
Lalu lalang cerita dan perputaran waktu merengkuh kenangan kemudian.
Selaksa masa suram pada akhirnya terbayar oleh manisnya kebersamaan.
Empat tahun berlalu ....
Banyak yang telah berubah. Seperti pohon mangga di halaman belakang rumah Austin yang kini ranum. Jika dulu masih pendek dengan pucuk merah tanpa bunga walau segenggam, kini pohon itu sudah bisa menghasilkan buah hingga berkarung banyaknya setiap kali masa panen.
Bicara soal usaha, kedua ladang uang milik Austin, yakni bengkel dan juga kafe, kini telah menjamur mengisi belasan titik seantero Jakarta. Merengkuh kesuksesan dengan Tara yang saat ini menjabat sebagai direktur pemasaran.
Sedang Andrew, ia memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai mafia, walaupun hengkangnya sempat melalui prahara rumit yang kemudian melibatkan Austin sebagai penolong. Entahlah! Yang jelas, semua tuntas tanpa dendam di antara Andrew dan komunitasnya.
Pria itu kini mengelola perusahaannya sendiri di bidang percetakan di kota Bogor--kota kelam yang menjadi goresan kenangan buruk perbuatan bejatnya atas Jasmine di masa lalu. Sekaligus kota yang akhirnya menjadi rumah bernaung bagi ia dan keluarga kecilnya saat ini.
Jasmine juga meninggalkan profesinya sebagai pekerja seni. Ia memilih fokus pada Lily dan balita laki-laki tampan yang telah dilahirkannya dua tahun lalu.
Ya!
Andrew dan Jasmine telah menjadi pasangan suami istri.
Batu keras dalam hati Jasmine akhirnya melebur seiring waktu. Ia dan Andrew mengucap janji suci, tepat dua bulan setelah acara lamaran yang disiarkan langsung di televesi saat itu terjadi.
Di rentang dua bulan itulah, luka di hati Jasmine perlahan samar, pudar, lalu menghilang, kemudian berubah menjadi gelenyaran hangat membentuk cinta, seiring ritme pertemuan atas nama penebusan sekelumit dosa.
...🤎🤎🤎🤎...
Lain Andrew Jasmine, lain pula Tara Kandyla.
Saling melempar makian acapkali dipertemukan, Tara dan Kandyla layaknya dua ekor kucing yang saling mencakar. Tapi siapa duga, campur tangan Tuhan pada akhirnya menghentikan seteru sinting mereka dengan sebuah rasa yang benar-benar agung.
Kandasnya kisah cinta Kandyla bersama Jhofan--sahabat baik Sigi, menjadi awal banyaknya moment curhat gadis itu pada Tara.
Berteman baik, bercerita banyak hal, lalu saling tertarik.
Ya, cinta datang tanpa disangka. Dari seteru menjadi sikap malu-malu. Saling sembur umpatan kemudian berakhir saling menatap dalam beku.
Tara - Kandyla, dihimpit keraguan, rasa tak enak, dan ketidakmungkinan, cukup sulit pada awalnya. Namun setelah melalui pendalaman hati yang cukup berlarut-larut hingga memakan tahun lamanya, dibungkus persahabatan dan kedekatan dengan rasa yang aneh, mereka akhirnya mengalah pada ungkapan mengakui, juga perasaan abu-abu yang ternyata adalah bentuk dari rasa ingin memiliki.
Lucu sekali.
__ADS_1
Hey! Gadis kecil bertopi dengan senyum mengembang manis di pelukan Austin di foto itu ... itu Lily! Ya, Lily Bennedict.
Benar, sudah sebesar itu.
Usianya kini menanjak angka enam. Tapi masih harus menunggu beberapa waktu untuk mencapai genap. Gadis kecil itu kini tinggal bersama kedua orang tuanya di Bogor, setelah Austin melontarkan kerelaannya atas nama cinta dan penghapusan keegoisan.
Ia tak bisa mengukuhkan yang bukan haknya.
Tak ayal, baik Lily mau pun Austin, keduanya masih tetap bersikap layaknya ayah dan anak seperti biasa. Chemistry di antaranya masih sekuat dulu, ketika Austin masih menyandang peran sebagai ayah sekaligus ibu atas bocah itu.
Bertukar kunjungan setiap minggunya, begitulah yang mereka lakukan setelahnya, bahkan hingga sekarang.
Andrew dan Jasmine tak sedikit pun keberatan akan hal demikian. Karena mereka sadar, selain berkat Tuhan, Austinlah yang menjembatani hubungan di antara keduanya. Hingga bersatu atas nama cinta tanpa prahara berkepanjangan.
Austin ....
Walau usianya tak lagi muda, ia tetap setampan empat tahun lalu.
