
"Lu dari mana sih, Kak? Kok lama?!" Cindy yang telah lebih dulu membersihkan wajah belepotannya di toilet kampus, bertanya, ketika sosok Austin baru saja muncul, setelah tadi pria itu meminta Cindy menunggu di dalam mobil sebelum meninggalkan kampus tersebut, dengan alasan ada hal yang perlu dilakukannya terlebih dahulu.
Sebelum menjawab, Austin lebih dulu masuk ke dalam mobilnya dan bertengger di balik kemudi. "Gua abis tampolin semua berandalan itu. Mulai besok, lu bisa kuliah dengan tenang tanpa gangguan mereka," tutur pria itu seraya memasang safety belt-nya.
Wajah Cindy berkerut keheranan mengarah pada Austin. "Lo apain mereka, Kak?" tanyanya penasaran.
Dengan seringai tipisnya, Austin menoleh gadis di sampingnya tersebut. "Lu gak perlu tahu," katanya berteka-teki. Rambut pendek Cindy yang belum sepenuhnya bersih itu, diasak telapak tangan Austin sesaat. "Sekolah yang bener." Lalu mulai mempekerjakan mesin mobilnya untuk ia pacu.
Dan Cindy ... bukankah perlakuan pria itu sangat manis?
Seraya membalikkan wajah ke arah berlawanan, gadis itu tersenyum dengan perasaan berbunga-bunga, menatap jalanan yang terlewat jarak demi jarak. Pria itu ... walaupun usianya jauh berada di atasnya, tapi entah kenapa, Cindy merasa dia lebih keren dibandingkan Raymond, cowok idolanya sewaktu SMA.
"Lu kenapa sampe bisa digangguin mereka?" tanya Austin memecah gelembung khayal di kepala Cindy.
Cindy menolehnya sontak. Sejenak bertahan dalam posisi menatap wajah Austin yang menyamping, lalu membuangnya dalam tunduk menyorot lututnya yang masih nampak kotor sisa taburan terigu. "Gue gak ngerti, Kak. Mereka tiba-tiba suruh gue ini dan itu. Padahal yang lain banyak. Tapi cuma gue yang mereka bidik."
"Lu gak coba lawan? Laporin atau apalah gitu?" Austin cukup tak paham.
"Sekali pernah gue coba lapor ke pihak kampus. Mereka sempet diskors beberapa hari. Dan abis masa skors itu ... mereka malah makin ngejadi bully gue, kek semacem bales dendam."
Sekilas Austin menolehnya, lalu kembali bertanya, "Mereka gak tahu, lu adeknya Sigi?"
Pertanyaan itu secara langsung menciptakan semburat mendung di wajah Cindy. Ia menggeleng tak cukup kuat. "Gue gak mau semua orang tahu. Ditambah, Bang Sigi juga mungkin malu punya adek kayak gua."
"Kenapa?" Kening Austin berkerut dalam.
Terdengar hembusan napas kasar dari mulut Cindy. "Karena ...." Ia terdiam dalam beberapa jenak. "Ya, gitulah!"
Austin menghentikan mobilnya tiba-tiba. Dan Cindy cukup terkejut karenanya. "Ada apa, Kak?!"
Dengan seulas senyuman yang Cindy pun tak mampu menebak makna di baliknya, Austin membalik tubuhnya yang lalu berhadapan dengan Cindy. Kaki kirinya ia lipat dan naikan di atas kursi, sedang bagian kanannya, tetap ia juntaikan ke bawah kolong stirnya. Melalui sisian tubuhnya ia bersender ke badan kursi. "Sesetan itu ya, abang lu?" Entah itu sindiran, atau apalah, yang jelas, Austin cukup paham dengan maksud kalimat Cindy.
Namun lain dengan Cindy sendiri, posisi itu membuatnya tak nyaman. Ia membuang wajah merahnya pada arah yang lagi-lagi berlawanan dengan Austin.
"Ayo turun!"
"Eh?!" Tentu saja Cindy terkejut. Mau apa lagi pria itu? tanya hatinya.
Sekejap saja selama pikirnya menuntut jawaban atas pertanyaannya sendiri, dilihatnya Austin sudah keluar dari dalam mobil. Menutup pintu, lalu berjalan ke depan.
"Ayo!" seru Austin mengajak Cindy dengan telapak tangan mengarah ke sebuah bangunan yang berdiri di depannya
"Butik dan salon," gumam Cindy. "Mau ngapain dia ke sana?"
__ADS_1
....
....
Satu jam kemudian ....
Didera rasa tak nyaman, Cindy berjalan mengikuti Austin di depannya dengan wajah menunduk.
Bagaimana tidak, sehelai gaun lucu berlengan tanggung berwarna mocca yang panjangnya hanya sebatas lututnya, dipilih Austin untuk ia kenakan. Sepasang telapak kakinya dibalut sepatu teplek dengan aksen anyaman kecil melintang di bagian depan. Dan rambutnya yang pendek, kini tersisir rapi setelah total dibersihkan di dalam salon.
