
Jalanan cukup lengang untuk Austin memacu kendaraannya di atas kecepatan rata-rata. Sedikit amarah menggelitik. Perasaannya tak sedang baik-baik saja.
Tatapan matanya menyorot kekesalan hakiki. Seolah ingin menampari dirinya sendiri, yang mengapa jadi selemah itu hanya karena seorang Jasmine. "Shitt!!" umpat geramnya seraya memukul stir.
Namun sedikit teralihkan, ketika ponselnya yang ia geletakan di kursi kosong sebelahnya bedering sekali hentak, pertanda sebuah pesan baru saja masuk.
Pedal rem diinjaknya gegas, tepat di tepian jalanan yang rimbuni sebuah pohon raksasa di sisiannya, mobilnya terhenti. Diraihnya ponsel dengan apel sisa gigitan itu untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan.
Biasanya Nimas dengan segudang pesanannya untuk keperluan Lily, Austin menebak. Namun ekspresi wajahnya berubah kerutan ketika nama pengirim pesan itu mengatasnamakan dirinya .... "Cindy ...," gumam Austin menyebutnya. "Adeknya Sigi. Dari mana dia tau nomor gua?"
Tak banyak berasumsi lagi, Austin langsung menginjak pedal gas mobilnya, setelah melempar asal ponselnya kembali ke kursi kosong di sebelahnya.
Hanya memakan sekitar 25 menit saja, mobil Austin sudah terparkir di depan halaman sebuah kampus. Ia lalu turun dan menutup pelan pintu mobilnya. Mengedar pandangannya ke sekeliling dengan langkah-langkah kecil. Ponsel yang digenggamnya mulai ia otak-atik. Sejenak dicobanya untuk kembali menghubungi nomor dengan foto kontak berwajah Cindy--si gadis tomboy itu.
Namun sepertinya usaha Austin tak mendapatkan respon. "Jangan-jangan ngerjain gua ini bocah!" gumamnya dengan seulas wajah kesal.
Banyak mahasiswa berlalu lalang dengan segala bentuk aktifitas santai serampangan. Ada yang berjalan seraya menekuni layar ponsel, bergosip ria di bawah pohon, juga sekelompok mahasiswa laki-laki yang mungkin tengah menggombali beberapa gadis yang terduduk di deretan bangku besi di tepian lahan dengan bunga-bunga di sekitarnya.
"Mana tu bocah?" Austin masih celingukan mengedar seraya berjalan memasuki area halaman kampus.
Akan jadi pusat perhatian jika saja hoodie-nya tak ia naikan. Sebuah kacamata hitam juga telah ia pasang untuk menutupi warna matanya yang mencolok, dibantu sehelai masker untuk melengkapi penyamaran wajahnya.
"Hallo!"
Austin spontan menghentak kepalanya ke belakang. Seorang pemuda dengan kacamata bulat bening dan tebal, baru saja menepuk pundaknya. Dilihat dari tiga buah buku tebal yang dipeluknya, pemuda itu pasti salah satu anak didik di sana.
"Ya," sahut Austin seraya membetulkan sekilas kacamatanya.
"Maaf, dari tadi saya perhatikan, kamu kayak lagi nyari sesuatu?" tanya pemuda itu ingin tahu.
"Ah, iya. Umm ... lu kenal Cindy?" tanya Austin tanpa basa-basi.
Pemuda itu mengernyit dengan tampang berpikir. "Cindy ...?"
"Iya, Cindy. Cindy ...." Kali ini Austin merasa terjebak. "Cindy siapa, ya ...?" Ia menggaruk pelipisnya kebingungan.
Pemuda kacamata itu masih menunggu. Namun ekspresinya berubah, ketika kepalanya berhasil menangkap sesuatu. "Cindy yang tomboy itu, bukan?!" tanyanya menembak.
"Ah, iya!" Satu telunjuk Austin mengacung ke depan.
"Oh, kalo dia, tadi aku liat ada di samping sana."
__ADS_1
Austin mengikuti arah telunjuk pemuda kacamata itu. "Di sana?" ulangnya memastikan. "Yakin?"
"Iya. Serius. Tadi sih keliatannya kayak lagi ngobrol serius sama Geng Kanebo."
.....
Belum sampai kaki Austin menjejak arah yang ditunjuk si Kacamata, suara gemuruh hentak puluhan kaki berlarian ke arah berlawanan, cukup mencuri perhatiannya.
"Ada apa?" Ditepuknya bahu seorang gadis yang kebetulan melintas di depannya.
"Biasa, Kak. Kayaknya perundungan anak baru sama Geng Kanebo."
Sekilat setelah informasi itu ditangkapnya, Austin langsung melanting menyambangi tempat di mana semua orang berkerumun. Kepo juga dia.
....
.....
.....
"Woooyy! Siapa yang narik baju gua, Bangsat!" teriak seorang pemuda dengan rambut plontos yang tengah sibuk memainkan gayung berisi air keruh yang disiramkannya perlahan pada kepala seseorang yang merunduk di bawah kakinya. Perempuan di sebelahnya yang juga turut membantu kegiatan sinting itu pun tak lepas dari renggutan tangan yang ... tentu saja milik Austin.
