Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 47


__ADS_3

"B-Ben!" Sepasang mata Jasmine terbalalak melebar, seolah merengkuh lautan. "Ka-kamu di sini?" tanyanya dengan raut tak percaya.


Pria itu mengernyit menyikapi. "Ben?" gumamnya bertanya-tanya. "Umm--"


Kalimat yang akan dilontarkannya langsung terpotong ketika secara cepat Jasmine menubrukkan tubuh memeluknya tanpa pertimbangan--sangat erat.


"Kamu kenapa gak bilang aku kalo mau nyusulin?" celoteh Jasmine dengan suara senang. Matanya nampak terpejam, menikmati pelukan rekatnya atas tubuh kekar tersebut. "Baru aja aku keluar mau telpon kamu, kamu udah ada di depan aku aja! Ajaib, ya? Aku kangen banget sama kamu tahu nggak sih?!"


Berlainan dengan ekspresi girang Jasmine, pria itu malah terlihat kebingungan. Seperti tak paham apa pun tentang kelakuan wanita yang tengah memeluknya tersebut saat ini. Namun juga seolah terkunci, ia tak mampu melempar kata walau secarik. Sepasang lengannya juga tak tergerak untuk membalas atau pun mengelak pelukan dadakan yang menimpanya. Wanita Indonesia, cukup sebatas itu hatinya berkomentar.


Hingga beberapa saat kemudian, pelukan Jasmine mulai melonggar. Bukan untuk melepasnya, melainkan mengalihkan kedua lengannya ke bagian atas, membentuk posisi mengalung di leher pria itu. Dengan binar bahagia, ditatapnya wajah tampan yang sangat dirinduinya tersebut, lalu berkata, "Kalo kamu mau bikin kejutan buat aku, kamu berhasil. Aku terkejut. Banget, banget, banget!"


Senyuman itu benar-benar membius si pria hingga tercengang seperti seorang idiot.


Bukan membalas seharusnya, ia malah bergumam, "Beautiful." Meskipun pandangannya tak cukup jelas, ia masih bisa menangkap betapa manisnya wajah wanita di hadapannya tersebut.

__ADS_1


"Hh?!" Jasmine mengernyit terheran. Gumaman pria itu jelas didengarnya. Tapi ... entah kenapa ia merasa asing dengan sikap yang ditunjukannya--terasa seperti bukan Austin.


Dengan tangan masih mengalung, disusurnya sekujur wajah itu dengan sorot menelisik. Matanya terlihat memerah, Jasmine menangkap. Lalu mulai mencondongkan wajahnya sendiri untuk memastikan sesuatu, dan ....


"Kamu minum alkohol?!" tanyanya menyentak.


"Umm ...." Pria itu menunjukkan sikap gelagapan. "A-aku ...."


"Ihh, kamu tu, ya!" seru Jasmine lagi seraya menarik cepat kalungan lengannya di leher pria itu. Bibirnya mengerucut maju menunjukkan ketidaksukaan. "Katanya dulu gak pernah minum! Sekarang apa?!"


Buangan pandang Jasmine akibat kesalnya, kembali mengarah pada onggok bergerak di depannya. "Ben, kamu kenapa?"


"Umm ... kepalaku ... pusing!"


"Pusing?" Berganti ekspresi cemas, Jasmine kembali maju mendekat. Sejenak di diamatinya wajah itu. Kedua telapak tangannya nampak sibuk, bertingkah layaknya dokter, melakukan gerak-gerak memeriksa yang terlihat konyol, namun justru terasa manis bagi pasien dadakannya itu, hingga tersenyum-senyum menanggapinya.

__ADS_1


"Umm, kamu udah pesen kamar, 'kan?" tanya Jasmine ingin tahu. "Atau emang tujuan kamu ke sini mau samperin aku aja?!"


Dengan tanpa berpikir, pria itu menyanggah, "Aku udah pesen kamar sendiri!"


"Hmm?" Jasmine memasang wajah curiganya dengan mata menyipit.


"Aduh! Kepala aku makin sakit!" Pria itu kembali berkelakar dengan mencengkram bagian rambutnya---sebagai bentuk pengalihan kecurigaan.


Dan berhasil mendapat tanggapan serius dari Jasmine, "Ah, ya udah, kita ke kamar kamu!"


Sebuah senyuman tak kasat mata nampak ditunjukkan pria itu. Sekarang ia menikmati gandengan tangan Jasmine di pinggangnya, berjalan rapat bersisian menuju kamar yang disewanya.


Untuk situasi memusingkan, ini cukup menjadi keberuntungan.


Dan namaku Andrew, akunya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2