
"Malem, Oma." Jasmine baru saja menapakan kakinya di ruangan tengah rumah, tepat pukul 08.45 malam ini. Sedikit membungkuk, untuk sekilas dikecupnya punggung tangan wanita tua itu--seperti biasa ia lakukan saat kembali dari resto.
"Malam, Sayang. Cape banget kayaknya hari ini." Perlakuan manis Oma Lissa seperti biasa. Cangkir teh di tangannya ia letakkan di atas meja, lalu merubah posisi duduknya lebih condong ke arah Jasmine, yang telah mengambil tempat di sampingnya.
"Lumayan, Oma. Hari ini resto sesek banget." Seraya menumpahkan kepalanya di pundak Oma Lissa, Jasmine benar-benar terlihat lelah. "Tapi aku seneng."
Oma Lissa tersenyum. Diusapnya lembutnya pipi Jasmine dari samping. "Ya udah, kamu istirahat gih."
"Bentar lagi, Oma. Aku nyaman nyenderin badan Oma kayak gini," kicau Jasmine dengan senyuman tipisnya. Mata letihnya sesaat ia pejamkan.
Sampai sesuatu berhasil merubah irama kelelahan Jasmine menjadi keterkejutan.
"Oma!" Suara bariton dengan warna sedikit serak, spontan melengakan kedua wanita itu.
Jasmine mengangkat kilat kepalanya dari pundak Oma Lissa.
"Sayang, sebentar banget jalan-jalannya?" Oma Lissa menyambut manis pria yang tak lain adalah cucu yang tadi siang ia jemput ke bandara.
Senyum manis pria itu ia suguhkan untuk sang nenek tercinta. "Aku cuma makan makanan yang aku kangenin aja, Oma." Lalu duduk di salah satu kursi terpisah di samping Oma Lissa. Dan kini pandangannya jatuh pada Jasmine yang masih terdiam dengan senyuman kakunya.
Sepasang mata Oma Lissa menangkap itu. Ia lalu kembali tersenyum. "Dia Jasmine." Menepuk sekilas pundak wanita itu. "Orang yang selalu Oma ceritakan sama kamu di telepon."
Pria itu nampak sedikit terkejut. "Oh, hay!" sambutnya manis. Bulu-bulu tipis di sekitaran dagunya itu cukup menampakkan kedewasaannya. "Aku Dayhan ... cucunya Oma." Dijulurkannya telapak kanan tangannya ke arah Jasmine. "Oma uda cerita banyak soal kamu."
Jasmine menerima uluran tangan itu dengan senyuman kaku. "Ah, iya. Aku Jasmine."
"Nama yang cantik." Dayhan lagi-lagi tersenyum. "Makasih uda jagain Oma selama aku gak ada di sini." Sekilas Dayhan melirik Oma Lissa yang masih dengan senyum menatapnya bahagia.
"Dia benar-benar seperti malaikat penjaga Oma, Han," puji Oma Lissa bangga.
"Oma berlebihan," elak Jasmine tak enak hati. "Harusnya aku yang bilang kayak gitu sama Oma."
****
Pagi-pagi sekali Jasmine telah rapi dengan busana formalnya. Sehelai kemeja biru ketat yang pas dengan ukuran tubuhnya yang kini terlihat lebih berisi, dipadankan dengan span hitam selutut juga heels coklat pucat setinggi lima senti yang semakin memperindah bilahan kaki jenjangnya.
Kulit Jasmine yang dasarnya mulus kini nampak lebih glowing bercahaya, meninggalkan kesan lusuh dan keringnya ketika ia masih menjadi seorang pemulung.
"Jas!" tegur Oma Lissa yang baru saja menapak anak tangga terakhir di ujung bawah.
__ADS_1
"Iya, Oma."
"Ini 'kan masih terlalu pagi. Kok kamu udah siap aja?!"
Telapak tangan Jasmine nampak sibuk dengan isian tas selempangnya. "Iya, Oma. Aku lupa bilang, kalo jam sepuluh hari ini, resto di booking perusahaan yang di depan itu, buat acara ultah pimpinan mereka. Jadi aku harus bimbing anak-anak buat rapiin juga urusin semuanya, sebelum acara dimulai," jelas Jasmine tanpa jeda.
"Oh, gitu." Oma Lissa manggut-manggut. "Untung Pak Karjo udah balik semalem. Kamu panggil dia buat anterin kamu ke resto, biar agak cepet," saran Oma Lissa terbawa gesa.
"Iya, Oma. Ak--"
"Biar aku aja yang anter!" Dayhan, pria itu datang dan memungkas pergerakan Jasmine yang baru saja hendak berjalan menuju kamar Pak Karjo--supir pribadi Oma Lissa. "Sekalian aku pengen liat-liat perkembangan resto."
"Han! Kamu udah bangun?" tanya Oma Lissa heran.
"Sejak tugas di sana, aku udah biasa bangun pagi-pagi buta, Oma," jawab Dayhan dengan senyumnya. "Ya udah ayo, Jas. Nanti kamu telat lagi!"
