Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 24


__ADS_3

Grung-grung suara Ninja Austin langsung senyap ketika gadis berseragam SMA yang mengaku bernama Cindy itu, menyetopnya di depan gerbang menjulang sebuah rumah.


"Ini rumah lu?" tanya Austin dengan suara seperti orang dibekap, karena terhalang helmet yang dikenakannya.


"Iya." Menurunkan lambat satu demi satu kakinya ke paving block yang menjadi alas pijaknya, Cindy nampak ragu, juga takut.


Austin mulai membuka helm yang lalu ia letakkan di badan atas dekat kepala motornya. Rambut pirang sedikit gondrong itu nampak semrawut tak dirapikannya.


Jarum jam di pergelangan tangan Cindy menanjak angka 01.23. Sudah sangat larut, bahkan menjelang pagi. Dan jalanan juga telah sepenuhnya sepi, selain satpam yang tadi berjaga di pos paling depan perumahan elite itu.


Melihat gemingnya Cindy, Austin mengambil kebijakannya sendiri. Tanpa menunggu pendapat gadis itu, ditekannya bell yang menonjol di kiri atas tembok yang mengapit gerbang rumah tersebut.


"Eh! Ngapa lu teken bell-nya, Kak?!" seru Cindy tak berhasil meraih tubuh Austin yang lebih cepat dengan pergerakannya.


"Emang lu mau molor di bak sampah?" sembur sarkas Austin. "Atau mau nggantung diri, nih di puncak gerbang rumah lu?!"


Cindy nampak mendengus. Memajukan bibir bawahnya yang lalu digunakannya untuk meniup poni lurus yang berjajar di seluruh keningnya, dengan mata mencuat ke atas.


"Cindy! Itu kamu?!"


Panggilan terdengar cukup keras dari dalam rumah, ketika pintu terbuka dan menampilkan siluet seorang pria dengan kimono hitamnya, yang kini mulai berjalan ke arah Austin dan juga Cindy.


"Mampus gue! Itu abang gue, Kak!" Seolah ia jadikan tameng, Cindy menyusupkan dirinya di balik punggung Austin--bersembunyi.


"Ngapain ngumpet lu?!" Austin menggoyang-goyangkan badannya bergeliat-geliut dengan kepala menyamping--mengusik Cindy.


Namun Cindy sendiri nampak kukuh berdiam di punggung kekar itu dengan mencengkram jaket yang dikenakan Austin--dari belakang tentu saja. Dan di sanalah ketakutan gadis itu berganti rona bodoh yang memblo'onkan. Ia mendapat sesuatu yang manis di posisinya. "Gila! Wangi banget," gumam Cindy pelan sekali. Disesapnya dalam-dalam aroma parfum Austin melalui punggung tegap yang disenderinya itu.


Malah mesem-mesem gajelas anak itu.

__ADS_1


"Eh, ngapain lu?!" hardik Austin ketika telapak tangan Cindy semakin rekat mencengkram sweater-nya.


"Cindy!" Di saat bersamaan, sosok itu telah berdiri tepat di balik gerbang setelah mengumpat kesal pada seorang satpam yang terlelap di posnya. Namun dilihat dari gesturnya kini, ia masih nampak menelisik--tak terlihat akan membuka gerbangnya sama sekali.


"Iya, ini adek lu, nih! Ngumpet di belakang punggung gua!" Austin menyergah jawaban langsung saja, meskipun jarak pandangnya belum begitu jelas menangkap orang itu.


Cindy kelabakan, setelah Austin menggamit bagian belakang kerah bajunya, persis menangkap seekor kucing, dan menggeser gadis itu ke posisi di sampingnya.


"Adadadada, buset! Baju gue!" Cindy berteriak kesal.


"Kamu!" Pria di balik gerbang menggeram menatap Cindy. Cahaya kekuningan dari lampu bulat yang berdiri di pinggir jalan di belakang Austin, tak cukup jelas untuk saling menangkap wajah masing-masing, selain Cindy dan abangnya yang memang jelas saling memahami postur tubuh juga suara satu sama lain.


"Abang ...." Cindy mulai ketar-ketir.


"Wahono! Buka kunci gerbangnya!" Pria itu berteriak pada satpamnya yang gemar tidur di jam-jam krusial.


Pria berkimono itu mulai melangkah keluar menghampiri adiknya. Terdengar napas memburu karena jengkel.


"Dari mana ka--"


Belum sempat kalimatnya ia tuntaskan, pandangannya telah membeku menatap Austin yang kini duduk di atas motornya. "Be-Bennedict," gumamnya terperanjat.


