
Sulit menelaan perasaannya sendiri, Jasmine mengecap kebungkaman. Hanya mata beningnya yang terlihat mulai menggenang berkaca-kaca. Tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Yang jelas, ia merasa kacau. Antara benci, ragu, dan ... sedikit rasa yang sulit ditafsirkannya.
Melihat demikian, pria yang tak lain adalah Andrew itu, bangkit dari simpuhnya. Ditatapnya wajah rapuh Jasmine yang tertunduk dengan penuh rasa bersalah. Sementara di bawah sana, penonton terus meneriakkan, "TERIMA! TERIMA! TERIMA!"
Di mata mereka, apa lagi yang ditunggu? Dilihat dari sisi mana pun, keduanya sangatlah cocok. Yang pria tampan dengan segala kesempurnaannya, dan yang wanita, pemilik wajah juga pribadi kalem dambaan setiap pria, bahkan dikagumi wanita pula.
Kandyla nampak gemas di posisinya. Kelakuan Jasmine ditatapnya dengan gelengan kesal. Seperti halnya para penonton--baik yang di lokasi maupun yang menyaksikan di layar kaca, juga mengharap Jasmine menerima lamaran itu secepat mungkin.
Seorang pemuda berkumis tipis yang duduk di bangku drum, bergerak mendekat pada Kandyla. "Dy, sejak kapan mereka saling kenal? Kok gak pernah ada gosip apa pun di sosmed ato infotainment gitu?" tanyanya ingin tahu.
Kandyla meliriknya sekilas saja. "Gak tau, Ja," jawab gadis itu. "Gua yang deket aja kek kecolongan."
Drummer bernama Deja itu terkekeh kecil. "Kapan lu waspada emang? Sepeda walikota aja lu tabrakin puun palm ampe penyok! " ejeknya mengingat suatu moment.
Dipukul Kandyla pundak pemuda itu secara refleks. "Itu 'kan gua nervous, Ja!" kilahnya. "Abis pengawal Pak Wali Kota, ganteng banget. Siwerlah mata gua!"
Deja berdecih. "Liat pengawal aja lu melongo, apalagi liat biawak ngawinin ayam."
"Kampret! Bukan dikawinin, tu ayam malah abis masuk lambung biawak."
Deja terkekeh lagi-lagi.
Pada akhirnya percakapan mereka terpotong dengan gemuruh suara penonton, sehubung sesuatu yang menjadi pemicunya, membuat Kandyla juga Deja berubah merinding.
"Bangkeh! Gua mauuu," kata Kandyla dengan mimik iri dan mendamba.
Bagaimana tidak ....
__ADS_1
"Jas ... maafin aku. Maafin aku, please ...."
Seraya berkata demikian, Andrew menarik tubuh Jasmine ke dalam dekapnya. "Aku janji bakal nebus semua kesalahan yang udah aku lakuin," ucapnya setulus hati.
Kalimat itu memang dilontarkan Andrew dengan suara lirih, tapi siapa pun akan dapat mendengar, sehubung microfon kecil yang terpasang di kerah baju pria bule itu.
Dan itu tentu langsung mendatangkan berbagai spekulasi dan asumsi di kepala semua orang. Apa sebenarnya yang telah diperbuat seorang Bennedict pada Jasmine, hingga meminta maaf sedemikian dalam?
Jasmine tenggelam dalam tangisnya--di pelukan pria yang telah mengacaukan hidupnya tersebut tanpa berontak. Masih tidak ada jawaban dari mulutnya saking tercekat.
Dari berbagai sudut, pemandangan itu mulai sibuk disorot paparazi yang tentu saja kehausan bahan gosip. Karena sudah dipastikan, berita lamaran disertai permintaan maaf Bennedict, akan mengguncang jagat berita tanah air esok hari.
Di tengah irama menunggu, sesuatu kembali mencengangkan semua orang.
Seorang pria ber-tuxedo hitam, muncul dari sudut pentas. Sepasang kakinya terayun santai disertai senyum mengembang di bibirnya. Dari gesturnya, seperti langkahnya akan menuju ke arah di mana Jasmine dan Andrew berada. Namun keliru. Sosok tersebut justru melangkah ke depan, menghadap para penonton.
Siapa lagi kalau bukan Austin Blue Bennedict. Kedatangannya membius sekaligus mengacaukan situasi.
Pertanyaan semua orang pasti sama; Bennedict ... ada dua?
"Hallo, semuanya!" Dengan ramah, pria itu menyapa khalayak di bawah panggung yang masih menjerit-jerit seperti ledakan kembang api.
Jasmine mendorong tubuh Andrew menjauh secara kasar. Kedua matanya terbelalak bukan kepalang--melotot ke arah yang kini jadi pusat perhatian semua mata. Jantungnya terpukul-pukul menggoda saling bertabuh.
"Ben," gumamnya terpelongo.
Bukan! Bukan hanya karena kehadiran Austin. Sesuatu lebih mengejutkan dari pada itu.
__ADS_1
Ya! Itu dia!
Bocah perempuan gembul di pangkuan pria itu.
Benar!
Lily Bennedict!
Gaun putih dipadu rok bulu angsa lebat sebatas lutut, dengan bandana berkeliling bunga Lily melingkari kepala berambut blonde miliknya, membuat wajah cantik dan tubuh gembulnya nampak menggemaskan. Ditatap Jasmine dengan rasa tak percaya.
Jantungnya bertalu semakin resah.
Apa yang akan dilakukan Austin?
Apakah pria itu akan mengungkapkan siapa Lily sebenarnya pada semua orang dan menghancurkan kariernya dalam sekejap.
Ah, tidak!
Bukan! Bukan perihal karier yang lebih mengganggu pikirannya saat ini. Tetapi lebih kepada; Akan seperti apa nasib Lily ke depannya jika semua orang tahu bagaimana batita itu terlahir dari rahimnya? Sedangkan ia diketahui semua orang adalah seorang gadis, meskipun belum ada pengakuan apa pun perihal statusnya secara gamblang. Segala asumsi terlahir dari penilaian semua orang tanpa ia yang membuat.
Tidak terkecuali Kandyla. Ia mendekat ke samping Jasmine dengan wajah tak jauh berbeda. Bahkan semua artis dan aktor yang terlibat dalam konser itu kini mulai naik memenuhi panggung luas nan megah itu untuk mengetahui apa yang terjadi.
Semua berkumpul seperti menyaksikan kebangkitan sesuatu.
Siapa yang tidak akan penasaran?
^^^Bersambung ....^^^
__ADS_1