
Ferona Cindy Wijaya, nama panjang gadis itu. Ujung yang sama yang juga dimiliki Sigi--Bastian Sigi Wijaya. Mencubit nama besar ayahnya--Rahadian Wijaya.
Seperti dalam penggalan bait lagu sang legenda balada--Iwan Fals ... ‘Empat tahun bergelut dengan buku, tuk jaminan masa depan’, begitulah Cindy di Negeri Paman Sam sana.
Tapi tentu tak senaas gambaran sarjana muda yang diceritakan lagu itu, garis takdir Cindy jelas jauh berbeda. Ia tak menyusur jalanan berdebu dengan sebatang rumput liar mengering terselip di sela gigitannya--resah tak dapat kerja.
Cindy sudah menggapai sepertiga mimpinya. Ia kini bekerja di bawah naungan perusahaan kakak kandungnya sendiri--Bastian Sigi, sebagai wakil direktur, menggantikan pria itu sementara waktu, sampai batas waktu yang tak ditentukan.
Karena saat ini Sigi tengah berada di Singapore bersama istri yang baru saja melahirkan anak pertamanya.
Ayhona Maharane, sosok guru cantik yang viral di media sosial karena ragam aksi kemanusiaannya di beberapa titik pelosok negeri. Wanita yang pada akhirnya menerima jatuhan pilihan Sigi sebagai tambatan terakhir hati pria itu. Sejoli ini dipertemukan dalam sebuah acara talk show salah satu stasiun televisi kenamaan negeri, di mana keduanya sama-sama hadir sebagai bintang tamu saat itu.
"Jadi ceritanya Sigi gak bakal balik tinggal di sini?" Austin bertanya. Ia memang tahu kabar itu dari Jasmine, namun tak serinci seperti yang baru saja diceritakan Cindy.
"Katanya sih dia balik .... " Sejenak Cindy menggantung kalimatnya. ".... Tapi pas aku udah nemuin jodoh!" ungkapnya terkekeh. "Ada-ada aja emang Bang Sigi." Diakhirinya dengan geleng-geleng.
Austin hanya tersenyum menyikapi. "Kamu masih muda. Masih panjang jalannya."
"Hmm ... emang abang aku aja gak sabaran!" dengus Cindy.
Di depan televisi yang menyala, berleseh ria di atas kasur berbulu yang cukup menghangatkan suhu tubuh, Austin dan Cindy duduk di sana. Sedang Alsy, gadis itu sudah terhempas dalam lelapnya di atas sofa tunggal sebelah kiri Cindy, dengan tubuh menekuk juga kaki yang terjuntai melewati lengan sofa. Wajahnya ia tutup dengan sebuah majalah menelungkup, yang sesaat sebelum terpejam, dibacanya dengan mulut berisik.
"Padahal aku sering lihat kamu di tv, Kak," ujar Cindy sekilas menoleh pada Austin dipulas senyuman tipis. "Tapi tetep aja aku kaget liat kamu tiba-tiba ada di sini," tambahnya.
"Kamu keren!" Ia mulai memuji. "Apalagi kalo udah pake kostum balap."
__ADS_1
"Bikin kamu jatuh cinta, gak?" Austin menyergah dengan tanya. Sedikit bernada canda, namun juga terkesan menggoda.
Cindy menolehnya lengkap dengan senyuman. "Aku selalu jatuh cinta sama orang yang pernah bawelin aku, boncengin aku, nganter pulang lewat tengah malem buta, trus berantem sama abang aku," tuturnya tanpa canggung sedikit pun, yang lalu diakhirinya dengan kekehan.
Selain tak lagi tampil dengan gaya tomboy-nya, gadis itu juga tak sekaku dulu. Lebih lantang, berani, peningkatan attitude, juga ... lebih menawan tentunya.
"Kamu lagi godain aku?" Austin bertanya dengan satu alis terangkat. Posisi punggungnya yang semula tersandar, kini ia geser menghadap Cindy seutuhnya. Satu telapak tangan ditopangkannya ke dagu dengan siku tersangga sofa.
"Apa aku pantes buat itu?" sanggah gadis itu melempar balik tanya. Seraya bergerak mengambil poisisi sama dengan Austin--saling berhadapan.
Austin terkekeh lalu membuang wajah. "Gadis songong uda pinter ngeles rupanya," komentarnya merasa lucu. "Sayangnya muka kamu sekarang lebih cocok jadi pendongeng anak TK yang susah tidur." Kemudian balik menatap Cindy.
