Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 29


__ADS_3

"Aku pamit, Oma. Makasih atas semua kebaikan yang udah Oma kasih dan Oma lakuin buat aku," ucap Jasmine disiram tangis. Ada luka tak kasat mata teriring di antaranya. "Maafin aku atas semua kesalahan aku, Oma. Maaf ...."


Namun wanita tua itu masih bergeming. Bukan ia tak menyayangi wanita muda yang telah dianggapnya cucu tersebut, hanya rasa kecewa yang membuatnya tak ingin menoleh. Bahkan ketika Jasmine meraih telapak tangan kanannya, Oma Lissa masih bergeming, tak berani menatapnya, namun juga tak menolak ketika kecupan lembut Jasmine mendarat di punggung tangannya.


Hal itu tentu saja semakin menambah luka di hati Jasmine. Itu memang salahnya, Jasmine mengakui. Dan sekarang saatnya ia pergi. Ia jelas hanya duri di dalam daging. Sungguh tak pantas mempertahankan diri, dalam keluarga yang jelas hangat sebelum kedatangannya.


Ada sebersit sesal dalam hatinya, kenapa dulu ia tak pergi saja.


Lalu sekarang apa?


Pamit dengan hati, lalu menendang diri untuk menjauh.


Setelah mencium dalam punggung tangan Oma Lissa, dengan gontai, Jasmine membalik badan, lalu mulai melangkah dengan koper kecil yang ditarik kiri tangannya.


Ternyata begitu menyakitkan melepas anak itu pergi. Oma Lissa menolehkan kepalanya menatap punggung Jasmine yang mulai menjauh dan kini telah hilang di balik pintu. Barulah tangisnya merebak keluar setelah pintu itu benar-benar tertutup. "Jasmine ... cucuku ...," ratapnya pedih.


Tapi ia bisa apa. Jika tetap menahan Jasmine di rumah itu, maka hubungan Dayhan dan Alexa akan terus keruh. Terlebih ancaman yang dilayangkan Alexa untuk bunuh diri, jika ia tetap mempertahankan Jasmine untuk tetap tinggal. Oma Lissa cukup dilema menghadapi situasi mencekik itu. Sisi antara kasih sayangnya pada Jasmine, dan sisi tentang Alexa beserta darah daging Dayhan dalam kandungan wanita itu.


Dilema besar.


Tanpa terasa ... sudah hampir satu jam lamanya Oma Lissa terdiam di posisinya--duduk dingin dengan tatapan rapuh yang hanya berisi Jasmine di dalamnya.


Saat ini waktu menunjukkan pukul 02.10 dini hari.


Mata wanita tua itu masih nampak segar terjaga. Bayangan wajah dan langkah akhir Jasmine di rumah itu satu jam yang lalu, membuatnya dilanda kesedihan luar biasa yang cukup menyiksa dirasanya.

__ADS_1


Sampai suara tapak kaki terdengar menuruni tangga. Sedikit berhasil mengalihkan pandangan Oma Lissa dari pusat perhatiannya yang entah apa.


Dayhan ....


Pria itu turun setelah berhasil menenangkan Alexa dan membuat tunangannya itu tertidur di kamarnya.


"Han ...."


Dayhan menurunkan tubuhnya lalu duduk di samping Oma Lissa. Ditatapnya wanita tua itu penuh rasa bersalah. Satu tangannya terjulur untuk meraih lalu menggenggam erat tangan renta tersebut. "Maafin, aku, Oma. Semua salah aku. Semua gara-gara aku, sampai Jasmine harus terusir dari rumah ini."


Elusan lembut di punggung Dayhan sebagai bentuk penenang, Oma Lissa terlalu bingung menyikapi. "Oma tidak menyalahkan kalian. Karena bagaimana pun, cinta itu datang tanpa undangan," tuturnya lembut, namun cukup getir terdengar. "Kalian selalu bersama. Mungkin dari sanalah perasaan di antara kalian tumbuh, sampai membuat kamu lupa, bahwa kamu punya Alexa."


Dayhan termanggu diam. Ia menunduk dengan masih menggenggam telapak tangan Oma-nya. "Soal Alexa, aku juga minta maaf, Oma. Aku bener-bener gak tahu kalo dia hamil," sesal pria itu semakin bertambah.


Mendengar lalu membayangkannya, Dayhan cukup terhenyak. Sejenak ia memejamkan mata, lalu mulai terlihat kecemasan sebenarnya. Ia lantas berdiri secara sontak kala pikir dan hatinya menuntutnya untuk bertindak.


"Han!" Oma Lissa cukup terkejut melihat perubahan ekspresi cucunya itu.


"Aku titip Alexa, Oma. Kalo dia bangun, bilang aku keluar sebentar atau apalah."


"Kamu mau kemana?" Oma Lissa ikut berdiri.


"Aku mau cari Jasmine, Oma!"


"HANNN!!"

__ADS_1


____


Tak ada satu pun lalu lalang kendaraan. Jalanan benar-benar menggambarkan situasi kota tidur.


Dayhan terus memacu mobilnya. Seraya tetap memutar stir, kepalanya nampak mengedar ke sama kemari, mengabsen setiap sudut jalanan. Sesekali ia turun untuk menelisik tempat-tempat dengan celah lebar, yang menurutnya memungkinkan untuk Jasmine berada di sana.


"Mustahil! Dia 'kan jalan kaki! Mana mungkin bisa cepet keluar area ini?" Dayhan berkicau tak habis pikir. Ia berdiri di samping sebuah pos ronda di tepian jalanan komplek. Satu tangan ia tempatkan di pinggang, satu lainnya ia gunakan untuk mengusap-usap kasar kepala belakangnya. Ekspresi frustasi jelas tak bisa disamarkannya lagi.


"Jaaasss! Kamu kemana, sih?"


Ponselnya bahkan telah Jasmine non-aktifkan.


Dengan keputusasaan yang semakin kental kentara, Dayhan memasuki mobilnya kembali. "Kalo aja aku gak usik kamu ... pasti sekarang kamu masih di rumah. Masih jadi adik aku! Adik juga cucu Oma yang manis!"


Di sela pergulatan dunia sesalnya, tiba-tiba sebuah nama melintas di kepala Dayhan. Ia menegakkan tubuhnya dengan wajah terang seolah menemukan jalan keluar. "Austin," gumamnya. "Apa mungkin Jasmine pergi ke tempat Austin?" Tebak-tebakan di kepalanya. "Tapi mana mungkin?” katanya turun nada dan melemah. Ia meremas rambutnya yang klimis. Pening rasanya menghadapi situasi ini.


Dayhan terus beradu dengan argumen dan pemikirannya, sembari diotak-atik ponsel dengan fitur deretan nomor telepon. Berharap seseorang mungkin bisa membantunya.


Setelah dicobanya berkali-kali, tak ada sekali pun respon. Dayhan melajukan cepat mobilnya menuju rekannya yang merupakan seorang polisi.


Meminta bantuan menemukan Jasmine, atau mencari alamat Austin.


Soal Alexa, ia tak akan peduli dulu untuk saat ini. Jasmine lebih membutuhkan uluran telapak tangannya.


Ia tak akan tenang sebelum mengetahui Jasmine baik-baik saja di luar sana.

__ADS_1


__ADS_2