Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 67


__ADS_3

"Ya, Tuhan!" Terangkat kedua telapak tangannya--membekap mulutnya sendiri. Cindy ... mata beningnya menatap takjub pemandangan di depannya.


Disekat hamparan sungai berair jernih selebar tiga meter yang mengalir jauh ke arah selatan, dipagari beton yang menjulang lima meter tingginya, sebuah taman buatan seluas lapangan badminton, dihiasi ratusan jenis bunga yang tertata layaknya negeri dongeng, seolah menjadi sihir yang tak bisa ditepis keindahannya. Kecil kualitas matil.


Cindy berdiri di jembatan cembung di atas sungai tersebut. Ditatapnya tanpa kedip sekeliling tempat itu dengan mata berbinar.


Perlahan tapi pasti, tungkai kakinya tergerak menjejak lahan taman tersebut, tanpa takut pada waktu yang merangkak pada perputaran hampir tengah malam. Ia juga tak peduli betapa dingin menusuk tubuhnya saat ini. Rasa cemas akan Alsy yang ditinggalnya tanpa pesan di villa miliknya, langsung pudar dalam sekejap. Gadis itu benar-benar telah tersihir.


Jejeran bunga-bunga anggrek berlainan jenis yang tertata di rak-rak bambu berflitur, menjadi objek yang paling menarik minat Cindy untuk dihampirinya sekarang. Jemari lentiknya mulai terangkat menyentuh kelopak bunga itu penuh perasaan. "Cantik," komentarnya suka.


Sampai sesuatu berhasil membuyarkan irama kagumnya hingga tersentak. "Kak Austin! Ngagetin aja!" semburnya seraya mengusap-usap dada hasil kejut pria itu.


Austin hanya mencoel pipinya seulas saja, tapi Cindy sekaget itu, saking pikirannya tersita oleh indahnya panorama buatan yang saat ini dijejakinya--taman buatan yang terletak di belakang villa milik Austin. Tidak ada kebun durian di sana, seperti yang diungkapkan pria itu pada Alsy. Benar-benar si pembual yang sakit---sakit otak.


"Dingin." Sebuah baju rajut tebal berkancing, baru saja dibawa Austin dari dalam villa, dibalutkannya ke pundak Cindy dari belakang. "Pake yang bener," titahnya. "Kalo sampe masuk angin, gak ada cewek juga koin buat kerokin kamu."


Cindy terkekeh lucu menanggapi itu, "Kan bisa pake sendok, trus ada kamu juga 'kan, Kak?" Sembari melakukan yang dikatakan Austin--membalutkan baju tebal itu dengan baik ke tubuhnya. Cepol rambutnya nampak merosot tersenggol tangannya sendiri saat merapikan kerah belakang baju tersebut.


"Bisa sih," kata Austin lambat tak meyakinkan. "Tapi masalahnya bukan itu!" lanjutnya gamang.


"Trus?" Cindy mendongak penasaran menatapnya seraya merapikan ikatan rambutnya kembali.


Sejenak saja Austin diam. Pandangannya nampak ragu tersirat, seperti Roma yang sulit memilih antara Ani dan Rika. "Nanti tangan aku kebablasan maen ke depan!"


"Haaa??" Cindy sontak memelototinya. "Mesum!" semburnya dengan pukulan di pundak pria itu.


"Dih!" Austin mencebik. "Aku tuh jujur! Kecuali kalo kerokannya gak buka baju!" lanjutnya seraya membalik badan lalu melangkah. "Itu juga kalo ada! Yang dikerokin baju, bukan punggung," imbuhnya dengan bibir melengkung. "Orang gila juga gak gitu-gitu amat!"


Cindy menyikapi dengan tatapan sebal, tak bisa membalas apa pun, kecuali .... "Sinting!"


Seraya masih terkekeh, sebuah kolam kecil dihuni warna-warni ikan, dihampiri Austin. Diraihnya sebotol kecil umpan yang ditaruh di dalam sebuah kotak kaca kecil di samping kolam, lalu menurunkan tubuhnya--berjongkok dengan kaki zigzag. Mulai disebarnya pakan itu pada ikan-ikan, hingga nampak pemandangan riuh berkecipak saling berebut makanan antar hewan tersebut di depannya.

__ADS_1


"Taman ini kamu yang bangun, Kak?" suara Cindy, tiba-tiba bertanya. Ia kini sudah berdiri tepat di belakang Austin.


"Bukan!" jawab singkat pria itu tanpa menoleh.


"Trus?"


"Tukang bangunan sama ahlinya," jawab Austin seenak udel. "Aku mana ada waktu ngorek-ngorek kebon, kayu, sama semen."


Cindy membeliak sebal. "Maksud aku ... ini semua ide kamu ...?!" ralatnya sedikit ngegas.