Tangan Cindy spontan terangkat memukul bahu pria itu. "Aku sengantuk itu apa?!"
"Lah, kok ngantuk?" Kekehan Austin sedikit nyaring.
"Hahaha!"
Obrolan mereka terus berlanjut membahas segala hal. Menyusur ruang waktu ditemani tawa-tawa renyah. Hingga tanpa terasa, jam sudah bergerak naik ke angka sebelas malam.
"Kamu yakin gak mau nginep sini, Kak?" tanya Cindy seraya mengayun langkah mendampingi Austin bergerak maju menuju halaman villa.
"Nggak ah! Takut khilaf!" tanggap Austin sekenanya.
"Khilaf kamu pasti bentuknya manis. Aku gak keberatan dikhilafin kamu!" canda Cindy dengan tawa kecilnya.
__ADS_1
Austin menghentikan langkah. Pintu mobilnya telah disibaknya setipis papan, namun tak dimasukinya kendaraan itu. Ia malah membalik cepat tubuhnya 180 derajat, sehingga dada bidangnya sontak membentur wajah Cindy yang berdiri di belakangnya. Lantas dengan songongnya, pria bule paralel itu mengecup kilat bibir Cindy layaknya pencuri. "Kayak gitu khilaf yang kamu maksud, Gadis Kecil?" tanyanya dengan senyuman nakal.
Tak ada sahutan. Cindy terdiam dengan tubuh menegang, sepasang tangannya masih menempel di dada kekar Austin setelah tadi terangkat secara spontan saat pria itu berbalik. Wajahnya mendongak menatap iras tegas Austin dengan mulut sedikit menganga--terkejut.
"Kenapa? Mau lagi?" goda Austin dengan suara pelan teriring tarikan bibir yang justru membuat Cindy semakin terhempas ke dalam ruang kosong yang hampa, yang hanya ada wujud tampan Austin di dalamnya.
Dagu manis milik Cindy itu dicubit ringan Austin, melalui telunjuk dan ibu jari yang ia satukan.
Cindy masih membeku di antara perasaan yang tiba-tiba bergemuruh seperti kembang api tahun baru yang meledak-ledak dengan cahaya warna-warni yang berkilauan. Manik matanya terus bergilir dalam ekspresi aneh, antara terkejut dan ... minta lagi. Hehe ....
"Kalo diem gini, berarti nagih," sambung Austin masih nyablak solo, karena Cindy masih dalam mode bego. Dua detik kemudian, lelaki itu mulai mengeluarkan jurusnya--jurus gorila gak kuat nahan B.A.B.
Tanpa menunggu Cindy keluar dari dunianya, ia membungkuk, menempatkan satu tangannya di bawah lutut dan lainnya menyelinap ke belakang tengkuk--milik Cindy, lalu mengangkat gadis itu dalam gendongan.
"Hey!" Cindy tersentak. Otak besarnya spontan bekerja detik itu juga. "Kamu mau ngapain, Kak?!"
Austin tak menggubris. Setelah menyibak kasar pintu mobilnya menggunakan satu kaki, tubuh ramping Cindy yang mungkin dianggapnya hanya boneka balon yang tak berbobot itu, disusupkannya ke dalam mobil secara serampangan, di samping kemudi yang sesaat lagi akan ia duduki.
"Diem di situ, jangan coba-coba keluar," titah Austin dengan telunjuk mengacung ke arah Cindy, persis peringatan emak-emak berdaster pada anak balitanya yang super ngeyel; 'Jangan makan permen lagi! Nanti gigi kamu bolong!' Begitu kira-kita tampang si bule saat mengucapkan kata-kata peringatan itu. "Aku tutup pintu villa-nya dulu," lanjutnya dengan gerak mundur, kemudian melanting ke arah pintu.
Mencabut kunci yang tergantung di bagian dalam, merapatkan dua helai daunnya, lalu menguncinya dari luar. Setelah pintu kembar tersebut rapi terkunci, pria itu kembali ke arah mobilnya. Masuk gegas mengisi jok kemudi.
"Nih, kunci villa kamu."
Cindy menangkap tangkas benda bergemerincing itu di antara raut wajah bingung, bingung, dan bingungnya. "Sebenernya Kakak mau apa, sih?! Ini udah malem tahu! Kasian Alsy sendirian!" ujar gadis itu sama sekali tak paham.
__ADS_1
"Katanya kamu mau ... aku khilafin?"