
"Lah, ini 'kan arah ke villa gua?" Austin bergumam seraya mengamat padang ke jalanan di luar batas kaca mobilnya. "Kamu yakin ini jalan ke villa kamu?" Pertanyaan itu Austin tujukan pada gadis yang duduk di sampingnya. Sementara stir masih sibuk diputarnya kiri dan kanan.
"Iya! Villa Kakak juga daerah sini?!" Gadis berjaket tebal itu balik bertanya dengan wajah melengak, ia jelas mendengar gumamam Austin lima detik lalu. "Kebetulan banget, dong?!" ujarnya girang.
Dia mengaku namanya Alsy, gadis yang ditemui Austin di bukit satu jam lalu. Langkah mundur serampangan demi sebuah potret, membuat gadis itu terjerembab ke belakang dan akhirnya jatuh. Austin memang menolongnya, tapi dalam keadaan terlanjur nggubrak. Pergelangan kaki gadis itu terkilir cukup parah, hingga butuh setidaknya tukang pijat untuk memulihkan.
Dan sekarang, si bule memutuskan mengantarnya pulang, setelah Alsy menolak untuk dibawa ke rumah sakit olehnya. Sedangkan matic yang dibawa gadis itu dititipkan pada pemilik kafe, dengan pelicin tiga lembar pecahan merah--gambar pasangan presiden dan wakilnya, oleh Austin. Dan akan diambil oleh Alsy esok harinya.
"Villa aku paling ujung." Austin mengungkapkan. "Deket kebon duren, yang kalo udah mateng, tu duren wanginya bisa ngalahin parfumnya Jeniper Lupis," lanjutnya dengan tampang serius alakajim sintingnya.
"Jeniper Lupis?" Alsy mengulang dengan wajah penuh kerutan bertanya, seraya menoleh Austin yang masih fokus dengan kemudi.
"Udah gak usah bingung. Cukup aku aja!" hardik Austin seenak perut.
Alsy menanggapi geleng-geleng disertai kekehan lucu. "Garing kamu, Kak!" komentarnya, lalu menoleh ke jalanan di samping kacanya. "Stop! Yang ini nih, villa-nya!"
Pemberitahuan itu disambut Austin sigap. Mobil sudah diremnya tepat di depan sebuah bangunan villa tanpa pagar, dengan tatanan arsitektur modern.
Alsy memilih turun lebih dulu. Kakinya yang sakit sisa insiden tadi membuat langkahnya sedikit pincang.
Austin ikut turun. Kunci mobil diraupnya dalam genggaman. Sejenak mengacau pandang ke sana-sini seperti seorang penguntit, setelah membanting ringan pintu mobilnya lebih dulu tentu saja.
"Ayo masuk!" ajak Alsy. Langkahnya sudah mencapai bagian teras villa, yang disusun dengan kramik bermotif serat kayu usang dihiasi pilar segilima berwarna gold sebagai penopang loteng di beberapa titik.
"Ini villa punya kamu?" Austin bertanya. Sebuah kupluk rajut dipakainya untuk menendang suhu dingin yang mulai menusuk pori-pori.
"Bukan! Punya temen aku!"
"Hmm," Austin manggut saja. Sebuah sofa di depan pintu didudukinya tanpa dipersilahkan.
TING TONG
Bell ditekan Alsy hingga dua kali. "Ferooo!" teriaknya--entah itu bahasa apa. Mungkin sejenis salam, atau mungkin ... nama sesosok makhluk. "Ferooo! Buka!" ulangnya menambah oktaf.
Tak ada sahutan.
__ADS_1
Alsy melemaskan bahu dengan bibir mengerucut. "Kemana sih ni anak?!" decitnya mulai kesal.
"Fero itu makhluk apa?" Dengan kekonyolan seperti biasa, Austin bertanya. Sebatang rokok ia ambil di saku celana, lalu dinyalakannya setelah bungkus putihnya ia letakkan di atas meja yang menyekat kursi lain di sebelahnya.
Dan kursi itu diduduki Alsy satu menit setelahnya.
"Kalo budek gini kayaknya batu sungai!" jawab gadis itu seenak udel, sembari mulai memainkan ponselnya, mencoba menghubungi yang dimaksud.
Panggilan telepon yang dilakukannya tersambung, namun belum sempat diangkat, sebuah mobil mewah berwarna putih, terhenti di belakang mobil Austin. Menyusul sosok seorang wanita keluar dari dalamnya tak lama kemudian.
Alsy sontak mengangkat tubuh dan merunduk untuk mematikan terlebih dahulu panggilan teleponnya. Lantas mengambil langkah seribu menyongsong orang itu ke arah halaman.
Sedang Austin hanya memperhatikan di posisinya, masih santai dengan hisapan demi hisapan rokok di jarinya--menunggu.
