
"Kalo sampe terbukti Lily anak kandung aku ... kemungkinan ... aku bakal bawa dan rawat dia sendiri. Seenggaknya, buat nebus semua kesalahan yang udah aku buat sama dia juga Jasmine."
"Jangan harap, Bangsaat!!"
Isi percakapan terakhirnya bersama Andrew sebelum kakaknya itu akhirnya pergi meninggalkan rumah sesaat setelah ia menghajarnya di halaman belakang rumah sore tadi. Dan itu terus membayang berputar-putar di kepala Austin.
Masalah Lily, rasanya lebih menekan dibandingkan masalah bunuh diri Jasmine dan apa yang telah dilakukan Andrew pada wanita itu di kamar hotel Britania.
''Bodoh!'' Austin merutuk dirinya sendiri. Mengapa dulu ia tak mengindahkan saran Tara untuk melakukan tes DNA guna memastikan kebenarannya. Mungkin jika dilakukan, ia tak akan mungkin merasakan cinta sedalam ini pada Lily.
Malah dengan konyol dan yakinnya, ketika itu ia mengatakan, meskipun Lily terbukti bukan anak kandungnya, ia tetap akan merawat, menjaga, dan menyayangi bocah itu dengan sepenuh hati tanpa peduli apa pun.
Dan saat ini ....
Di kamar Lily, Nimas baru saja diminta Austin untuk keluar. Pintu yang telah tertutup, dipakainya untuk menyandarkan beban melalui punggungnya, disertai tunduk dalam yang di balik wajah tampan itu, mengalir tangis kecil yang tertahan.
Karpet berbulu di samping mini ranjang tidurnya, diduduki Lily yang tengah asyik memainkan sebuah boneka karet yang bagian kepala dan kakinya tak henti ditariknya, seperti dipaksanya agar teputus. Hati polosnya hanya diam tak peduli, bagaimana wujud rapuh daddy-nya saat ini.
Daddy?
Bisakah sapaan itu tersemat selamanya tanpa gangguan di tengah tema memperebutkan?
Oh, Tuhan ....
Jika benar dia darah daging Andrew, berarti Lily hanyalah keponakannya?
Tidak!
Bukan!
Bukan sebentuk penyesalan karena telah mencurahkan cinta yang begitu banyak pada Lily, melainkan mengapa hubungan erat yang telah menggumpal membentuk ikatan ayah dan anak, harus terkena sandungan sekeras ini?
Mungkin akan lebih baik jika semua ini tak terungkap saja!
Wajah dengan raut kelamnya diangkat Austin untuk menatap balita itu. Sekepal tinju tiba-tiba menghantam keras jauh di relungnya. Perasaan sayangnya pada Lily melebihi apa pun. Ia tak rela. Benar-benar tak rela jika harus terpisah dari bocah itu. Bocah yang direngkuhnya dari campakan ibunya di rumah sakit, bocah yang digendongnya pagi-pagi buta dengan tekanan kesakitan hati, bocah yang ... dijaga dan dicintainya tanpa syarat.
Dengan gontai, Austin melangkah menghampiri Lily, lalu duduk di hadapnya dengan kaki bersila.
"Lil ... kesayangan Daddy," ucapnya dengan suara parau. Mulai diangkatnya balita itu ke lahunan lalu mendekapnya erat. Tak peduli Lily yang bergeliat meminta dibebaskan, Austin tetap ingin memeluknya. Merasakan betapa kasih sayangnya tak sekedar lelucon atau samarnya cinta seorang papa sambung. Cintanya terlalu tulus untuk direnggut begitu saja.
"Daddy gak akan biarkan siapa pun misahin kita, Sweety." Nampak pundak bidangnya mulai berguncang, seirama tangis yang kini disuarakannya sedikit keras.
Di balik pintu yang beberapa menit lalu disibaknya perlahan dan hati-hati, Tara mengintip. Kalimat-kalimat Austin disikapinya dengan raut sedih. Sekedar menetralisir perasaan sakit yang tertular dari keadaan miris sahabatnya, ia menengadahkan wajah seraya menghembus kasar napasnya. "Lu kuat, Le," gumamnya memberi dukungan seraya menatap kembali Austin. Walau tak cukup untuk bisa didengar, setidaknya, itu bisa menjadi bentuk sebuah do'a.
____
Sebulan berlalu ....
Rana di antara pekatnya ketakutan, Austin memeluk perasaan itu hingga saat ini.
__ADS_1
Hasil tes DNA yang diucapkan Andrew beberapa waktu lalu, juga ancaman perebutan hak asuh, menjadi momok mengerikan yang terus menghantui Austin hingga berlarut.
Namun entah, pria satu kandungan dengannya tersebut belum juga menunjukkan hilalnya. Andrew tak pernah muncul, bahkan untuk sekedar mengirim pesan singkat melalui akun whatsapp dan sejenisnya. Pria itu menghilang.
Tapi bukankah itu bagus?
Setidaknya Austin bisa tidur nyenyak tanpa perasaan takut yang berlebih.
Dan ya!
Pria itu sudah menjalani hari-harinya seperti biasa. Memainkan alat-alat mekanik di bengkelnya, mencicipi menu-menu baru di kafe, atau sekedar membawa Lily berjalan-jalan santai ke taman kota bersama Tara di akhir pekan.
Dan Jasmine ....
Entah kenapa ... sebulat kegamangan begitu saja menyerangnya, Austin mulai merasa enggan mengurusi hal apa pun menyangkut wanita itu. Termasuk setidaknya bercokol di line telepon, video call dan sejenisnya.
