Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 40


__ADS_3

"Lily lagi pergi ke tempat relaksasi bayi sama pengasuhnya. Jadi hari ini bukan waktu yang tepat buat kamu ketemu dia," tutur Austin seraya menepis telapak tangan Jasmine di pundaknya. Kini perhatiannya berpusat pada Cindy. "Lu mau balik sama gua, atau abang lu?"


"Cindy urusan gua!" Sigi menyela cepat. Mata tajamnya sekilas melirik Cindy yang tak cukup tenang di posisinya.


"Ou, oke." Austin hanya manggut sekilas. Beberapa lembar uang pecahan seratus ribu ia keluarkan dari dalam dompet, lalu diletakannya tepat di atas meja di hadapan Cindy. "Gua rasa ini cukup buat bayar makanannya."


"Gak perlu! Bawa balik semua uang lu!" hardik Sigi sinis.


Perhatian semua orang di sekitaran sudah terjurus pada mereka sedari awal kedatangan Sigi.


Dan hanya senyuman tipis dipulas Austin seraya merapikan kembali dompetnya ke saku celana. "Anggep aja bayaran buat adek lu, karena udah nemenin gua hari ini. Gua cabut!"


"Keparat!" Sigi berteriak murka. Namun tubuhnya dengan sigap ditahan Cindy.


"Udah, Bang, udah!"


Lain daripada Sigi dan Cindy, punggung Austin yang semakin jauh ditelan jarak, ditatap Jasmine dengan raut terluka. Sepasang telapak tangannya terjuntai lemas di sisi tubuhnya, setelah ditepis Austin dari wajahnya. Air mata telah menitik bulir demi bulir. Penolakan Austin cukup membuat hatinya tergores perih.


"Aku tahu kamu jahat, aku tahu kamu pembohong, tapi aku gak tahu, kenapa aku gak bisa benci sama kamu, Ben," aduan hati Jasmine seraya mengusap air matanya.


Sigi dalam mode dilema. Sepasang matanya bergiliran terbagi, antara Jasmine dan juga Cindy. Kedua wanita itu menjadi ihwal yang menciptakan segudang tanya di kepalanya. Tanya yang berpusat pada satu titik yang sama ... Austin.


Sampai sesaat kemudian, Sigi akhirnya memutuskan, "Jas! Duduk sini." Sebuah kursi ditariknya untuk Jasmine. "Aku pesenin minum, ya?"


Sesaat Jasmine terdiam untuk sekedar menetralisir kekacauan hatinya. "Iya. Makasih," katanya seraya menduduki kursi di samping Sigi.


Cindy menatap wanita itu tak cukup suka, juga sekaligus mengundang tanya di benaknya tentang; Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa dia membahas soal anak bersama Austin?


Pun dengan Sigi yang juga memiliki rasa ingin tahu yang sama dengan adiknya. Namun tidak untuk sekarang ia menanyakan keingintahuannya. Keberadaan Cindy terlalu sensitif untuk pertanyaan intim semacam itu.


Dua gelas minuman berbeda jenis telah tersaji untuk Sigi dan juga Jasmine.


"Sekarang jelasin sama Abang, kenapa kamu bisa sama Bennedict?!" Sigi memulai sesi introgasi pada adiknya. Sejenak disapunya penampilan Cindy yang terkesan lain dan asing menurutnya. "Trus kenapa kamu bisa pake baju kayak gini?"


Jasmine hanya diam memperhatikan.

__ADS_1


"Jawab Abang, Cindy!"


Seruan itu cukup menyentak telinga dan hati gadis delapan belas tahunan itu. Cindy mendongak menatap wajah keruh kakaknya.


Ia takut, tapi ....


Ada yang berubah di lima detik kemudian. Cindy kini memasang tampang sinis menatap Sigi.


"Apa peduli Abang sama gue?!"


Bola mata Sigi melebar terkejut menanggapi kata-kata dan sapaan lain Cindy yang cukup kasar didengarnya. "Apa kamu bilang?!"


Cindy mulai menitikkan air matanya. Sejenak menarik dan menghembuskan napasnya yang terasa menyesakkan. Lalu mulai menyusun kata, "Apa Abang inget, kapan terakhir Abang ajakin aku jalan-jalan dan liburan selepas kepergian Mami dan Papi?" Suara gadis itu terdengar berat. Sapaannya pada Sigi kembali seperti biasa. "Atau seenggaknya Abang datang langsung ke sekolah mau pun kampus, buat ngurusin pendidikan aku?! Kapan, Bang, kapan?!" Suara Cindy naik oktaf beriring air mata yang menderas. "Abang terlalu malu 'kan, punya adik berandalan kayak aku?"


