
Bermula dari bingkai mata yang melebar, menyusul detak jantung yang berubah menjadi dentum saling bertabuh, pertanyaan itu lagi-lagi terasa menyengat walaupun telah berulang kali Jasmine menghadapi atas siapa pun yang mempertanyakan. Tapi ketika keingintahuan itu dilontarkan oleh pria di hadapannya, entah kenapa terasa lain di titik hati dan telinga Jasmine. Seperti sebuah teriak hujatan juga perasaan cemas yang melilit--menyesakkan.
Sebenarnya Jasmine sudah memperkirakan, entah di waktu mana yang akan dipetik Austin, pria itu pasti jua akan mempertanyakan statusnya yang antah berantah itu. Tapi kenapa harus sekarang? Saat hatinya terasa mulai terikat, dan saat di mana ia benar-benar merasa membutuhkan.
Apakah pria itu akan menerima?
Atau berlari meninggalkan?
Bola mata Jasmine mulai memanas, membayang remang berkaca-kaca, dan akhirnya menggelinding membentuk buliran yang jatuh menimpa dan kemudian meresap ke serat baju yang dipakainya. Sepasang telapak tangannya saling meremass mengiring perasaan takut yang tiba-tiba terasa mencekik.
"Jas!" Austin jelas bukan pria tolol yang tak peka dengan apa yang dilihat kemudian disadarinya. "Hey!" Sekejap saja ia telah menggeser tubuhnya, terduduk tepat di depan Jasmine yang masih merunduk. Selimut yang merubungi tubuhnya telah turun hingga ke pinggang seiring geraknya. "Maaf kalo pertanyaan aku bikin kamu sedih. Aku gak bermaksud--"
"Aku diperkosa!" sembur Jasmine keras, seraya dengan cepat mengangkat wajahnya menatap Austin. "Anak ini hasil perkosaan!" jeritnya dengan air mata menyeruak pilu.
!!!!
Seolah dibekukan, Austin terpaku menatap Jasmine separuh tak percaya. Semua asumsi di kepalanya melebur dalam hitungan detik. Asumsi tentang suami tolol yang tidak bertanggung jawab atas istri dan calon anaknya, juga ... kematian!
"Lelaki biadab itu telah ngancurin hidup aku!" Jasmine menanjak histeris. Emosinya meledak-ledak, berdamping bayangan-bayangan tragedi kelam yang membuatnya berakhir di tempat itu dengan perut membuncit.
"Jas! Jasmine! Tenanglah!" Kedua pergelangan tangan Jasmine dicekal Austin, ketika wanita itu menjadikan dada polosnya sebagai media pukulan tangannya--menumpahkan emosi. "Tenang!"
"Dia udah ngancurin hidup aku, Benn!!" Suara Jasmine semakin meninggi.
"Dia siapa yang kamu maksud?!" Austin berseru tak kalah tinggi--tak mengerti.
Jasmine terdiam. Pertanyaan itu justru menjebaknya dalam kebingungan. Dalam isak keras tangisnya ia lalu menggeleng. "Aku nggak tahu! Aku nggak tahu, Benn! Aku gak kenal siapa dia!"
Austin terhenyak. "Maksud kamu?"
Pasang mata itu ditatap Jasmine lekat. Seperti rumah indah yang bisa ia jadikan pengaduan, setepuk tangan Jasmine berharap. "Aku ...."
__ADS_1
Selanjutnya walau terdengar kaku dan terbata-bata, Jasmine mulai menceritakan kejadian keji yang menimpanya beberapa bulan silam--seluruhnya, tanpa sepetik pun yang terlewat pada pria yang baru dikenalnya beberapa minggu itu.
Tubuhnya perlahan melemas. Air matanya masih turun menganak sungai. Kini beban di dadanya terasa sedikit berkurang setelah penumpahan yang jelas tak terencana sama sekali. Mengikuti hatinya yang terus mengajak menjabarkan kesah dan getir yang direngkuhnya selama ini--hanya pada Austin.
Meski ia tak tahu, penerimaan semacam apa yang akan ia dapat dari pria itu setelahnya.
Dibentur kesaksian alam, tepat malam ini, detik ini, untuk pertama kali sejak ia menginjakkan kakinya di negara ini bertahun lalu, Austin merasa peduli pada sebuah cerita. Cerita yang berhasil mencubit sisi lemahnya sebagai pria dengan benteng hati setangguh piramid, sekaligus menghancurkan sumpah tentang memakai sekisah perasaan dalam segala hal yang dijalaninya--semenjak kematian ibunya.
Pemandangan itu menjadi melodi pilu yang menggetarkan seisi jiwa Austin. Ia kalah telak, oleh seorang Jasmine!
Setelahnya tanpa berpikir lagi, Austin menarik wanita itu ke dalam peluknya. Merengkuhnya kuat seraya mengecupi kepalanya yang masih terasa lembab dirasakannya itu berulang. "It's okay! I'm here."
Gua bakal cari kemana pun biadab yang udah ngerusak idup Jasmin! Kemana pun! Sampe ke lobang kalajengking sekali pun, gua jabanin! Tekad Austin dalam hati. Sorot matanya berkilat laksana elang mengintai buruannya.