Alsy dan wanita itu bertemu tepat di depan mobil Austin yang saat ini tengah ditelisik oleh dia yang baru saja turun dari mobil putih.
"Kamu dari mana, sih, Fer?!" tanya jengkel Alsy pada sahabat yang dimaksudnya sebagai pemilik villa.
Namun bukan jawaban tepat yang didapat cewek itu.
"Kamu tu kalo ditanya ... kebiasaan!" Alsy menghardik. "Tuh, punya dia!" jawabnya menunjuk Austin dengan dagunya. "Pasti kaget?!" katanya senyum-senyum. Ia jelas kenal siapa Austin yang terkenal itu.
Sejurus langsung, diikuti gadis itu kemana wajah Alsy mengarah.
Orang itu hanya terlihat kakinya saja yang terjuntai merosot ke lantai, sedang separuh tubuh dan wajahnya terhalang pilar tinggi teras.
"Siapa dia, Al?" tanyanya lagi pada Alsy.
"Calon suami aku!" Alsy menjawab sekenanya. Lalu membalik tubuh menyusun langkah kembali dengan kaki pincangnya ke teras. "Aktor hollywood lho! Froy Gutierrez!''
"Preeett!!"
Alsy terkekeh mendengar tanggapan itu.
"Eh, kaki kamu kenapa?" tanya gadis itu lagi seraya bergerak cepat mengejar Alsy, kemudian meraih pundaknya untuk ia gandeng.
__ADS_1
"Jatoh!" jawab Alsy lagi alakadar. Langkah keduanya kini mencapai tepian teras. "Nih dia nih, Kak, yang punya villa," katanya memberitahu Austin.
Austin yang baru saja mengiblatkan wajah pada ponselnya karena sebuah pesan chat, langsung melengak ke arah Alsy, lalu beralih pada seseorang yang beriringan dengan gadis itu di sebelahnya. "Oh, hay!" sapanya ringan saja, diiringi lambaian tangan.
Namun tak berbalas.
"Fer, kamu kenapa?!" Alsy bertanya heran, saat tiba-tiba dilihatnya gadis yang disapanya Fero itu malah membeku di tempatnya, menatap Austin tanpa kedip. "Fer ...." Ia mengulang. Dikibas-kibaskannya telapak tangan di depan wajah cewek itu untuk merebut kesadarannya.
Namun ....
"Kak Austin ...."
Alsy tersentak, tak terkecuali Austin sendiri, yang kemudian keduanya saling beradu pandang--Alsy dan Austin.
"Kaget 'kan, aku nemuin bintang oliwud?" Alsy tersenyum menang seraya mencondongkan wajahnya ke sisi wajah sahabatnya.
Austin menatap wanita itu dengan tampilan menelisik. "Apa kita pernah ketemu sebelumnya?" Ia bertanya dengan tatap mengamati.
Geluguk susah payah menelan ludah, tatapan penuh rasa haru, juga senyuman yang pada akhirnya ia sunggingkan. Selanjutnya ia mulai membuka mulut untuk bersuara. "Bola kertas isi coretan puisi, cewek yang tengah malem nongkrong di atas kap mobil penyok warna merah depan bengkel kamu, pake seragam SMA, malam minggu, empat tahun lalu!" Gadis itu bertutur tanpa jeda walau terdengar sedikit kaku.
Austin ... seperti gulungan kamera yang bergerak menyusur setiap selaksa kenangan di kepalanya, pria itu memutar otaknya untuk mencerna clue yang baru saja disebutkan gadis itu dengan kening berkerut-kerut.
Hingga sepersekian detik kemudian ....
"Cin-Cindy ...." Seketika ia mengangkat tubuhnya untuk berdiri dengan mata melebar setelah berhasil digapainya ingat kejadian itu. Ia memapah langkahnya kaku--mendekati gadis itu. "Ini beneran kamu?"
Dengan senyuman haru, juga mata yang tiba-tiba saja berkaca-kaca, Cindy mengangguk. "Iya, Kak. Itu aku." Gadis itu mengakui. "Aku Cindy, adeknya Bang Sigi."
"Oh, my ...." Austin menggeleng-geleng dengan senyuman tak percaya, sedang kedua tangannya terposisi berkacak pinggang. "Kamu beda banget!" katanya takjub. "Cantik!"
Cindy terkekeh tipis menyikapi. "Biasa aja, Kak."
Alsy masih bingung. Dengan tampang oon-nya dia bergantian menatap sahabatnya lalu beralih pada Austin seperti tengah mengakurkan sesuatu. "Jadi kalian memang beneran saling kenal?"
"Iya, Al! Dia ini musuh bebuyutannya abang aku!" Cindy menjawab receh disertai kekehan ringan.
__ADS_1
"Kek novel, ya, dunianya sempit," komentar Alsy geleng-geleng.