"Bukannya kamu ada janji ketemu Alexa, Han!" Oma Lissa memungkas.
"Gampang, Oma. Aku bisa temuin dia sepulang dari resto."
---
Suasana ini tentu terasa asing bagi Jasmine. Semenjak terpisah dari Austin, hingga kini, ia belum pernah berdekatan lagi dengan pria mana pun selain para pegawainya di resto juga para pelanggannya--sebatas hubungan bisnis. Dan Jasmine sudah merasa biasa dengan itu.
Lalu atas dasar apa dia merasa canggung dengan pria di sampingnya? Apa karena Dayhan cucunya Oma Lissa?
Ia bahkan tak tahu jawabannya.
Sebenarnya sudah cukup banyak pria yang menginginkan Jasmine selama tinggal bersama Oma Lissa--dari berbagai kalangan. Namun perasaan terluka karena tipuan Austin, membuat Jasmine kembali membatasi diri terhadap pria. Ia tak mau dikelabui kembali. Austin menjadi sebuah trauma hitam yang sulit membuatnya membuka hati.
Dayhan sesaat meliriknya, lalu tersenyum. Merasakan kecanggungan Jasmine, telapak tangannya mulai bergerak untuk menyalakan Audio mobilnya. Sebuah lagu upbeat milik suara renyah Jasson Mraz, dipilihnya untuk memecahkan keheningan.
Jasmine spontan menoleh ke arah audio yang terputar, lalu pada Dayhan. Namun tak ada komentar apa pun keluar dari mulutnya.
"Apa kamu nggak suka sama lagunya? Kok ekspresinya gak enak gitu, sih?" tegur Dayhan enteng saja tanpa mengalihkan fokusnya dari kemudi.
Tentu saja Jasmine tersentak, lalu mengerjap kelabakan. "Ngg ... nggak, kok." Penumpahan kecaggungan, diselipkannya helaian anak rambut yang menjuntai di pipi ke belakang telinganya, lalu mengalihkan wajah ke lain arah.
Senyuman itu disunggingkan Dayhan kembali. "Kalo gak suka bilang aja. Aku matiin lagunya!"
__ADS_1
"Ah, nggak!" sanggah Jasmine cepat. "Gak apa-apa. Lagunya enak, kok."
"Syukur deh kalo kamu suka."
****
Malam ini ... di tiga hari kemudian.
Taburan bintang saling berkedip di ketinggian. Desir angin meliuk-liuk di sekitaran memberi rasa sejuk di pengapnya udara panas ibukota.
"Apa ada yang menarik di atas sana?"
Jasmine yang tengah berdiri memegangi pagar pembatas balkon dengan wajah menengadah menatap langit, spontan merotasi lehernya ke asal suara. "Kak Dayhan."
Entah kenapa panggilan Jasmine begitu terdengar nikmat di telingan Dayhan. Ia lagi-lagi memasang senyuman itu, senyuman manis yang mewakili segala karisma dalam dirinya. "Panggilan yang manis," komentar Dayhan seraya mensejajari posisi Jasmine berdiri.
"Kenapa? Apa kedengerannya aneh?" Jasmine bertanya ingin tahu.
"Nggak, kok. Aku malah suka." Sejenak dipandang Dayhan wajah manis Jasmine yang kini menatapnya menuntut jawaban. "Kamu manis."
Pujian itu membuat Jasmine salah tingkah. "Ka-Kakak berlebihan." Lantas dengan cepat, ia mengalihkan wajahnya kembali ke depan.
"Nggak akan berlebihan, kalo itu diucapkan dengan tulus."
Dayhan tipe pria santai yang elegan. Meski usianya telah termasuk usia produktif dan matang, tapi tak dipungkir, pesonanya sangat menarik perhatian dan membius. Seolah ada magnet yang terbentuk untuk terus ingin menatapnya. Jasmine mengakui itu.
Tiga hari bergumul di rumah yang sama, meskipun dengan ritme pertemuan sealakadarnya karena kesibukan masing-masing--Jasmine dengan restonya dan Dayhan dengan profesinya sebagai pengacara, membuat keduanya cukup bisa saling mengenali satu sama lain. Walau sekilas cakap di meja makan ketika pagi, atau obrolan ringan di mobil ketika Dayhan mengantar Jasmine ke resto neneknya.
Lalu ... apakah kehadiran Dayhan akan bisa mengalihkan perasaan Jasmine dari Austin?
Karena diakuinya, meskipun terbilang singkat dan berlatar kebohongan, kedekatan intimnya bersama Austin membuatnya benar-benar jatuh cinta pada pria bule itu.
Jasmine merasa gamang menyikapi.
Dan perkenalannya dengan Dayhan baru hanya sebatas ini, tapi sudah membuat Jasmine merasa sangat nyaman berada di dekat pria itu.
Cara bicara, gestur tubuh, senyum manis dengan brewok tipisnya ... membuat siapa pun mungkin akan terjebak pesonanya.
Apakah itu artinya hati Jasmine mulai terusik?
__ADS_1