"Oh," kata Austin songong. Ditaruhnya mini botol pakan ikan yang dipegangnya kembali ke tempatnya. Mengangkat tubuhnya berdiri, lalu berbalik menghadap Cindy dengan bibir tersenyum lebar. "Tadi kamu 'kan nanyanya aku yang bangun apa bukan?"


"Bodo ahh!" dengus Cindy kesal. Sisi kiri tubuh Austin ditabraknya dengan bibir mengerucut.


Austin terkekeh menanggapinya seraya menggeleng geli. Tak luput dari pandangnya, langkah gadis itu terhenti tepat di tepian sungai berpagar besi setinggi pinggang yang samar tak terlihat, karena dirambati rimbunnya tanaman pagar berjenis clematis.


Suara deru air yang tenang terasa menyesap ke kepala Cindy, menghasilkan senyum di bibirnya yang manis. Sepasang tangannya mulai beringsut memeluk tubuhnya sendiri.


Rahang tegas Austin di atas kepalanya, membentur ujung keningnya yang dingin.


"Gini 'kan anget," kata Austin dengan senyuman tipis. "Udah, diem aja, gak usah geliat-geliut kek ulet dikasih garem!" Ia menghardik saat Cindy mulai meronta minta dilepaskan.


"Jangan kayak ginilah, Kak! Aku gak nyaman," ujar Cindy dengan bahu menegang. Kedua telapak tangannya turun menumpu tangan Austin yang terpaut di depan perutnya.


"Apanya gak nyaman?!" hardik Austin lagi. Pria itu malah sengaja menyanggakan dagunya di pundak gadis itu dengan senyuman menjengkelkan seperti biasa. "Hmm?"


Cindy membuang tatapnya ke depan. Ia merasakan saat ini dadanya mulai bergemuruh. Semakin kuat dan tak terkendali. Wajahnya memerah di antara serbuan bekunya udara yang menyengat. Bola matanya bergulir ke sana kemari sebagai cara mengalihkan ketegangan.


Dan semakin tegang ketika salah satu telapak tangan Austin bergerak naik dengan cepat meraih dagunya agar terdongak.


Sejenak diam saling menatap dengan ekspresi berbentur berlainan tajuk.

__ADS_1


Cindy yang tegang dan terkejut, sedang Austin dalam mode rapuh--kerapuhan yang berisi tatapan dan rasa mengharap lebih dari sekedar saling berpandang. Bibir Cindy membuatnya haus, ia jujur saja!


"Kakak--"


"Umm!"


Bibir Austin mendarat cepat di bibir Cindy. Bukan sebentuk kecupan kilat seperti sebelumnya ketika di halaman villa milik gadis itu tadi, melainkan ... kecupan dalam yang cukup menekan.


Semakin lama ....


Hanya menempel tanpa gaya, rasanya tidak akan pernah meraih sensasi manis dari nikmatnya berciuman, menurut Austin. Merasa posisi itu tak akan menciptakan perkembangan, ia akhirnya memutuskan bertindak cepat. Menggerakkan tangannya, memutar tubuh Cindy agar lurus menghadapnya, yang kemudian saling menempel karena ia gegas menguncinya dengan rengkuhan posesif.


Ciuman yang lepas itu disambung Austin kembali tanpa babibu. Satu tangannya melingkari kepala Cindy untuk menekan dan menciptakan keintiman yang hakiki.


Cindy tak berkutik. Kedua telapak tangannya masih menempel di dada bidang pria songong yang terus menjilat dan melumati bibirnya tanpa ampun.


Sebuah gigitan kecil membuat gadis itu terlonjak, dan pada akhirnya membuatnya terpaksa membuka mulut. Mulut yang sedari awal ia katupkan tak ingin membalas serangan dadakan pria itu, kini pasrah diobrak-abrik.


Lidah Austin lihai bergoyang di dalamnya, tanpa peduli ketegangan yang dirasa Cindy semakin merajam.


Tak ada celah untuk berontak, selain ....


Ikut menikmatinya!


Gelenyaran panas di sekitaran rahimnya terasa berdenyut-denyut, Cindy telah terjebak dalam sensasi memabukkan itu. Bahkan kedua tangannya telah naik mengalung di leher Austin tanpa ia sadari. Ini ternyata menyenangkan, dan ia suka. Kepalanya turut meliuk ke sana-sini teriring suara capcipcup yang berisik mengalahkan deru angin atau pun kicauan burung hantu yang menertawakan entah di mana.


Menarik sejenak pagutan liarnya dengan napas sama-sama terengah, Austin menatap manik mata Cindy dengan senyum penuh kemenangan. "Kita mabuk bersama malam ini," ucap paraunya di antara naf.su yang membuncah.


Respon Cindy seperti kebanyakan gadis yang pernah digarapnya; mengangguk dengan tampang tolol.


^^^Bersambung masih ....^^^

__ADS_1


__ADS_2