Selain sering memakai jas untuk kepentingan berbagai acara yang dihadiri, ia juga kembali dengan kostum balapnya yang super keren.
Austin telah kembali ke dunia lintasan--dunia yang dicintainya.
Beragam penghargaan diterimanya--atas nama Indonesia.
Betul! Pria itu sudah mengganti identitas Amerika dalam dirinya, menjadi murni rasa Indonesia.
Mengganti saja. Camkan! Bukan melupakan tanah kelahirannya. Karena sesekali ia juga berkunjung ke makam Mommy dan Daddy-nya di Negeri Paman Sam sana.
****
"Lu yakin gak ngajak gua?" Tara bertanya dengan wajah seperti anak kecil minta digendong.
"Kagak! Lu mau kawin inget!" hardik Austin seraya terus mendorong kopernya menuruni tangga. "Kalo lu ikut gua, dijamin besok muka lu bengep kena siksa tangan besi si Didy. Gua ngeri liat dia kalo uda ngamuk!"
Tara mendengus kasar. "Atuh dianya gua ajak lah! Sekalian latihan malam pertama," katanya seenak jidat dengan cengiran naudzubillah.
__ADS_1
"Trus gua jadi baygon gitu?!" Bagasi belakang mobilnya mulai dibuka Austin lalu memasukkan koper dan menutupnya kembali.
"Lu jadi baygon mah yang gua kejer. Gajadi kawin!" balas Tara melengos.
"Nah tu lu tau. Gua pan cuma bisa jadi baygon. Kalo obat nyamuk, nyamuknya mati." Ditoyornya kening Tara cukup kuat hingga melengak. "Kandyla gua yang garap!"
"Si kampret!" erang Tara mengikuti Austin yang mulai menyelinap ke balik kemudi. "Jalan-jalan kagak! Calon bini digarap setan!"
"Makanya jan mau jadi nyamuk! Udah, gosah manja menta ikut segala. Gua mao cari cewek kampung yang masih ori!" Mesin mulai berdengung. Austin siap memacu kendaraannya.
"Cewek kampung ... ayam kampung, anget!"
NGUUUUNGGGG
Mobil pun melaju meninggalkan halaman bengkel.
"Pinter banget dah si Bule Kepret! Dia cabut seneng-seneng, kerjaan limpahin ke gua!" umpat Tara seraya berkacak pinggang, menatap sebuah motor milik salah seorang aktor--sisa pekerjaan Austin yang tak dituntaskannya. Tentu saja bagian Tara pada akhirnya sebagai pelaku tahap finishing.
...*****...
Bukit Gantole, Puncak - Bogor, Jawa Barat.
Di sanalah Austin berada saat ini.
Di bawah sebuah pohon, duduk dengan kaki tertekuk lebar ditumpangi sepasang telapak tangannya yang saling menggenggam melingkar longgar di depan dada, menikmati sunset dengan kacamata hitam terkait di hidung mancungnya. Mengambil posisi sedikit menjorok ke bawah, berjauhan dari para pengunjung lainnya yang memilih berkomplot di puncak bukit ditemani para pedagang jagung bakar.
Austin senang menikmati kesendirian yang terasa lebih damai menurutnya.
Pemandangan hijau memukau di bawah sana ditatapnya kagum. Beberapa penerbang layang asik mengitari langit rendah di atasnya.
Semilir angin sesekali berkesiur menembus tubuhnya yang mulai merasai dinginnya kawasan itu jelas saja yang tak biasa--berbeda sepuluh derajat di bawah suhu udara Jakarta.
Secangkir minuman panas berperisa jahe baru saja diantarkan seorang wanita muda dari kafe yang terdapat di bagian atas sekitaran area. Austin tersenyum seraya mengucapkan terima kasih. Wanita pelayan kafe pun berlalu dengan raut senang, seolah baru saja dikecupi aktor Hollywood.
Parka tebal disamping tubuhnya diambil lalu dibalutkannya ke tubuh. Dingin semakin tak bisa ditahannya walau sesaat. Semakin menusuk seiring warna langit yang kian meredup kelam.
Sekitar setengah jam kemudian, Austin yang masih setia duduk di posisinya, tergerak menoleh ke sisi kiri beberapa meter darinya. Geming tenangnya mulai terusik karena hal itu.
__ADS_1
Seorang wanita dengan kupluk rajut berwarna coklat, berjaket bulu lebat di bagian lehernya, bergerak mendekat ke arahnya dengan langkah mundur seraya membidik amazing spot maha indah di hadapannya. Kamera DSLR diposisikan wanita itu di depan matanya, namun tak cukup memperhatikan lekukan tanah di bawah pijak kakinya yang cukup membahayakan.
Tak ayal, pergerakan sontoloyo itu sontak memancing Austin untuk sedikit memperingatkan, "HEY! Hati-hati!" Ia meneriaki.