Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 42


__ADS_3

Sepasang tangan Bastian Sigi erat terkepal. Keterkejutan yang didapatnya benar-benar terbawa hingga ke ubun-ubun, membentuk emosi yang sama sekali tak ditunjukannya melalui gerakan.


"Jasmine ... Austin ... mereka sudah memiliki seorang anak? Bagaimana bisa?" Kepala Sigi merayang tak habis pikir.


Pintu ruangan kerjanya baru saja tertutup, menelan tubuh Jasmine di baliknya. Wanita itu pergi setelah tak sanggup melanjutkan kalimat-kalimat penjelasan yang sangat ingin diketahui Sigi, langsung dari mulutnya.


Dengan kedua tangan berkacak pinggang, Sigi berjalan mendekati bilahan kaca lebar di kiri ruangannya, di mana segenap pemandangan kota cukup jelas terlihat di baliknya. "Gua bahkan baru mau bikin kejutan lamaran buat dia. Tapi ...." Ia menggeleng tak mampu melanjutkan kata yang ditujukan untuk dirinya sendiri.


Seusap kasar telapak tangannya menyapu wajahnya yang tiba-tiba terasa kusut setelah Jasmine mengungkapkan kenyataan yang sama sekali tak pernah dibayangkannya.


"Tapi gua gak bisa," lanjutnya bergumam. "Gak bisa nebas perasaan gua ke dia gitu aja."


Asyik bergelut dengan perasaannya sendiri, Sigi sampai tak merasakan, jika pintu ruang kerjanya itu telah dibuka seseorang dari luar.


Cukup menit bagi orang itu untuk bisa menangkap beberapa gumam yang dilontarkan Sigi.


"Jangan nyerah, Bang!"


Sigi sontak menoleh ke belakangnya, di mana sudah berdiri di dekat mejanya .... "Cindy?"


Gadis itu mulai mendekat. "Kalo dia bukan milik orang lain, perjuangin dia," kata Cindy, mungkin menggurui. "Tapi kalo dia udah ada yang punya, mending Abang nyerah aja."


Sigi menatapnya dengan kening berkerut-kerut. "Apa maksud kamu, Cin?"


Satu hentak hembusan napas kasar terdengar dari mulut kecil Cindy. Sebelum menjawab pertanyaan kakaknya, ia berjalan melewati tubuh Sigi, menempelkan kedua tangannya di kaca lebar yang tadi menjadi saksi curhatan Sigi pada udara. Ditatapnya sebuah bangunan megah di tengah kepadatan kota. "Aku rasa, Kak Jasmine dan Kak Austin ... mereksa saling mencintai."


"Lalu?" Sigi menyergah.


"Itu artinya ... Abang harus lupain wanita itu."


Yang kemudian dibalas senyuman kecut oleh Sigi. Ia kembali berjalan ke arah kursi putarnya, lalu duduk di sana. Sebuah pulpen diraih lalu dimainkannya. "Itu bukan masalah. Mereka belum menikah."


Sikap keras kepala Sigi cukup kuat dipahami Cindy. Tak lagi banyak kata yang dilontarkannya untuk menambah. "Ya udah. Kalo Abang bisa, silahkan." Kalimat itu ia ucapkan tepat setelah mendudukkan dirinya di atas kursi di hadapan Sigi. "Aku terbang ke Amerika sore ini."


Sigi terperanjat. "Apa kamu bilang?! Sore ini?"

__ADS_1


Anggukan dengan ritme lemah ditunjukkan Cindy mendukung jawaban, "Iya, Bang. Aku udah putusin, aku bakal lanjut kuliah di sana."


"Tapi kenapa dadakan kayak gini, Cin?!" hardik Sigi. "Bukannya kamu bilang baru mau pergi akhir bulan depan?!"


Kali ini Cindy tersenyum menghadapi ekspresi kakaknya. "Abang udah tahu alesan aku," decitnya. "Dan nanti sore, aku mau Abang anterin aku ke Bandara."


"Ciiiinn ...." Sigi bangkit cepat dari duduknya. Wajahnya cukup berat menanggapi keputusan adiknya. "Keperluan kamu di sana aja Abang belum urus. Masa iya kamu mau lakuin dadakan sendiri?" Ia mulai frustasi.


Cindy lagi-lagi tersenyum. "Abang pikir ini jaman apa?" tanyanya mendelik. "Ke Jepang naik baskom?" candanya seraya terkekeh kecil. "Dunia bisa diakses cuma pake internet, Bang!"


Sigi menanggapi dengan seulas senyum. Tiga langkah diambilnya untuk lebih mendekat ke arah adiknya. "Maafin Abang, Cin! Abang belom bisa jadi kakak yang baik. Tapi kasih sayang Abang sama kamu, gak perlu kamu raguin."


