
Salah satu kesulitan yang paling melemahkan manusia adalah ... melupakan!
Memasuki angka yang keenam, dalam hitungan per tiga puluh hari. Yang itu berarti ... lima bulan telah berlalu.
Selama itu!
Bulan dalam kalendar dicoreti spidol berwarna merah lagi-lagi oleh Jasmine. Setiap detik terasa menyiksa baginya.
Usaha pencariannya terhadap Lily yang dibawa Austin belum juga membuahkan hasil dan titik terang. Entah kemana pria itu membawa putrinya. Jasmine telah mencapai titik lelah dan putus asanya.
Diselimuti sesal berbalut harap, yang entah apakah akan dikuak waktu ... atau justru malah merengkuh kehilangan untuk selamanya.
Jasmine telak menelan ketololannya sendiri.
Berusaha lepas dari keterpurukan, wanita itu kini memenuhi aktifitas dalam kesehariannya di sebuah restoran klasik milik Oma Lissa, yang dipasrahkan wanita tua itu untuk dikelolanya--sebagai manager. Tentu saja setelah Oma Lissa mengetahui; Tak ada tempat pulang yang bisa dituju Jasmine selain emperan dan trotoar jalanan lagi-lagi.
Gadis itu gelandangan! Namun Oma Lissa telah tergerak hatinya untuk menyelamatkan dan membawanya tetap tinggal di kediamannya--sampai waktu yang tak ditentukan.
Kegigihan Jasmine membawa Resto milik Oma Lissa ssemakin ramai dijejali pengunjung setiap harinya. Hingga wanita tua itu melakukan perluasan area untuk menampung kapasitas pelanggan yang semakin membludak tak terkendali. Juga tambahan beberapa pegawai tentunya.
Dan hari ini ....
"Jas, Oma nggak ikut ke Resto hari ini." Oma Lissa memberitahu, ketika Jasmine baru saja menyelempangkan tasnya ke pundak, hendak melangkah menuju halaman depan, beriringan.
"Loh, ada apa? Oma sakit?!" tanya Jasmine sedikit cemas.
__ADS_1
Gelengan kepala Oma Lissa menafik kekhawatiran Jasmine. "Nggak. Oma sehat, kok."
"Lalu?" Jasmine ingin tahu, seraya terus menatap wajah teduh Oma Lissa.
"Oma mau ke Bandara. Jemput cucu Oma."
"Oh ya?!"
"Iya. Rencananya dia mau tinggal di sini bersama kita," tambah Oma Lissa dengan selipan senyuman senang yang teramat di wajah tuanya.
"Bagus kalo gitu. Di sini pasti tambah rame," decit Jasmine riang. "Ya udah. Kalo gitu Oma hati-hati," katanya seraya memeluk sekilas wanita tua itu, sebelum akhirnya melenggang pamit meninggalkannya. Sebuah taksi telah menunggu Jasmine di depan gerbang. Ia memasukinya lalu melaju pergi menuju toko kue yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari rumah itu.
Entah siapa yang mengukur.
Di lain tempat.
Suara tawa-tawa renyah berkicau menguasai ruangan seukuran 4x4 meter, yang didominasi dengan pernak-pernik juga benda-benda berbau bayi perempuan.
Dengan masih berseragam mekanik, kulit juga pakaian yang coreng moreng akibat polesan oli seperti biasa, Austin mengajak riang putri kecilnya--Lily Bennedict, nama lengkap yang akhirnya ia terapkan dalam akta kelahiran bocah cantik itu. Dengan gerak dan bahasa aneh tak membentuk kata, siapa pun mungkin akan menganggap pria itu kurang waras, jika tidak beserta Lily dia bertingkah.
"Badan lu basuh dulu ngapa, Le! Barangan aja deketin bocah!" Tara berseru mengingatkan. Senampan penuh makanan yang diambilnya dari kafe, ia tenteng di tangan kanannya. "Makan dolo, yok!" ajaknya kemudian mengambil posisi duduk lesehan di karpet puzzle berdekatan dengan Austin dan juga Lily.
Austin tak begitu peduli. Ia masih asyik mengajak bicara dan bermain putrinya yang saat ini mulai mampu menopang tubuhnya sendiri untuk duduk. Tubuh gembul Lily terlihat lucu dengan balutan yukensi pink juga celana pendek ketat bergambar panda di bagian pantatnya. Mata coklat keemasannya nampak terang ceria menatap Austin, juga rambut lembutnya yang kian lama kian pirang menyerupai pria itu.
Siapa lagi yang akan menyangkal, jika batita lucu itu bukanlah putri seorang Bennedict. Walau tanpa tes DNA sekali pun, Lily jelas mendominasi gen ayahnya. Dan Austin mengakui itu. Meskipun hingga kini, tentang Jasmine di masa lalu ... tak sedikit pun menoreh bekas di ingatannya.
__ADS_1
Nimas--gadis berusia 25 tahun yang didatangkan Tara melalui bantuan Giordan--salah satu sahabat dekatnya, sejak dari awal Lily dibawa Austin ke rumah itu, baru saja memasuki ruangan. Semangkuk bubur mix sayuran, dibawanya mendekat ke arah Lily. "Maaf, Tuan. Nona Lily saya suapi dulu. Ini waktunya dia makan siang," kata Nimas dengan nada sopan.
Sekilas Austin melihat ke arah Nimas yang kini berdiri di sampingnya, lalu kembali menatap putrinya dengan tatapan penuh cinta. "Sayang, mamam dulu, ya sama Mbak. Daddy juga mau mamam sama Uncle Bin." Maksudnya Tara. Sedikit dikecupnya pipi gembul Lily, lalu mulai menyingkir memberi celah untuk Nimas melakukan tugasnya.
Austin menggeser tubuhnya mendekati Tara yang tengah asyik mengunyah makanannya. Sepotong sosis bakar berlumur mayonaise, diambil Austin dari nampan yang dibawa Tara, lalu melahapnya seperti setahun tak nemu makan.
"Pelan, Begge!" Tara menghardik. "Keselek mampus lu!"
"Gua siap mati kalo uda nemuin Jasmine," kicau asal Austin dengan mulut penuh terisi makanan.
"Jihhh! Belon move on juga lu ternyata!" cibir Tara. "Ngapa gak nyari yang laen aja, sih, Le?! Pan banyak banget yang antre pen jadi bini lu! Kek Gaurdin misalnya." Gaury Berdine maksud Tara.
Segelas air putih baru saja ditandaskan Austin. Kemudian diputar dan ditatapnya gelas kosong itu seolah ada yang menarik di dalamnya. "Bakal gua pikirin."
Tara tersenyum kecut. "Gak yakin gua kalo model muke lu ude kek begeto."
"Gua bilang, gua bakal coba, Tar!" Austin menyela cepat. Ditolehnya Lily yang nampak sibuk dengan suapan makanannya dari tangan Nimas. "Tapi abis gua yakin ... kalo Jasmine beneran uda bahagia." Tersirat sebersit luka di wajah tampan yang tak lagi dibalut penyamaran itu.
Cukup dipahami Tara. Pengaruh Jasmine dalam kehidupan Austin teramat sangat dan bahkan terlampau besar untuk bisa dengan mudah dilupakan sahabatnya itu. Dan itu cukup membuat hati Tara sebagai seorang yang paling dekat dengan Austin, tercubit.
Gua harap lu bisa cepet lupain tu cewek, Le!
"Gua yakin dia pasti uda bahagia!"
"Semoga."
__ADS_1