yang kemudian ia berikan melalui seorang anak kecil.


Memberikan makanan melalui pemilik warung nasi tempat biasa Jasmine membeli.


Sebuah gaun cantik berkedok hadiah kuis keliling dengan teka-teki paling mudah untuk ditebak.


Hingga ....


"Hallo, Sweety."


Jasmine terlonjak mundur secara refleks, ketika didapatinya sesosok badut berkarakter Winnie The Pooh, tiba-tiba muncul di hadapannya dengan segerombol balon di tangannya.


"Ka-kamu mau apa?!" tanya Jasmine sedikit ketakutan. Matanya kemudian menangkap sebuah tulisan yang terpasang di perut si badut.


SEDIHMU, SAKITMU, LUKAMU, DERITAMU, MILIKKU


Apa maksudnya itu? tanya hati Jasmine tak mengerti.


"Tugasku membuat orang-orang di seluruh dunia, bahagia dan tersenyum, termasuk kamu!" ungkap badut itu asal saja, seolah bisa membaca isi pikiran Jasmine. Suaranya yang dibuat-buat terdengar seperti orang tercekik.

__ADS_1


"Kita dansa, ya ...," ajaknya kemudian.


"A-aku gak bisa dansa!" Jasmine menggeleng. Diedarnya sekitaran. Tempat itu begitu sepi. Tak ada siapa pun lagi, selain dirinya, si badut juga seorang pemuda bertopi yang datang bersama badut itu di belakangnya.


"Gak papa, aku ajarin," kata badut itu lagi seraya melakukan gestur memerintah pada pemuda itu untuk menyalakan musik pada audio mini yang dibawanya.


Dan musik pun mulai mengalun indah.


Telapak tangan Jasmine diraih si badut setelah memberikan sementara balon-balonnya pada pemuda tadi, juga menaruh besi pengait dan karung Jasmine ke tanah tak jauh dari keduanya.


Sepertinya cukup berhasil.


Dalam sekejap, mulut kecil Jasmine mulai tersenyum, lalu terkekeh, kemudian tertawa-tawa seiring musik dan tari yang semakin lama semakin membuatnya melupakan tentang rasa takutnya.


Gerakan kakunya terlihat semakin lucu di mata si badut yang tentu saja berisi Austin di dalamnya.


Beberapa jepretan foto diabadikan pemuda pemilik sebenarnya kostum badut yang disewa Austin tersebut, sesuai permintaan Austin melalui ponselnya.


"Udah, aku cape!" Jasmine menghentikan gerak dansa kakunya. Sisa tawa masih terlihat di wajah manisnya yang sedikit lebih gelap dari warna kulitnya terdahulu sebelum ia terjun sebagai pemulung.


"Oke!" Austin lalu mengambil kembali balon-balon itu di tangan si pemuda, yang kemudian ia serahkan pada Jasmine. "Ini untukmu!"


"Untukku?" Jasmine menunjuk dadanya sendiri.


Jasmine terkekeh. "Kamu ada-ada aja! Kamu pikir balon-balon itu pengantar surat?"


Austin menatapnya tersenyum--tentu saja dari balik wajah Winnie The Pooh-nya.


Ya, Tuhan ... senyuman manis itu ... aku ingin menatapnya setiap saat ... tidak dari kejauhan ... dan tanpa kostum badut sialan ini.


Tapi bagaimana caranya?


Austin cemas Jasmine akan kembali histeris jika menatapnya secara langsung. Tapi masa iya, dia harus jadi badut setiap kali ingin berdekatan dengan wanita ini?


Fiuhh ....


"Balonnya menyebar," ujar riang Jasmine, menghentak gelembung pikir Austin dalam sekejap.


Austin mengikuti arah pandang wanita itu yang tengah menengadah menatap langit, di mana balon-balon yang baru dilepasnya tercerai terpisah-pisah di ketinggian.


"Semoga semua harapan Nona Manis terkabul," ucap Austin setulus hati.


Jasmine tersenyum menatapnya sesaat, lalu kemudian menghambur memeluk tubuhnya sangat erat, tanpa diduga Austin. "Makasih, Badut. Aku seneng banget hari ini," ucapnya dengan wajah gemas.

__ADS_1


Tentu saja Austin begitu girang karenanya. "Syukurlah. Berarti tugasku berhasil hari ini," balasnya seraya menepuk-nepuk halus punggung Jasmine.


Pelukan itu lalu dicerai Jasmine. Kini telapak tangannya beralih mengelus pipi Winnie Austin. "Tentu. Semoga orang berikutnya, bisa sebahagia aku."


"Semoga!"


Keesokan harinya, pukul 13.10 WIB.


"Mau kemana lu?!" tanya Tara saat Austin telah rapi dengan jaket motor dan helmnya.


"Mau ke tempat si Molly!"


Tara terkejut. "Jan ngadi-ngadi lu!"


"Serius gua, Tar!"


"Mo ngapain?!" Dengan secangkir kopi di tangannya, Tara terus mengikuti gerak Austin yang mulai mencapai halaman kafe, di mana motornya terparkir.


"Mo bikin muka gua tambah ketci!"


"Bacod yang bener lu!" Tara tak percaya dan jelas menganggap hanya candaan menurutnya--seperti biasa.


BRUUUMMMM ....


"Leeeee!!! Elah, si Jadahhh!" teriak Tara saat Austin memacu motornya tanpa memperdulikannya lagi. "Ngapain si tu setan? Kok makin ari makin aneh aja kelakuan!"


Tiga puluh menit kurang lebih, Austin telah tiba di sebuah tempat.


"Halloooo, Kakang!" Seorang pria gemulai menyambutnya antusias bahkan jauh sebelum langkah Austin mencapai ambang pintu tempat usahanya.


"Gosah sentuh-sentuh gua gak penting. Gosah banyak bicara. Cukup lu dengerin gua." Austin mengangkat kedua telapak tangannya, menyela cepat sebelum pria cantik bernama Molly itu menyentuh bagian dari dirinya.


"Iiihhh, kok gitcu sih Kakang sama Nyai?" Molly memberengut kecewa.


Dan Austin mana peduli dengan hal itu. Ia mulai menjelaskan tujuannya tanpa basa-basi, "Gini, Moll ... gua pengen, lu robah tampilan gua, sebeda mungkin!"


"Ouwwhaaaatt?!" Molly terperanjat. "Kakang mau kayak eyke gini, gitcuh?"


Austin meradang. "Bukan kayak lu juga, Kampred!!" Ditoyornya kepala Molly cukup keras. "Lu yang bener aja! Masa iya gua jadi lenong!"


"Iiiihh atit tauu!!" Diusap-usap Molly keningnya yang seakan berdarah-darah sisa toyoran telunjuk Austin. "Teyusss? Yey mau eyke robah kayak apose?"


"Pokoknya sebeda mungkin!" jelas Austin. "Tapi jangan ampe kayak Upin Ipin juga! Gua pengennya yang beda, tapi tetep gak ngilangin ke-machoan gua!"

__ADS_1


__ADS_2