
Menggedor dan berteriak di depan pintu toilet pria, Gaury Berdine cukup rela menggadaikan rasa malunya. Satu pria berjas putih bahkan sampai terkena amuknya. Dengan hentak kesal kakinya, ia berhambur keluar berpulas wajah murka.
Yang dicarinya tak menunjukkan hilal walaupun seberkas.
Berlanjut menyibak kerumunan, bertanya pada satu persatu orang, menyusur kemeriahan pesta, wanita itu mulai memasang raut tak nyaman. Austin tak ditemukannya di mana pun.
"Mana mungkin dia pergi begitu saja, 'kan?" kicaunya putus asa.
...****...
Satu kecupan lembut di bibir Jasmine baru saja dilepaskan Austin. Jarinya masih ia tempelkan di bawah dagu wanita itu. Dengan suara parau, ia lalu berkata, "Aku tau kamu masih punya rasa buat aku."
Hanya mampu terdiam dengan tatapan tak percaya. Kecupan itu, walaupun sesaat saja, Jasmine bisa merasakan kelembutannya. Masih sama seperti waktu itu. Kelembutan yang berbulan lalu dirasakannya setiap saat. Dan ia cukup merasa rindu.
"Aku harus kembali. Dayhan pasti menungguku," kata Jasmine mengalihkan. Mencoba menepis perasaan gamangnya, seraya melepaskan diri dari rengkuhan Austin lalu berdiri. Cukup tak nyaman situasi itu membuatnya. "Aku duluan." Dengan langkah lebar dan tergesa, Jasmine pergi meninggalakan pria itu tanpa menoleh lagi. Memasuki kembali pintu yang menghubungkan koridor, toilet, dan ruang utama pesta.
"Aku harus apa, Tuhan ...?" Setelah tertutup, Jasmine membenturkan punggungnya ke pintu di belakangnya, seraya menengadahkan kepala. Air matanya kembali merembas keluar membasahi kedua bilah pipinya yang merona dipoles sentuhan make up tipis. "Ben ...."
Di tempatnya ....
Austin masih nampak bergeming dalam posisi serupa. Sepasang tangannya terkulai di kedua sisi tubuhnya, dengan kaki berselonjor dan wajah tertunduk lesu. Jelas terlihat kacau. "Gak seharusnya gua berharap lagi," ia bergumam getir.
Satu telapak tangan ia tekankan ke lantai di sisinya, untuk menopang bobot tubuhnya yang terasa kebas, lalu bangkit perlahan hingga tegak. Diangkatnya wajah dengan hembusan napas kasar, Austin kemudian berjalan meninggalkan tempat itu dengan memangku perasaan hampa.
"Kamu dari mana aja, Aust?!" Gaury berteriak, sesaat setelah dilihatnya Austin muncul dari balik kerumunan. Dipegangnya kedua lengan pria itu dengan raut cemas. "Aku udah cari kamu kemana-mana!"
Austin menatapnya datar saja. "Kita pulang."
"Hah?!"
...*****...
"Kamu kenapa? Apa ada yang mengganggu kamu di pesta itu?" Sekilas melirik wanita di sampingnya, Dayhan bertanya dengan fokus tak terganggu. Bingkai stir dijalankannya tetap hati-hati.
Wajah rapuh miliknya, Jasmine tolehkan sejenak pada Dayhan. "Aku gak apa-apa. Cuma ngantuk aja," kelakarnya.
"Hmm. Ya udah, ampe rumah, langsung tidur, ya." Sekilas Dayhan mengusap kepala Jasmine dengan senyuman, lalu kembali ke inti fokusnya--jalanan.
__ADS_1
.....
Hanya selang tiga puluh menit saja, keduanya telah sampai di depan halaman luas rumah Oma Lissa.
Jasmine langsung turun tanpa menunggu Dayhan membukakan pintunya, dan selalu seperti itu.
Sedang Dayhan sendiri menyusul beberapa detik setelahnya. Kini keduanya berjalan beriringan menuju teras, dengan satu tangan Dayhan terlihat merangkul pundak wanita itu.
Pintu dibuka Dayhan perlahan menggunakan kunci cadangan yang diberikan Oma Lissa. Lalu masuk dengan Jasmine yang kini berganti mengambil langkah lebih dulu. Terlihat rasa tak sabar ditunjukkan Jasmine, untuk segera mencapai kamarnya yang berada di bawah tangga lantai dasar rumah itu.
Jarum jam menunjuk angka sebelas malam ini. Suasana rumah sudah cukup sepi dengan keadaan lampu-lampu ruangan yang telah padam sebagian.
"Tunggu, Jas!" Sepertinya Dayhan tak cukup rela melepas Jasmine lebih dulu sebelum--setidaknya mengecup kening, pipi, atau mungkin bibir wanita itu sebagai bentuk ucapan selamat malam.
Langkah Jasmine sontak terhenti ketika pergelangan tangannya diraih Dayhan secara cepat. Yang spontan membuat posisi mereka kini saling berhadapan tanpa jarak.