Rekat pinggang Sigi dipeluk Cindy. Wajahnya menyamping menempel di dada bidang pria itu seraya tersenyum. Ia menyayangi Sigi lebih dari apa pun, sebenarnya. Hanya terkadang kesibukan Sigi membuatnya cemburu dan merasa tak diperhatikan. "Aku tahu itu, Bang. Aku tahu."


...💕...


Video klip single perdana mereka telah ditonton lebih dari satu juta viewers dalam sehari di jagat media sosial yang diunggah lebel sebagai perkenalan musisi dan penyanyi pendatang baru di bawah naungan pihaknya.


Kandyla dan juga Jasmine.


Sudah dipastikan, untuk ke depannya, karier mereka akan tancap jadwal terbang, setelah beberapa stasiun televisi mengirimkan undangan atas keduanya di beberapa acara dengan tema berlainan, melalui lebel musik yang dirajai Sigi.


Ringtone panggilan telepon hingga diambil sebagai theme song film layar lebar, membuat lagu itu meroket hingga mencapai angka ratusan juta keuntungannya, hanya dalam rentang waktu sebulan saja.


Beberapa pencipta lagu terkenal bahkan telah menyumbangkan lagu ciptaan mereka untuk dinyanyikan Jasmine dan Kandyla. Karena kualitas dan karakter suara yang sinkron meskipun berbeda warna.


Lengkap sudah prestasi kedua wanita itu. Bahkan melebihi ekspektasi.


Teman-teman Jasmine ketika ia masih dengan keluarga lengkap dan aktifitas kuliahnya di salah satu bagian kota Jakarta, nyaris tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sosok teman yang sempat mereka kucilkan, tiba-tiba bangkit dengan mahkota princess yang berkilauan--mondar-mandir di layar kaca.


....


Dan malam ini ... untuk merayakan prestasi sepasang seniman hebatnya, Sigi menggelar pesta di salah satu villa di Puncak-Kota Bogor, Jawa Barat.


Beberapa artis diundangnya untuk turut memeriahkan. Namun cukup tertutup sepertinya. Karena tak satu pun bidikan silau kamera paparazi terlihat di sana.

__ADS_1


Jasmine nampak cantik dengan balutan sift dress berwarna hitam yang dengan jelas mengekspos bagian pundaknya yang putih. Rambutnya hanya dibuat cepolan sederhana dengan aksen sebuah hiasan keemasan berbentuk bunga-bunga kecil merantai mengelilingi bagiannya.


Tak kalah juga Kandyla. Meski tak memilih gaun sebagai penunjang penampilannya, ia nampak manis dengan setelan alakadar. Sebuah rok tutu berenda hitam selutut, dipadu atasan rajut berwarna putih, sudah cukup pas menunjukkan karakternya yang memang tak mau ribet dalam urusan apa pun.


"Mau dansa sama aku?"


Jasmine yang semula fokus menatap orang-orang yang tengah berdansa di lantai pusat ruangan, teralih spontan pada sepasang telapak tangan Sigi yang terjulur ke arahnya. "Dansa?" ulangnya dengan wajah bingung.


Sigi mengangguk dengan senyumnya. "Ayo."


"Tapi aku gak bisa dansa, Gi."


"Aku ajarin. Didy aja seneng tuh!" kata Sigi seraya menolehkan wajahnya sekilas pada Kandyla yang lebih dulu mengambil bagian lantai--berdansa dengan seorang pria tinggi yang mungkin ... gebetannya.


Jasmine tersenyum tipis menatap kelakuan sahabatnya itu. "Anak i-- Eh!!" Belum sempat kalimat itu diselesaikannya, Sigi telah menarik cepat telapak tangannya untuk bangkit.


"Kita ikutan kayak Didy sama Jhofan."


Lantunan merdu gesekan biola, menambah romansa di tengah sekelumit pasangan yang larut dengan gerak lembut mereka di lantai dansa.


Tak seperti yang dikatakannya sebelumnya, Jasmine ternyata cukup luwes dan mampu mengimbangi gerakan pasangan dansanya.


Bastian Sigi, dengan senyum tak hilang memendar di wajahnya, ia terus menatap Jasmine yang malah membuang pandang tak cukup nyaman ke lain arah.


"Kamu cantik," kata Sigi memuji tulus.


"Makasih," Jasmine menimpal seadanya dengan lirikan sekilas.


"Jas ... bisa liat aku?"


Permintaan Sigi cukup menarik perhatian Jasmine rupanya. Ia menuruti tanpa kata.


Senyuman semanis gula-gula menghias wajah tampan Sigi saat ini. Hanya sesaat saja, karena kini rautnya mulai berganti mode serius. "Jas ...."


Tak menyahut, Jasmine masih menunggu apa yang akan dikatakan pria itu padanya. Dan terlihat, tatapan Sigi kian lama kian mendalam menghunus matanya yang bergulir ke sana kemari.

__ADS_1


Hingga beberapa detik kemudian ....


"Will you marry me?!"


__ADS_2