Sigi terhenyak dalam diam. Pandangan murkanya perlahan meredup seiring ucap demi ucap yang terlontar dari mulut Cindy. Cukup menohok dirasakannya.


"Aku tadi dibully abis-abisan sama senior aku di kampus, Bang! Aku teleponin Abang waktu aku ketakutan dan berusaha lari dari mereka, tapi gak Abang respon sedikit pun!"


Keterkejutan Sigi bertambah luas. "Kamu ... dibully? Apa yang mereka lakuin sama kamu, huh?" tanya cemasnya.


Jantung dan hati Sigi beranjak saling memukul. Tatapannya nyalang membentur minuman di hadapannya.


"Beruntung, Kak Tara nyelipin nomornya Kak Austin waktu aku ambil mobil ke bengkelnya," jelas Cindy melanjutkan. "Aku gadein rasa malu aku buat kirim chat ke dia. Aku gak peduli biarpun isi pesannya belepotan karena aku kirim sambil lari." Dalam tunduk terisak Cindy masih terus berusaha meneruskan, "Aku gak nyangka, Kak Austin datang. Dia lawan semua anak berandalan itu. Dia gendong aku yang udah naas dilumurin terigu sama aer keruh. Dia gak peduli bajunya ikutan kotor. Trus dia bawa aku ke butik juga salon. Dia beliin aku baju ini." Ia menunduk mengusap bagian lengan gaunnya. "Sampe tadi dia bilang ...."


Dalam perasaan kacaunya Sigi masih mendengarkan. Ditatapnya wajah Cindy dengan hati berdesir-desir.


"Dia bilang ... biar dia yang gantiin nostalgia aku sama keluarga kita. Dia orang baik, Bang ...."


Bukan hanya Sigi yang dibuat perasaannya terpental, Jasmine juga turut merasakan desiran perih dalam hatinya. Pelayaran pikirnya tentang Austin dan kenangan indah yang pernah mereka lalui pada masanya, menciptakan gumpalan sesal tiada tara.


Andai saat itu ia tak meninggalkan Austin dan juga Lily di rumah sakit ... andai saat itu ia tak meninggikan rasa egoisnya untuk mau menerima penjelasan Austin tentang-tindak tanduknya, mungkin saat ini ... ia dan pria itu juga Lily, sudah menjadi sebentuk keluarga bahagia, tanpa harus melalui hal-hal menyedihkan lagi.


Lalu sekarang ...? Bahkan untuk memberontak pun ... tak ada lagi tempat.


Sigi tersentak, juga Cindy yang semula terisak, berbalik terkejut ketika menangkap suara isakan tangis Jasmine yang cukup keras mereka dengar. Pandangan kakak adik itu kini berpusat pada wanita itu.

__ADS_1


"Jas! Kamu kenapa?!" Sigi bertanya cemas seraya membalik hadapnya ke arah Jasmine.


Dengan cepat Jasmine menggeleng. Mulutnya masih ia bekap menggunakan telapak tangan, menahan tangisnya agar tak meledak hingga didengar semua orang. "Aku pulang aja, Gi," putus Jasmine seraya bangkit dari duduknya, berbalik, lalu melangkah cepat menyongsong pintu keluar.


"Jas, tunggu!"


Namun langkah kaki Sigi terhenti, ketika;


"Itulah kenapa aku bertindak sesuka hati tanpa menuruti aturan yang Abang bikin buat aku!" Cindy berseru. "Karena Abang selalu mentingin yang lain daripada aku! Aku bukan apa-apa di mata Abang!"


Kini giliran Cindy yang berlari meninggalkannya. Sigi terpaku dalam rasa yang menukik.


Benar! Pria itu menyadari. Padahal baru saja sepanjang jalan kenangan adik satu-satunya itu menjabarkan kekecewaan terhadapnya. Sekarang ia malah menambahnya lagi-lagi.


Gak ngotak!


"Cindy!!"


....


Sebuah taksi dinaiki Cindy tanpa peduli.


Melaju meninggalkan Sigi yang terus saja meneriaki namanya di kejauhan. Kekecewaanya mungkin telah mencapai batas sanggupnya.


Tidak ada pohon rimbun yang membuatku merasa teduh dan terlindung dari terpaan terik udara.


Tidak ada rumah yang membuatku merasa nyaman untuk bernaung.


Tidak ada tempat apa pun yang bisa kujadikan sandaran untuk setidaknya melepas penat.


Tidak ada!


Tidak ada!


Aku sendiri ....

__ADS_1


^^^~Cindy^^^


__ADS_2