
Soal usaha Austin, ia sama sekali belum menemukan titik terang tentang siapa pria biadab yang telah menjerumuskan Jasmine di titik tersulit dalam hidupnya. Orang-orang yang disebarnya belum satu pun memberi kabar yang diharapkan Austin. Pun dengan aparat kepolisian.
Sepertinya penjahat sialan itu bukan orang sembarangan, hingga tak sedikit pun penelusuran kasusnya menemukan bukti walau sebesar biji padi sekali pun.
"Semuanya tak becus!" geram Austin kecewa. Dan ia pun termasuk di antara ketidakbecusan itu.
Entah sampai kapan Austin akan mengorek akar masalah tersebut, di saat semua telah hampir dilupakan Jasmine--justru karena kehadirannya.
Dan saat ini, tak terhitung berapa jumlah pasang mata yang tertipu. Austin dan Jasmine terlihat mesra seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Sebagai ... anggap saja calon ayah, Austin cukup protektif memperlakukan Jasmine--benar-benar layaknya seorang suami. Selain itu, ia juga telah membawa pindah Jasmine dari rumah seng di bantaran sungai ke sebuah kontrakan sederhana di bagian selatan Jakarta--dari dua bulan yang lalu. Seluruh kelengkapan Jasmine telah dipersiapkan Austin tanpa terlewat secuil pun.
Dan hari ini, Austin mengajak Jasmine pergi ke sebuah pusat perbelanjaan di tengah kota. Berhubung usia kandungan Jasmine telah mencapai angka trimester akhir, pria itu membelikan berbagai jenis kelengkapan bayi, hingga troli yang didorongnya penuh terisi oleh benda-benda mungil bakal calon anak mereka.
Dan lupakan tentang siapa dirinya atas anak itu, Austin meminta.
Ia akan menikahi Jasmine setelah anak dalam kandungan wanita itu terlahir--sesuai keinginan Jasmine sendiri tentu saja.
"Kamu lanjutin bobonya di dalem aja."
Jasmine selalu tersenyum mendapat perlakuan manis dari Austin. Ia menganggukan kepalanya tipis saja, lalu meraih tangan Austin yang terjulur ke arahnya. Sepasang kakinya yang beralas sepatu flat itu mulai ia turunkan dari dalam mobil milik Austin yang diambil alih pria itu dari Tara.
Hmm ... tentang Tara?
Sampai detik ini, Austin belum juga meneteskan niatnya untuk mempertemukan Tara dengan Jasmine. Malas menanggapi ejekan mentah si konyol itu nantinya.
Biar saja, jika hari pernikahannya tiba, maka Tara akan dijadikannya orang yang paling sibuk mengurusi segala sesuatunya, rencana licik Austin.
Detik ini, Austin dan Jasmine mulai menapak ruang kamar di dalam kontrakan. Perut yang membesar membuat Jasmine semakin kesulitan melakukan banyak hal.
"Kamu rebahan aja. Susunya biar aku yang bikinin," kata Austin selembut kapas. Sekilas telapak tangannya membelai rambut panjang Jasmine yang terikat seluruhnya ke belakang.
Dan lagi-lagi Jasmine mengangguk. "Makasih."
"Hmm."
Beberapa menit berselang, segelas susu formula ditenteng telapak tangan Austin dengan ceria. Pria itu berjalan ringan menuju kamar yang ditempati Jasmine.
Namun setelah persis tubuh Austin berdiri menjulang di ambang pintu, ekspresi cerianya berubah ambyar. "Jasmine!" Dengan cepat, disongsongnya tubuh Jasmine yang terduduk merunduk di lantai seraya memegangi perutnya dengan ringisan kental di wajahnya itu, cemas. "Kamu kenapa?!"
...****...
Setelah cukup kecemasan merayapi segenap jiwa Austin--hampir empat jam lamanya ia menunggu, akhirnya suara tangisan makhluk mungil yang beberapa bulan lamanya bersarang di perut Jasmine, mengudara di sekitar ruangan. Seiring erangan perjuangan panjang ibunya yang saat ini memperlihatkan kelelahan yang luar biasa.
__ADS_1
Dikecupi Austin pucuk kepala Jasmine penuh kasih dan juga haru. Sehebat itu perjuangan seorang wanita melahirkan anak mereka, pikir Austin takjub. Detik demi detik yang terasa menyiksa baginya terutama Jasmine, akhirnya terbayar dengan ....
"Selamat, Tuan dan Nyonya, bayinya perempuan. Dia sangat cantik," ungkap dokter kandungan ber-gender wanita itu tersenyum seraya menyerahkan bayi merah yang telah dibalutnya dengan kain biru bercorak Doraemon, pada Austin.
Jasmine mengangguk dengan senyuman tak kalah haru, ketika Austin menatapnya seolah meminta persetujuan.
