
“LEPASIN DIA!!”
"Jasmine!!"
Kegiatan tak senonoh Sigi sontak terhenti.
Ia menoleh cepat ke arah pintu dan mendapati dua sosok manusia sudah berdiri di sana dengan raut wajah sama-sama tercengang.
"Bennedict," gumamnya lengkap dengan mata terbelalak. "Didy ...." Ia menegakkan tubuhnya secepat angin.
Di saat bersamaan, Jasmine yang berada di bawah kungkungnya, bergerak mendorong tubuh Sigi hingga terjengkang ke ujung tempat tidur. "Dy ...!" teriaknya memanggil Kandyla. Lantas menarik bangkit tubuhnya lalu berlari dan menerjangkan diri memeluk sahabatnya itu, dalam keadaan tubuh separuh te.lanjang--akibat perbuatan Sigi.
"Lu gak papa?!" tanya Kandyla cemas, seraya mengusapi kepala dan punggung Jasmine memberi penenangan. Lalu beralih menatap Sigi yang sepertinya akan babak belur sesaat lagi.
"Bangsaat!"
Pria yang datang bersama Kandyla melangkah ke arah Sigi. Direnggutnya kerah baju Sigi lalu melayangkan satu bogeman mentah tepat di bagian rahang, hingga memuncratkan darah segar dari mulut pria oriental tersebut.
Terdengar Sigi mengerang kesakitan karena hal itu. Ia coba melakukan perlawanan, tapi pria itu kembali menghajarnya di beberapa titik bagian tubuhnya, hingga membuatnya terkapar naas di atas lantai.
“STOP!” Kandyla menghardik kemudian. "Udah! Gua gak mau apartemen gua jadi lahan penyiksaan!" serunya seraya menggamit punggung jaket pria yang tengah menghajar Sigi sekali hentak, hingga tertarik ke belakang seiring geraknya.
Napas kasar dihembuskan pria itu.
Masih ditatapnya wajah Sigi dengan raut murka.
"Pergi!" titahnya berat dan menekan. "Sebelum aku bener-bener bikin kamu mati di sini!" lanjutnya mengancam Sigi.
Sedikit kernyitan tercetak di wajah Sigi, tak terkecuali Jasmine dan Kandyla.
Aku kamu?
Austin 'kan biasanya ‘gua elu’!
Ketiganya merasakan perbedaan dalam diri pria yang telah membuat Sigi babak belur tersebut.
Seperti ....
__ADS_1
"Pergiii!"
Namun asumsi mereka terpotong dengan teriakan itu. Membuat Sigi spontan mengangkat tubuhnya di antara nyeri yang menjalar di sekujurnya. Dengan sedikit membungkuk memegangi perut, pria itu menatap tajam pria di depannya, lalu beralih pada Jasmine yang terlihat naas menyusupkan diri di pelukan Kandyla. "Sial!" umpatnya dalam hati.
"Keparat lu!" sembur geram Kandyla. "Untung dompet gua ketinggalan, trus ketemu ni bule di parkiran. Kalo gak ...." Ia merasa tak sanggup melanjutkan kalimatnya, mengingat betapa hancurnya Jasmine jika saja ia tak kembali ke tempat itu. "Mending mati aja lu!" Demikian kalimat itu yang ia luncurkan pada akhirnya.
"Cepat pergi! Sebelum aku panggil polisi dan bikin kamu mendekam di penjara!"
Ancaman tersebut membuat Sigi melengak--sedikit ada rasa takut sebenarnya. Dengan wajah keruh, ia merunduk untuk meraih jasnya yang tergeletak tak jauh di bawah kakinya. "Lu selalu jadi pengacau!" ujar geramnya pada pria berjaket di hadapannya, lalu melenggang meninggalkan kamar itu dengan ekspresi murka.
BRUGGG
Suara pintu terbanting keras dari luar.
"Jas ... maafin gua." Kandyla melepas peluknya lalu mengalihkan kedua telapak tangannya untuk menangkup wajah miris Jasmine. "Gua salah nitipin lu sama setan itu! Maafin gua." Lalu memeluknya kembali penuh sesal. "Gua gak tahu bakal kayak gini jadinya."
Jasmine menggeleng menanggapi, "Nggak. Ini bukan salah kamu, Dy," sanggahnya dengan suara serak di antara isak tangisnya.
Pejam mata Kandyla digenangi tetesan air mata. Diusapnya punggung Jasmine yang polos tanpa busana, selain bra yang satu pengaitnya sudah terlepas, juga rok selutut yang masih utuh dengan celanadalamnya. "Pake baju lu dulu, Jas."
Menarik diri dari pelukan Kandyla, Jasmine mengangguk, lalu berbalik badan hendak mengambil pakaiannya. Namun tepat ketika itu, pandangannya sontak bertemu dengan wajah yang tidak asing baginya, namun sedikit berbeda dari yang ia tahu. "Ben!"