Lain dengan Jasmine. Menerima perlakuan itu, hatinya tiba-tiba menghangat. Kehangatan yang baru dirasakannya selama diliputi keterasingan--sejak tragedi biadab itu menimpanya.
"Maaf, Benn. Maafin aku!" ujar lemahnya. Suara yang dihasilkannya terdengar lirih, parau dan menyakitkan. "Aku cuma gak mau bohong lagi sama siapa pun. Aku cape jadi pembohong!"
"Iya, iya. Aku ngerti!" Dengan posisi kaki terlerai--menjepit tubuh menyamping Jasmine yang bersandar di dadanya, pelukan itu semakin diketatkan Austin. "Jangan sedih lagi. Kamu sekarang punya aku."
Menanggapi pertanyaan itu, bibir Austin tertarik ke samping membentuk sabit senyuman manis yang sudah pasti ... bikin meleleh. Telapak kanan tangannya terangkat menangkup wajah wanita itu. "Semanis ini masa aku jijik?" katanya menggoda. "Aku cuma jijik sama ingusnya si Tole." --Bocah Punk, berambut tiga duri warna-warni, yang sempat ngobrol sakral dengan Austin tempo lalu.
Kelakar Austin berhasil menoreh raut lucu di wajah Jasmine. Wanita itu terkekeh tipis menanggapi. "Kamu ni apaan, sih?! Tole gak ingusan juga kali," hardiknya seraya menyeka pipi basahnya.
"Kalo lagi pilek pasti!"
"Dasar."
Seolah menjadi virus, senyuman Jasmine meresap hangat ke dalam hati Austin, menjalar membentuk perasaan senang yang kemudian berakhir dalam sebentuk senyuman bahagia di wajah pria itu.
"Jas."
__ADS_1
"Hmm." Jasmine mendongak cepat.
"Aku mau nikahin kamu!"
....
....
Detik merangkak menjadi menit, Jasmine masih terpaku di posisinya--mengabsen setiap detail wajah Austin--mencari kebenaran. "Ka-kamu bilang ...."
"Aku mau nikahin kamu!" sergah gegas Austin. "Kita rawat anak ini sama-sama!" Seraya mengelus perut Jasmine penuh kelembutan.
"Kamu gak lagi becandain aku, 'kan?" Jasmine memastikan.
Telapak kiri Austin masih terlingkar di pundak Jasmine, sementara lainnya ia gerakkan untuk mengangkat dagu manis wanita itu hingga terdongak ke arahnya. Jarak wajah keduanya kini hanya tersisa sejengkal saja. Hangat hembus napas mereka saling membentur satu sama lain.
"Aku memang suka becanda. Aku juga seneng resein semua orang. Tapi ... semua itu gak berlaku buat kamu, Jas." Sejenak Austin tersenyum. "Aku serius. Kamu mau 'kan nikah sama aku?" Manik matanya bergilir kiri dan kanan menatap netra Jasmine--menuntut jawaban.
Tatapan itu tak sedikit pun ditangkap Jasmine sebagai kebohongan. "Apa kamu yakin, Ben?" Austin mengangguk mantap. "Kamu mau sama cewek rendahan kayak aku. Aku ini sisa or--"
Kalimat terusan Jasmine terpungkas spontan, ketika secara cepat Austin menyumbatnya dengan sebuah kecupan. Bibir keduanya kini saling beradu menempel rekat.
Pasangan bingkai mata Jasmine nampak melebar. Jantungnya berdentam kencang seperti deru pesawat terbang di ketinggian. Tentu saja ia terkejut dengan perlakuan tanpa aba-aba pria itu.
Setelah cukup dirasanya, Austin menarik bibirnya sedikit menjauh--tipis saja. Ibu jarinya ia sapukan ke bibir Jasmine yang alami tanpa liptin dan sejenisnya itu. "Aku milik kamu mulai sekarang," bisiknya dengan nada berat. Kemudian mengecupnya kembali tanpa menunggu Jasmine membalas susunan katanya.
Kini kecupan itu bertambah dalam. Jasmine masih terdiam dalam kejutnya. Belum menerima, tapi tidak juga menolak--hanya diam tanpa reaksi.
Sampai dirasanya tangan Austin semakin ketat merengkuhnya. Juga sesuatu yang perlahan mengeras di bawah sana--milik Austin yang menempel tepat di sisi bokong sebelah kanan Jasmine. Barulah wanita itu menyadari, Austin tak berbusana. Selain underwear hitam yang menutupi area sakralnya.
Jasmine ingin berontak? Mustahil.
__ADS_1
Di saat pria itu justru malah memperdalam ciumannya. Meliuk-liuk lidah mengeksplor rongga mulut milik Jasmine yang ternyata sudah terbuka secara naluri--mengikuti rasa yang sebenarnya juga diinginkannya, sebagai ... tentu saja wanita normal. Perlahan telapak tangannya naik melingkari leher Austin, menikmati sensasi memabukkan yang tercipta dari melodi intim tersebut.
Dengan back sound hujan deras juga suara debur sungai yang meluap, sepasang manusia itu tenggelam dalam kubangan lahar gairah yang menggelora. Ditepuki pekikan setan yang bernyanyi di sekelilingnya.