"Gimana cara gendongnya, Dok?" tanya polos Austin.
Jasmine dan dokter itu tersenyum lucu.
"Mari saya ajari, Tuan." Dengan gerak penuh kehati-hatian, bayi mungil itu telah berpindah tempat ke tangan Austin setelah diajari sang dokter bagaimana cara menggendong bayi yang baik dan benar pada seorang amatir sekelas dirinya.
Bikinnya aja lu lancar!
Giliran gendong, kaku kek patung kemayoran.
Siapa pun akan mengolok demikian. Ya, 'kan?
"Siniin dedenya, aku pengen gendong juga." Jasmine meminta. Dan dengan hati-hati pula, dokter itu membantu Austin menyerahkan bayi itu pada Jasmine.
Ditatap Jasmine wajah mungil putrinya itu, lekat. Senyuman haru memulas wajah manisnya. Hatinya menghangat penuh cinta bertabur bunga-bunga abstrak yang terhambur di sekitarnya juga Austin.
Mulai sekarang, Mama gak akan peduli dengan cara apa kamu hadir, Nak. Batin Jasmine meneguhkan. Karena ada dia .... Diliriknya Austin yang kini duduk rapat di sampingnya. Pria itu nampak manis. Satu telapak tangannya asik membelai halus kepala bayi cantik di gendongannya, sedang tangan lainnya dilingkarkan pria itu di pundaknya.
....
Dua hari berlalu ....
Jasmine sudah lebih terlihat bugar. Ia akan diizinkan pulang esok harinya, begitu kata dokter yang merawatnya.
"Sayang aku pulang dulu, ya."
Austin memasuki ruangan setelah mengangkat telepon singkat dari Tara yang memintanya untuk pulang perihal urusan bisnis mereka yang dilalaikan Austin dua harian ini.
"Ada apa?" tanya Jasmine ingin tahu.
"Tara minta aku hadir di rapat urusan pembenahan kafe bareng pegawai-pegawai aku."
"Ouh." Jasmine mengangguk paham. "Ya udah, pulang aja. Aku gak papa, kok," putusnya seraya tersenyum.
"Oke. Nanti aku ke sini lagi malem."
---
__ADS_1
Dan tanpa terasa, siang pun berganti malam.
Dengan langkah semangat, sepasang tungkai kaki Austin terayun cepat menuju ruang di mana Jasmine dirawat.
Sekantong buah-buahan segar terkait riang di kiri tangannya.
Entah kenapa, pengaruh Jasmine dalam dirinya begitu besar, hingga tak sedetik pun wajah manis itu mampu ditepisnya.
Menyusun tapak demi tapak, akhirnya langkah lebar Austin mencapai tujuan. Dibukanya perlahan ruangan itu dengan senyuman.
"Jas!" Ia memanggil seraya celingukan mengitari ruangan, ketika tak didapatinya Jasmine di tempat tidurnya.
Pasti di toilet, Austin menerka yakin.
Diletakannya kantong buah-buahan yang dibawanya itu di atas meja di samping brankar.
Ia masih nampak tenang dengan senyumnya. Hingga sesuatu yang terselip di bawah gelas bening berisi penuh air putih di meja itu, berhasil mencuri perhatiannya.
Kemudian ditarik Austin benda itu dengan gamang. Kartu identitas miliknya, juga ... sehelai kertas dengan beberapa bait tulisan tangan yang ditaruh rangkap besertanya.
Dibacanya kata demi kata tulisan itu. Raut tenangnya perlahan berganti datar laju semakin serius, kemudian mengernyit ketika baris tulisan itu habis ditelannya. Susah payah diteguknya saliva.
Austin Blue Bennedict.
Pembohong!!
Udah puas kamu rusak hidup aku, sekarang kamu datang sok jadi pahlawan buat aku dengan merubah penampilan kamu!
Lelaki badjingan! Penipu!
Silahkan kamu rawat darah daging kamu itu tanpa aku! Aku gak sudi jadi ibu buat anak yang gak pernah aku harepin.
Mulai sekarang, jangan pernah cari aku!
Seumur hidup aku, gak akan pernah aku maafin kamu! Camkan itu, Bennedict!
Tubuh Austin mulai bergetar. Ditatapnya nanar tulisan bertabur tanda seru itu dengan perasaan kacau.
"Darah daging kamu." Disuarakannya lemah, Austin mengulang isi tulisan itu dengan lisannya. "Apa maksud Jasmine dengan darah daging aku?"
Sampai akhirnya sepasang mata pria itu jatuh pada dompet miliknya yang tergeletak di atas ranjang sedikit tertutup selimut.
Ternyata tak sengaja ia meninggalkan dompetnya siang tadi ketika pamit pulang pada Jasmine.
__ADS_1
Dan kata pamit itu ... mungkin terucap untuk pertemuan terakhir kalinya dengan wanita itu.