Sangat manis sebenarnya. Bahkan pas untuk usianya yang masih bertengger di angka delapan belasan. Ya, meskipun berlawanan dengan jati diri sebenarnya yang alakadar, Cindy tak berani mengelak. Austin memaksa, dan ia sukarela menerima.
"Ayo!" Austin dengan gegas meraih tangannya untuk segera memasuki mobil. "Duduk yang manis," katanya setelah Cindy dalam posisi terduduk apik di pasangan kursi kemudi.
Pria itu laju memutar tubuhnya menghitari mobil ke bagian depan, lalu mengambil posisi seperti sebelumnya--bergelut dengan stir.
Kini mobil itu telah melaju.
"Tunjukkin restoran yang bagus menurut lu!" pinta Austin. "Gua laper."
Dalam diamnya Cindy tersentak. Namun tak ada kata yang bisa ia lontarkan untuk menolak. Saat ini terlalu indah untuk ia pecah. Bahkan untuk setidaknya memikirkan kecemasan Sigi. Belasan panggilan kakaknya itu ia abaikan dengan memodesenyapkan ponselnya. Tak ingin terganggu.
"Gue ada restoran dengan menu andalan," katanya menanggapi keinginan Austin.
Cindy bukan anak kecil yang cuek dan pasif terhadap perasaan. Walau pertemuannya dengan Austin terbilang masih belia dan bahkan terkesan amburadul, tapi ia menyadari benar ... bahwa hatinya ... telah jatuh tanpa aturan pada pesona pria dewasa yang songong di sampingnya itu ... mulai hari ini.
Cindy berjalan lebih dulu memasuki tempat itu.
"Kayaknya lu girang banget masuk ke sini?" tanya Austin dengan langkah mengimbangi di samping Cindy.
"Iya. Ini tu tempat pavorite almarhum mami gue, Kak," jawab Cindy dengan senyum mengembang. "Udah lama banget gue gak ke sini."
"Hmm." Dengan kepala berputar mengedar, Austin manggut-manggut. "Kalo gitu, nostalgia sama keluarga lu, gua gantiin. Lu makan apa aja yang pengen lu makan sesuka hati."
"Oke!" Cindy menanggapi ceria.
"Bocah ini ... manis juga," kata hati Austin cengengesan.
Satu set kursi berisi empat dengan satu meja bundar di tengahnya, dipilih Cindy. Austin manut saja, dengan mengambil posisi duduk di samping gadis itu.
Beragam makanan mereka pesan. Austin memasukkan suapan demi suapan dengan santai. Juga Cindy yang mulai mengunyah kudapan pedas pilihannya.
Belum sempat keduanya bercokol usai aksi menguruk perut, sebuah suara berdebam mengejutkan.
__ADS_1
"Cindy!!"
Secara serempak, Cindy dan Austin menoleh ke asal suara.
"Bang!" Dengan wajah terkejut, Cindy terperanjat bangkit.
Lain dengan Austin yang kembali santai menyeruput minumannya--tak peduli.
Sempit banget ni dunia, kicau hatinya jengah.
"Ngapain kamu di sini?!" Pertanyaan dengan nada geram yang terlontar dari mulut Sigi, ditanggapi ketar-ketir adiknya itu.
"Aku ...." Cindy melirik Austin dengan wajah kebingungan.
"Bangun lu, Bang Sat!" Tanpa aba-aba Sigi mencengkram bagian depan hoodie Austin hingga melengak.
Namun balas dengan kasar Austin menepisnya. "Tangan lu kondisikan, Bro!" hardiknya. Kemudian mengusap-usap sisa cengkraman Sigi di bajunya seolah meninggalkan kotoran.
"Lu kenapa bisa sama adek gua?!" Sigi menuntut jawaban.
"Tanya dia aja," sahut Austin sesantai mengorek lubang hidung.
"Jangan macem-ma--"
"STOP!" Dengan teriakan cemas, Jasmine muncul dari arah belakang Austin. "Kalian ini ada apa, sih?!"
Secepat angin Austin menoleh ke arah Jasmine.
Sedang Sigi menurunkan kasar kepalan tinjunya yang belum sempat mendarat di wajah pria yang selalu dianggapnya saingan itu.
Tatapan Austin lurus menusuk ke arah Jasmine. Hatinya kembali merasakan ngilu yang jelas ia tak suka. Wajah teduh itu ... kenapa harus lagi dia melihatnya?
Sebelum gemuruh di dadanya meledak, Austin membuang wajah menghindari tatapan wanita itu.
Sigi dan Cindy memperhatikan dengan wajah diselimuti tanya.
"Ben."
Sial! Austin merutuk dirinya sendiri dalam hati.
Lembut suara itu .... bisakah ia mengabaikannya?
Dan semakin kacau ketika dengan cepat Jasmine merangkum wajahnya untuk meraih posisi saling bertatapan.
__ADS_1
"Aku mau ketemu Lily. Aku mau peluk anak aku."
Dunia sempit Austin!