Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 69


__ADS_3

Niat hati memberi adiknya surprise karena kepulangannya, apa daya, kenyataan memberi lakon bertentangan--ambyar! Sigi malah tersangkut di tempat milik orang yang sama sekali tak ingin lagi dikenalnya.


Nasi sudah dimakan bebek, mana bisa disendok lagi. Pada akhirnya ia mengalah jua. Austin bukan tandingannya.


Awalnya lelaki itu ingin menyeret Cindy untuk langsung pulang ke villa-nya, namun dicegah Austin demi sebuah pelurusan keadaan.


Di ruang tamu villa milik pria bule rasa nusantara itu, mereka kini berkumpul. Mengisi beberapa titik kursi dengan jarak seadanya. Austin duduk bersilang kaki di sofa tunggal berlengan, sedangkan Cindy, Sigi, dan Alsy berdampingan di sofa panjang bersekat tiga dudukan. Satu sofa bonus polos diduduki asisten Sigi. Penjaga villa Austin berlalu setelah menyajikan lima gelas teh panas untuk orang-orang berkelas itu.


Perputaran jarum jam menunjukkan pukul 12.55 dini hari saat ini. Benar-benar waktu yang berkualitas untuk membahas soal penggerebekan.


"Jadi apa hubungan lu sama adek gua?!" tanya Sigi membuka sesi obrolan. Karena jika pertanyaan itu ia lontarkan pada Cindy, jelas tak akan menghasilkan jawaban kongkret.


Austin menurunkan silang kakinya untuk menaruh gelas tehnya ke atas meja, kemudian menyandarkan kembali punggungnya ke sandaran sofa.


"Kalo gua bilang gua pacarnya, lu mau gimana, Bas?!"

__ADS_1


Mendengar itu, Cindy terperanjat. Ia menatap Austin lalu beralih pada Sigi dengan kepala menggeleng-geleng. "Ngga--"


"Kamu gak usah nutupin lagi, Cin!" hardik Austin seenak perut. "Kamu udah nyatain perasaan kamu ke aku, biarpun gak secara langsung. Dan sekarang aku bilang ... aku juga cinta kamu!" cetusnya tanpa basa-basi. "Deal, 'kan? .... Jadi mulai sekarang kita pacaran!" Seraya memajukan tubuhnya menatap Cindy dengan alis naik dan turun.


Persetan dengan perbedaan usia yang mencolok! Austin menentang. Karena ia masih tampan, dan akan selalu seperti itu!


Cindy menanggapi dengan wajah merengut juga mulut sedikit menganga. Apa-apaan pria itu? Ia tak habis pikir.


Sigi masih diam, mencoba menelaah keadaan. Melihat Cindy dan Austin bergiliran melalui ekor matanya. Dari perangai si Bule, lalu lari ke gerak-gerik adiknya. Ada apa sebenarnya dengan mereka? tanya hatinya masih tak paham.


Sebenarnya seperti apa hubungan sahabatnya dan pria itu di masa lalu? Alsy cukup penasaran akan hal itu.


"Cindy ...."


Gadis itu mendongak mendengar teguran kakak yang selalu disapanya 'abang' tersebut, tanpa berani menatap matanya. "Iya, Bang?" sahutnya pelan dan lemah.

__ADS_1


"Abang pengen denger tanggapan kamu!" Sigi mulai menuntut--sebagai seorang kakak, pengganti ayah.


Tentu saja keadaan ini begitu menjebak Cindy. Ia tak mengira, pertemuannya dengan Austin setelah sekian lama, bisa bersamaan dengan kedatangan Sigi, yang kemudian menciptakan prahara atas dirinya dalam waktu kurang dari dua belas jam. Tuhaaaaann ..., keluh hatinya berharap tenggelam saja.


"Aku nggak tahu, Bang!" ujar singkat Cindy kemudian kembali merunduk. Jemari tangannya ia mainkan saling me.remas hingga berkeringat. Walaupun dinginnya udara cukup menusuk di hampir sepertiga malam ini, ia tak bisa merasakan itu. Benar-benar kebas diterjang situasi.


Jawaban ambigu tadi membuat Sigi cukup kebingungan. Pasalnya, ia telah melakukan perjanjian perjodohan atas Cindy dengan seorang pengusaha muda asal Singapore--salah satu rekan bisnisnya. Itu pun jika Cindy terus tak beranjak dari zona kosongnya atas sosok seorang pasangan. Tapi jika benar ternyata Austin adalah pria yang membuat gadis itu menutup diri selama ini, maka Sigi tak bisa mencegah. Ia hanya ingin adiknya bahagia. Toh, pria itu sekarang telah ada di hadapannya.


"Lu serius sama adek gua?" Dengan segenap kekuatan hati, Sigi melontarkan pertanyaan itu pada Austin didorong suara tegas dan menekan.


Austin menanggapi dengan senyuman. Mendengus tipis, lalu berujar, "Umur gua kalo di Bogor uda pantes gendong anak dua." Lagi-lagi ngalor ngidul. Lalu mengalihkan pandangnya pada Cindy yang juga memandangnya penasaran. "Cin, kamu siap ... lahirin anak pertama buat aku?"


Seperti disengat ubur-ubur di tengah air dangkal, Cindy tergagap, menegang, hingga seisi dadanya berdentam tak karu-karuan. "Ak-aku ...."


"Udah ... mau aja, Fer!" Alsy menyela seraya menyenggol lengan Cindy dengan senyum tipis namun mengolok.

__ADS_1


Dan ....


__ADS_2