Jasmine ... pernyataan itu membuat jantungnya berdegup kencang dalam waktu singkat, menghasilkan tubuh yang terasa lemas, lalu kemudian terhuyung ke belakang. Namun dengan gegas Kandyla menahannya, juga Andrew yang bergerak ikut menolong.
"Kamu gak papa, 'kan?" tanya Andrew.
Tidak ada jawaban. Jasmine yang sudah didudukkan di tepi tempat tidur, masih membeku dengan tatapan tak percaya, bahkan tak lagi peduli dengan tubuh setengah polosnya.
Kandyla, meskipun sebenarnya ia juga terkejut, tapi sesaat setelahnya, gadis pecinta gitar itu kembali ke wajahnya seperti biasa. "Lu gosah pake acara nge-prank, Ben!" decitnya sembari menyodorkan sehelai kaos pada Jasmine yang diambilnya dari dalam lemari. "Tapi keren juga cara lu bikin kejutan! Abis lu bikin Jasmine mewek seharian ini, sekarang lu dateng kemari, jadi pahlawan bertopeng!" selorohnya dengan beliak sebal. "Tapi topengnya bolong!"
Andrew yang bersimpuh di bawah lutut Jasmine, mengernyitkan dahi. "Jadi kamu gak percaya, kalo aku bukan Austin?" tanyanya pada Kandyla yang mulai sibuk membereskan barang-barang berjatuhan sisa perbuatan bejat Sigi beberapa saat lalu atas Jasmine.
Barang-barang itu entah tertubruk, atau dilempar-lempar Jasmine sebagai perlawanan. Membayangkannya saja, membuat kepala Kandyla serasa merayang dan ingin pecah.
"Kagak!" jawab Kandyla langsung saja menanggapi pengakuan Andrew.
Dan dia memang Andrew.
__ADS_1
Berlainan dengan gadis tomboy itu, Jasmine masih menatap sosok di depannya, dengan bola mata bergilir ke sana kemari mengabsen setiap detail iras tampan pria itu, seperti memastikan sesuatu. “Kamu bukan Austin," ucapnya kemudian.
Andrew melengak menggeser pandang ke arah wanita itu spontan. Tak terkecuali Kandyla yang langsung menghentikan kegiatan beres membereskannya.
"Kamu ... kamu ...," ucap Jasmine terbata. Wajahnya mulai memerah. Butir air matanya pun turut berjatuhan mengikuti apa yang dirasanya saat ini. ".... Kamu, lelaki yang mengisi kamar 128 Britannia Lisbon, 'kan?"
Sekepal jantung Andrew mendadak serasa terpental, lalu berdebug-debug saling menabuh. Sepasang matanya lekat menatap Jasmine dalam terjangan bingung.
"Maksud lu, Jas?" Kandyla bertanya heran dan penasaran.
Hening ....
Belum ada jawaban dari Jasmine maupun Andrew.
Sampai di detik berikutnya ....
"Dia ...." Sepertinya Kandyla mulai paham. Ia menunjuk wajah Andrew dengan kedua bola mata melebar seiring penemuan pikirnya. "Jadi lu ... kembaran si bule ... yang tadi diceritain Tara?!"
Andrew menolehnya cepat, lalu menjawab langsung saja tanpa berpikir, ''Iya."
Mendengar itu, Jasmine menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menutup mulut. "Pergi kamu!!" teriak histerisnya setelah itu. Air matanya lagi-lagi merebak. Kedua tangannya mendorong-dorong tubuh Andrew agar menjauh, mengingat kembali bagaimana dengan tololnya pria itu menikmati tubuhnya bermandi peluh di kamar hotel malam itu. "Aku benci kamu! Pergi!"
"Jas! Tenang!" Kandyla merengkuhnya berusaha menenangkan.
"Aku benci dia, Dy!"
Beruntung, apartemen itu kedap suara, jadi tak seorang pun dari bagian luarnya dapat mendengar teriakan Jasmine.
Tapi tak cukup beruntung, jika saja tadi Andrew dan Kandyla tidak datang di waktu yang tepat, Sigi mungkin sudah menjadi pria keempat yang turut memerosotkan busana Jasmine dan menjadi momok menghancurkan bagi wanita itu untuk ke sekian kalinya ... karena kedap suara.
"Jas, aku minta maaf! Malam itu aku mabuk!" Andrew melontarkan kalimatnya dengan raut penuh sesal.
Sebenarnya, jika dilihat dari pribadinya yang tukang ngacak-ngacak wanita, brutal, mafia, dan sejenisnya, penyesalannya bukan terbentuk dari alasan karena ia telah meniduri Jasmine, melainkan ... karena wanita itu, adalah wanita yang dicintai adiknya--Austin.
"Pergi!!" Jasmine tak peduli.
"Tapi aku ...."
__ADS_1
"Pergi!!!"
“Jas! Dengerin gua!” Kandyla mengambil bagian. "DIA ITU BAPAKNYA ANAK LU YANG SEBENERNYA! BUKAN BEN!"