Jasmine tak seharusnya berada di ranahnya, Austin menarik garis. Semua sudah salah sedari awal pertemuannya dengan wanita itu.
Tapi Lily ... adalah bentuk pengecualian. Setidaknya alasan itu yang membuatnya masih menyambut Jasmine sebagai ... ibu dari bocah cantik yang sangat dicintainya tersebut.
Cinta yang dikaisnya dalam waktu singkat, lalu bersemayam hingga memakan waktu banyaknya--pada Jasmine, sekarang ... mulai melemah.
Entah karena apa!
Austin merasa harus segera mengambil keputusan besar atas perasaannya terhadap Jasmine.
••••
"BEN!"
Pria itu sontak menghela pandangnya ke asal suara. Ia yang tengah santai terduduk di salah satu bagian kursi kafe-nya bersama Lily yang sedang asyik menyantap semangkuk potongan buah, langsung mengangkat tubuhnya untuk berdiri, saat dilihatnya sosok itu muncul dari arah parkiran kafe. "Jasmine."
"Hay, Sayang!"
....
Jasmine tercenung. Austin menghindar saat ia merentangkan kedua tangannya, berniat memeluk.
"Ben ... kamu ... ada apa?" tanyanya merasa heran sekaligus sedih.
Austin terdiam. Ia bahkan tak mengerti, mengapa tubuhnya secara refleks menghindari terjangan pelukan wanita itu.
Ngg ....
Hey!
Itu bukan bentuk perasaan jijik, 'kan?
Seharusnya tidak!
__ADS_1
Austin bahkan telah menikmati tubuh itu hingga banyaknya malam berganti.
"Ben ...." Sebagai pemilik hati sensitif, Jasmine merasakan jelas perubahan pria itu. Dimulai dari ratusan pesan chatnya yang diabaikan, panggilan telepon yang tak diangkat, hingga saat sekarang, pria itu ... terasa dingin dan mengacuhkannya. Padahal ia baru saja pulang dari London. Bukankah seharusnya pria itu memberikan sambutan hangat sebagai pelepasan rindu?
Tapi kenapa malah terlihat seolah tak saling mengenal?
Di posisinya, bersama segelas kocktail yang baru saja diambilnya dari dapur kafe, Tara terpaku diam. "Bakal perang dunia ni keknya!" Ia berasumsi pelan.
Sedang Kandyla yang baru saja turun dari mobilnya, usai menerima telepon, memilih berjalan ke belakang melewati Jasmine dan Austin, menyambut lambaian tangan Tara di kejauhan. Entah gestur dan mimik semacam apa yang diperlihatkan lelaki konyol itu padanya, sampai ia menurut mengikuti titah pria itu tanpa penolakan, bahkan sebelum ia bertemu tatap dengan Lily secara langsung, seperti yang selalu dimintanya pada Jasmine.
"Apa sih, lu?" tanya Kandyla. "Gatau apa sekarang gua ni--"
"Iya, lu atress, gua tahu!" Tara menyergah cepat.
"Artis, woyy!" hardikan Kandyla merevisi.
"Iyak dah, apa aja, serah lu! Ratu cacing juga gua kagak duli!" Tara membalas seenak udel. Didorongnya Kandyla gegas untuk memasuki sebuah ruangan di dalam kafe. "Jiem lu! Gua pen bacot banyak sama lu!"
Meskipun cukup terkejut, Kandyla tetap manut dengan mulut bersungut-sungut.
....
"Ya, Tuhan!" Kandyla menutupi mulutnya dengan telapak tangan lengkap dengan mata membelalak, menyikapi penuturan Tara tentang kerumitan kisah Austin, Jasmine dan juga Lily. Setelah pria itu menyumpahnya agar tak jadi ember, tentu saja.
"Kaget, 'pan lu?!" ujar Tara dengan bibir berkeriut. "Sama, gua juga!"
Posisi duduk di atas sebuah sofa sedikit digeser Kandyla untuk meraih jarak pandang pada Tara, yang saat ini berjalan menuju pojok ruangan untuk meneguk sebotol air putih yang diambilnya dari atas meja. "Lu gak lagi ngadi-ngadi, 'kan?!" tanyanya masih belum sepenuhnya percaya.
Dengan keadaan memunggungi, Tara memutar jengah bola matanya. "Mending gua jadi pendongeng radio, daripada bacot omong kosong sama lu!"
• • •
"Ben ... ada apa? Apa aku ada salah sama kamu?" Jasmine bertanya setelah mengecup sekilas pipi gembul Lily yang kini digendongnya.
Austin masih mematung di posisinya, selain sepasang mata yang ia gerakan dengan sesekali lirikan ke arah Jasmine, ke lain arah, lalu kembali pada Jasmine. Begitulah hingga berulang.
"Ben ...."
Menanggapi ke sekian banyaknya rasa tak paham Jasmine atas kediamannya, Austin melengakkan badan hingga punggungnya rapat membentur sandaran kursi. Sejenak menengadah seraya mengusap kasar wajahnya yang terasa hangat di telapak tangan.
"Aku gak tahu, Jas!"
Seperti menghadapi ribuan soal kalkulus yang rumit dan membingungkan, kepala Jasmine semakin dibuat merayang. "Apa karena kejadian di London?"
Pertanyaan bagus!
Austin menghentak cepat pandangnya ke arah wanita itu dengan tatapan dilema. Cukup memakan bermenit lamanya untuk sampai hati dan mulutnya memilih kalimat yang pas dan tak berlebihan sebagai jawaban.
"Jas ... aku rasa ... aku gak bisa lagi sama kamu."
__ADS_1