"Gak guna kalian!" sembur Austin. Setelah menghempas kasar tubuh kedua orang itu, ia lalu meruduk meraih bahu orang yang terduduk kuyup di hadapannya, lalu menuntunnya untuk berdiri. "Lu gak papa, 'kan?"
Si korban bullying yang tak lain adalah Cindy itu terdongak menatap wajah Austin yang masih rapi tertutup atributnya. Ia tak berkata apa pun, selain anggukan kecil sebagai jawaban.
Baluran tepung terigu dipadu air keruh penuh kerikil, membuat wajah gadis itu nampak naas. Austin cukup miris menatapnya.
"Otak lu semua keserempet odong-odong?!" cemooh Austin mengarah pada semua orang di sekitaran. Cukup membuatnya gagal paham, penyiksaan di depan mata, kenapa semua malah asyik menonton? "Orang lagi susah malah dibikin hiburan! Bang sat kalian semua!"
"Siapa lu ikut campur urusan kita?" Si pemuda plontos maju bertanya dengan wajah menantang. Teman-teman gengnya nampak berjejer di belakangnya seperti pasukan perang tanpa perisai, selain wajah-wajah keruh berminyak gambaran ketololan mereka.
Austin tersenyum remeh di balik masker dan kacamata hitamnya. "Sejuta dulu, buat gantiin bajunya Cindy! Baru gua kasih tau siapa gua!"
"Anjimm, rese juga lu, ya!" Si pemuda plontos menggeram tak suka. "Cewek sinting gak guna kayak dia nih, gak pantes ada di kampus ini."
Austin tersenyum kecut. "Trus yang pantes di sini, siapa menurut lu, Anak Kecil?!"
"Keparat lu! Beraninya ngatain gua Anak Kecil." Urat-urat pemuda brandal itu semakin menegang penuh amarah.
"Memang!" balas santai Austin.
__ADS_1
Cindy yang masih diam di rangkulan lengan kanan Austin mendongak. Gadis itu masih nampak ketakutan, namun nalurinya spontan menilai cara bicara pria yang merangkulnya tersebut. Ia mungkin mengenal pria itu, dan ....
....
"Kak Austin," gumamnya lirih.
Austin menundukkan wajahnya menatap Cindy, hingga kini keduanya saling bertemu tatap. "Jangan takut. Ada gua!" kata si bule itu sok iyak.
Cindy tersenyum haru. "Makasih," ucapnya pelan saja. "Dia beneran datang," kata hatinya penuh syukur.
"Berani adepin gua lu!" Salah satu pemuda berambut gondrong dari anggota geng itu menantang dengan wajah songong ke arah Austin.
Kini malah sebuah kekehan lucu ditunjukkan Austin dengan suara cukup didengar semua orang. "Kalo gua ladenin lu dulu, mie gua keburu ngembang," kelakarnya, lalu mengalihkan pandangnya pada Cindy seolah tak peduli. "Gua anter pulang, Cin."
Cindy mengangguk tersenyum.
Namun belum sempat Austin berbalik badan, sebuah tarikan di belakangnya membuat ia terhuyung, hingga tudung yang dikenakannya terlepas dan menampilkan jelas warna blonde rambutnya yang berantakan.
"Kampret!" sembur Austin terkejut. Rangkulan di pundak Cindy ia lepaskan secara spontan.
"Apa lu?!" Anak muda itu semakin memasang tampang menantang.
Dengan lagak santai seperti gerak slow motion di film-film, Austin menurunkan kacamata sekalian dengan maskernya, masing-masing menggunakan kiri dan kanan tangannya. "Gua siap!" katanya dengan seringai membagongkan.
Menyusul keadaan ricuh suara-suara di sekelilingnya yang terkejut bukan kepalang.
Austin Bennedict.
Siapa yang tak kenal dia. Pembalap tampan, korban kecelakaan dalam pertandingan, sampai amnesia dan vacum sementara dari lintasan.
Hahaha ....
Para mahasiswa berandal itu terang tercengang. Tak satu pun dari mereka berani berkoar setelah mengetahui siapa yang sebenarnya mereka tantang.
Cindy tersenyum menatapnya. "Anterin gua balik aja, Kak. Mereka udah jadi patung."
Tatapan Austin sontak tergeser ke arah gadis itu. "Siap, Tuan Putri!" katanya dengan senyum mengembang. Tanpa lagi mempedulikan sekitar, Austin menghampiri Cindy. "Gua mandiin kalo perlu," godanya receh. Laju dengan sekali hentak, tubuh Cindy telah naik dalam gendongan bridal style ala Austin. Dan itu keren, sekaligus bikin iri.
Keterkejutan luar biasa Cindy atas perlakuan Austin, diiringi jerit histeris semua orang yang hadir di sekeliling.
Hmm ... uwu sekali ya, Austin.
__ADS_1