Posisi yang cukup manis bagi Dayhan tentu saja.
Pinggang kecil Jasmine telah direngkuh dan dikunci kedua tangannya. "Kamu gak mau cium aku dulu?"
Walaupun ditolak, sepertinya Dayhan tak begitu peduli. Ia mulai memiringkan lalu memajukan wajahnya perlahan ke wajah Jasmine, untuk mendapatkan posisi kecupan yang manis dan pas di bibir wanita itu.
Namun belum sampai kedua bibir mereka bertemu, lampu utama ruangan tiba-tiba menyala terang. Tentu saja Jasmine dan Dayhan gelagapan karenanya. Pelukan mereka sontak terlepas mengikuti waktu mengejutkan itu.
"Jadi bener kecurigaan aku selama ini?" Suara seseorang membahana di ruangan.
"Lexa ...." Dayhan bergumam terkejut, kala mendapati sosok itu tengah berdiri tak jauh darinya dengan wajah murka. "Ka-kamu ... di sini?"
Jasmine membelalakan matanya tak percaya. Tak disangkanya, selain kemunculan Alexa yang tiba-tiba, di atasnya, tepat di pertengahan anak tangga, Oma Lissa telah berdiri dengan raut tak sedap menatapnya dan juga Dayhan bergiliran. "Oma ...," desisnya dengan jantung berdebar kencang.
PLAAAKKK
"Lexa!" Dayhan berteriak tak terima, ketika satu telapak tangan Alexa mendarat sempurna di pipi halus Jasmine. "Apa-apaan kamu, huh?!"
"Kamu yang apa-apaan, Dayhan!!" Alexa balas berteriak. "Wanita ini duri di hubungan kita! Dia jelas penggoda! Kenapa kamu masih sempet-sempetnya belain dia?!"
"Aku ...." Dayhan mengusap kasar wajahnya. Rasanya tak ada kata yang pas untuk menimpal ocehan tunangannya. Ia bingung.
__ADS_1
Jasmine hanya mampu terisak dengan kepala tertunduk. Panas di pipinya adalah awal hukuman teruntuknya. Diremasnya kencang tali tas yang digenggamnya sejajar perut. Ini adalah masa penghakiman untuknya, ia tak bisa mengelak.
Oma Lissa mulai memapah langkahnya menuruni tangga. Raut wajahnya cukup sulit dideskripsikan.
"Oma hanya tidak menyangka, Jasmine," ucapnya setelah tepat berdiri di hadapan pemilik nama. "Oma menyayangi kamu seperti cucu Oma sendiri. Kamu tahu itu!" lanjutnya cukup menunjukkan kekecewaan yang teramat.
Terlalu malu, bahkan untuk sekedar mengangkat wajah. Jasmine masih bergeming dalam tunduknya. "Maafin aku, Oma," sahutnya lirih tanpa tenaga. "Maafin aku."
"Pokoknya aku mau dia diusir dari rumah ini!" Alexa menghardik keras. Air matanya mengalir bersamaan dengan kebencian dan juga kekecewaannya.
"Lexa! Kita bisa omongin ini baik-baik, 'kan?!" Berharap tak menimbulkan huru-hara, Dayhan masih mencoba bernego dengan tunangannya.
"Baik-baik kamu bilang?" Dengan kepala mendongak di depan prianya, Alexa memasang wajah menantang. "Apa kamu tahu ...." Kali ini Alexa tak bisa menahan kesedihannya. Tenggorokannya terasa tercekat untuk bisa melanjutkan kalimatnya walau seulas.
Dayhan masih menunggu.
"Apa kamu tahu ...." Susah payah kalimat itu diucapkan Alexa hingga terdengar terpatah-patah. Cukup sulit saat tangisnya bertambah deras juga terkesan pilu. "... Aku lagi hamil, Dayhan. Hamil anak kamu!"
DUAAARRR
Petir menyambar tak pada tempatnya. Semua mata terbelalak mendengar pernyataan itu. Kecuali Oma Lissa yang nampak hanya diam. Sepertinya ia telah mengetahui hal itu dari Alexa sebelum saat ini.
"Ha-mil ...?!" Dayhan mengulang dengan iras terkejut tak percaya.
"Iya, Dayhan!" sergah Alexa menggebu. "Apa kamu lupa yang terjadi sama kita di kapal pesiar Singapore waktu itu, hh?!"
Dayhan terdiam. Terpental dalam pergolakan hatinya yang tiba-tiba serasa membakar.
Kapal pesiar .... hatinya mengulang.
"Biarpun kita sama-sama mabuk, tapi aku bisa ngerasain semuanya, Dayhan! Semua yang kamu lakuin ke aku!" timpal Alexa kembali dengan nada semakin meninggi.
Jasmine ....
Tidak perlu tanyakan tentang hatinya.
Karena pada saat ini ... siapa yang akan peduli!
__ADS_1