Dan Austin .... "Ternyata elu abangnya ni Anak Terong!" katanya cukup terkejut sebenarnya, namun kembali memasang ekspresi ringan sesaat kemudian. Ia sudah bangkit dari posisinya, bersidekap tangan seraya melangkah mendekat ke arah kakak beradik yang berdiri beberapa jarak di depannya tersebut. "Akhirnya kita ketemu lagi ... Bastian Sigi!" ujar Austin dengan senyum manis yang berisi makna kecut--sepertinya.


Urat-urat di wajah Bastian Sigi, atau lebih singkat panggil saja dia ... Sigi, tiba-tiba saja menegang. Pria ini adalah rival setan Austin ketika masih sama-sama bergelut di lintasan balap beberapa bulan silam. "Ngapain lu sama adek gua?!" tanyanya mencoba fokus saja pada teori malam ini, ketimbang seteru dinginnya dengan pria itu di waktu yang lalu.


"Gua ...?" Austin terkekeh seraya membuang wajah. "Sayangnya banyak hal yang udah gua laluin sama adek lu malem ini!" kelakarnya kembali menatap Sigi dengan wajah santai tanpa dosa.


"Apa maksud lu?!" Sigi mulai terpancing. Nadanya cukup tinggi untuk ukuran melawan kekonyolan Austin. Lalu mengalihkan pandangnya pada Cindy yang menggeleng-geleng menatapnya dengan wajah seperti orang susah B.A.B.

__ADS_1


"Nggak, Bang! Aku nggak ...!"


"Nggak salah lagi 'kan, Cindy?" Austin tiba-tiba merangkulkan lengannya di pundak gadis itu dengan senyum sintingnya. "Kita abis seneng-seneng tadi. Mobil lu aja ada di tempat gua 'kan sekarang?!"


Lalu Sigi ....


"Jangan sentuh-sentuh adek gua!" Sekali tarikan, tubuh Austin langsung terhuyung ke samping. "Kalo lu macem-macem sama adek gua ... mati lu!" Sigi jelas sedang mengancam.


Deru napasnya terdengar kasar, juga kilat tajam mata yang memancarkan kebencian.


Dengan gerak slow motion, Austin kembali menegakkan tubuhnya. Seringai setan masih nampak membasuh wajahnya yang tegas. Dua langkah Austin maju mendekat ke arah Sigi, mengambil posisi berdiri tepat di hadapan pria itu.


"Lu pikir gua gak tahu? Kalo lu yang udah oprek motor balap gua, ampe gua oleng di lintasan, trus kecelakaan, dan berakhir gua amnesia gegara pala gua niban aspal sekeras-kerasnya?"


Selain Sigi, Cindy juga turut membelalakan matanya mendengar ungkapan yang baru saja dilontarkan Austin.


"Jadi ... dia ini ... Austin Bennedict, si pembalap keren itu?"tanya hatinya tak percaya, "Pantesan aja gantengnya sama, padahal mereka emang orang yang sama." Mulutnya sudah pasti menganga lebar, hingga mampu menampung ratusan lalat di dalamnya--mungkin.


"Apa maksud lu?" tanya Sigi, entah itu raut ingin tahu, atau merasa terancam.


Austin tersenyum kecut. "Kadang gua ngerasa gua ini terlalu baek biarin lu keliaran bebas," kicau Austin sarkas. "Gara-gara lu, gua harus nunggu setaun, buat bisa balapan lagi! Harusnya gua bikin lu ngerasain apa yang gua rasain!" Nada bicara Austin sangat pelan, namun cukup menekan. "Atau lebih ringannya ...." Kepalanya ia majukan ke dekat telinga Sigi, lalu berbisik, "Gua obrak-abrik adek manis lu ini, ampe mencar kek telor orak-arik."


Sepasang mata Sigi membulat seketika. Deru jantungnya memacu cepat. Ia bahkan masih tak bergerak ketika Austin berbalik badan, memakai helm-nya, lalu pergi menunggangi Ninja-nya dengan pautan gas memekakkan telinga.


Saat itulah Sigi mengerjap.


Kalimat terakhir yang dipaparkan Austin, seperti suntikan sebesar linggis yang dalam sekejap membuat dirinya terpental.


Kini tatapannya ia alihkan pada Cindy yang masih menunduk ketakutan di depannya. Lantas dicengkramnya kedua bahu gadis tomboy adiknya itu penuh emosi. "Kamu ngapain aja sama Bennedict, huh?! Kenapa kamu bisa sama dia?!" tanyanya meradang penuh ketakutan. "Jawab Abang, Cindy!"

__ADS_1


__ADS_2