
Lega sudah beban yang memenuhi kandung kemih Austin. Ia keluar dari dalam kubikel toilet lalu berhenti sejenak di depan cermin untuk merapikan rambutnya yang tak ada kusut sama sekali sebenarnya.
Hanya ngaca saja, mumpung digratiskan.
Namun ketika tubuhnya hendak berbalik ke arah pintu keluar, tiba-tiba ....
"Andrew." Austin menyebut nama orang di hadapannya, diiringi wajah terkejut dengan kadar paling maksimal. Kelopak matanya bahkan terasa sulit untuk mengecil.
Seorang pria, serupa dirinya. Bahkan nyaris tak ada beda, layaknya bayangan di cermin ajaib, baru saja memasuki toilet. Dan langsung terpaku ketika sepasang matanya balas menatap Austin yang telah lebih dulu dikejutkannya.
"Austin ...."
Kini wajah kedua pria itu saling berhadapan. Seperti saling bercermin.
"Sialan!" Austin menggeram. Sepasang matanya terasa mulai memanas.
"What are you doing here?" tanya pria pemilik nama Andrew itu pada Austin, dengan raut terpelongo tak percaya pada apa yang dilihatnya.
__ADS_1
"Gua di sini gara-gara lu, Bangsat!"
Balasan kalimat Austin membuat sepasang mata Andrew membola. Sejenak pria itu meresapi keterkejutannya. Bahkan terlalu mengejutkan dibanding jatuhan meteor di atas atap rumahnya--contoh saja.
"Bahasa Indonesia-mu wow juga ya, Aust!" Entah itu bentuk kekaguman, atau ejekan.
"Diem lu!" hardik Austin. "Gua mau bicara banyak sama lu!"
....
....
"Sekarang jelasin, kenapa kamu bisa ada di sini, Aust?" Andrew memulai pembicaraan. Tuntutan rasa penasaran membuat keningnya tak lepas dari kernyitan.
Sebuah senyuman kecut dihadiahkan Austin untuk menyikapi pertanyaan dengan nada intimidasi yang terlontar dari mulut Andrew. "Kalo gua bilang, gua di sini udah ampir enem taun, lu mau apa?"
Ekspresi Andrew menampilkan keterkejutan lagi-lagi. Namun disembunyikannya dalam balutan senyuman cemooh. "Kamu sudah pantas menggantikan Mr. Bean saat dia terserang flu di tempat syuting."
__ADS_1
Bagaimana mungkin adik kembarnya itu bisa beradabtasi di negara dengan mulut berisik seperti negara ini?
Tetapi dinilai dari kelancaran bahasa lokal yang diucapkannya ... siapa yang bisa menyangkal?
Sebagai kakak yang bahkan jarak kelahirannya dengan sang adik hanya terhitung sepuluh menit, Andrew jelas paham, Austin jenis pria pendiam yang sangat sulit berinteraksi dengan dunia luar. Karena itu, ketika ia melarikan diri dari negara asalnya karena masalah tolol keluarga yang membuatnya jengah, ia merasa tak leluasa mengajak Austin untuk pergi bersamanya. Meskipun hatinya cukup berteriak tak tega meninggalkan adik kembarannya itu seorang diri bersama ibunya yang sakit-sakitan.
Ayah mereka telah lebih dulu pergi dengan kasus berkedok kecelakaan lalu lintas yang kemudian merenggut nyawanya secara cepat. Entah kenyataan itu benar atau tidak.
"Mommy terbunuh, Andrew!" ungkap Austin tanpa basa-basi lagi. "Dia ditembak," lanjutnya dengan suara berat penuh tekanan. "Anak buah Carlos datang ngancurin rumah dan semuanya, cuma buat nyari bukti rekaman pelenyapan Hilton yang mereka bilang ada di tangan Daddy. Mommy yang berusaha halangin mereka, akhirnya kena imbasnya."
Seperti dicongkel paksa dan tiba-tiba, pasang mata Andrew lagi-lagi membulat. Dentuman hebat mulai menyerang seisi dadanya. Lidahnya bahkan terasa kelu untuk berucap. Berita yang disampaikan Austin terasa lebih sakit dari sekedar tembakan peluru yang menembus bagian punggungnya dua tahun lalu.
Mom ....
Aku bahkan baru berniat pulang akhir bulan ini, untuk menjenguknya, batin Andrew penuh sesalan. Pasang matanya telah memerah menahan lelehan air yang menggantung tak tahan di pelupuknya.
"Dan gua udah jual semua aset orang tua kita di Amerika, buat perjalanan gua nyari lu di negara ini!" tambah Austin lagi-lagi berhasil menyentak seisi jiwa Andrew.
__ADS_1
Oh, Loorrdd ...