
Sembilan puluh hari kemudian.
Di teras depan rumah mewah Cindy.
"Jangan kasar-kasar lu nunggangin do'i!" ujar Tara seraya menepuk-nepuk pundak Austin.
"Kesian! Masih amatir!" oloknya terkekeh.
"Kagak kasar kalo gua!" Austin membalas. "Palingan beringas," tandasnya sekenanya.
"Weee, sama aja, Kampret!"
Andrew menghampiri, memecah tema gesrek dua sahabat itu. "Jaga istrimu baik-baik, Aust! Jangan sampe dia nyebur ke laut gara-gara gak puas pelayanan," cibirnya receh.
"Dih! Gua kekar!" hardik Austin. "Yang ada, pas bangun ... Cindy gak bisa ngatupin kakinya, saking tornado gua bantai anuannya!"
"Setan emang!" Tara menimpal terkekeh.
"Gua titip adek gua!" Sigi muncul dari belakang Tara. "Jaga dia baek-baek!" Pria itu juga sudah melontarkan maafnya pada Jasmine atas segala kesalahannya, tepat ketika acara pertunangan Austin dan adiknya berbulan silam.
"Pasti, Bro!" Austin menyahuti seraya menerima tos manly yang dijulurkan Sigi. "Do'ain biar cepet numbuh calon ponakan lu!"
"Moga bibitnya kek maknya," harap Tara. "Kalo model bapaknya, ancur dunia persilatan."
Disambut tawa mereka bersamaan.
Di depan halaman, berdiri di depan pintu mobil yang menganga ... Jasmine, Kandyla, Cindy, Alsy, Denia, tak tinggal Yonna--istri Sigi, nampak masih berbincang-bincang ringan dengan tawa sesekali terdengar dari mulut mereka.
__ADS_1
Sedangkan di sudut kiri di mana ayunan besi tertancap, Lily bersama Nimas yang berjongkok di depan sebuah troller bayi, di mana terbaring Sigi junior di dalamnya, nampak asyik bermain dengan tema yang berbeda.
Suasana terasa begitu lengkap dan sempurna pagi menjelang siang hari ini.
Ya, seminggu lalu pernikahan Austin dan Cindy digelar secara spektakuler dan besar-besaran di lapangan Monumen Nasional, Jakarta.
Pernikahan itu melibatkan puluhan artis terkemuka ibukota sebagai bintang tamu acara juga ribuan tamu undangan dari berbagai kalangan. Baik dari dunia hiburan pertelevisian, jagat lintasan balap, orang-orang bisnis, ataupun masyarakat biasa, serempak menikmati acara pergantian status KTP Austin dan Cindy tersebut hingga menguap lelah dan lambung mereka tak sanggup menampung ratusan jenis kudapan yang tersaji.
Benar-benar pernikahan Sultan!
Dan saat ini, adalah saatnya melindas penat bagi sepasang pengantin itu. Austin dan Cindy akan terbang ke Jepang dalam rangka berbulan madu.
Di villa Austin malam itu, dengan segenap keyakinan, baik Cindy maupun Sigi, akhirnya mengalah dan menerima pinangan Austin walaupun dengan cara serampangan pria bule itu melontarkannya. Karena Austin nampaknya juga tak main-main dengan keinginannya mempersunting Cindy. Ingat umur sudah mau uzur.
Tak ada yang bisa memutus kehendak Tuhan. Sebanyak apa pun waktu yang terlewat, sesingkat apa pun sebuah pertemuan, se-tak lazim apa pun caranya, tak ada yang bisa menepis, jika takdir telar tergaris.
Mengarungi lautan lepas menuju Okushiri Island, Hokkaido-Jepang, di ujung runcing deck sebuah kapal pesiar, berdiri dengan posisi menantang alam di gemuruhnya angin lautan, Austin memeluk mesra tubuh ramping istrinya dari belakang.
Walaupun tak sedramatis Jack dan Rose dalam film romansa miris Titanic, kedua sejoli ini nampak menonjol dengan segala kelebihan yang mereka tunjukkan pada dunia.
Senyuman tak henti tersungging di bibir masing-masing. Menikmati betapa indahnya waktu yang dianugerahkan Tuhan saat ini pada mereka.
"Apa kamu bahagia?" tanya Austin sekilas mengecup sisi kepala Cindy.
Cindy mendongak meraih pandang atas wajah pria yang kini resmi berstatus suaminya tersebut. "Sangat," katanya dengan senyuman termanis.
Austin melepas pelukannya, lalu membalik tubuh Cindy untuk ia hadapkan ke arahnya. Ditatapnya wajah cantik dengan garis wajah manis itu lalu membelai pipi halusnya penuh kelembutan. "Harus! .... Karena persembahan yang aku kasih buat kamu, udah yang paling total dan sempurna," katanya seolah memperingatkan.
__ADS_1
Walau pun terdengar receh, tapi Cindy begitu bahagia mendengarnya. Dinaikannya kedua lengan untuk kemudian mengalung di leher Austin. Dengan senyum manis memulas di bibir merah muda tanpa liptin itu, ia lantas bertanya, "Apa cinta kamu buat aku juga sesempurna persembahan yang tadi kamu bilang?!"
Rambut panjang yang terburai tak terikat nampak melecut-lecut sesekali menampar wajah Cindy, diselipkan Austin ke belakang telinga pemiliknya, walau pada akhirnya kembali teracak diterpa angin.
Austin menurunkan belainya ke bagian pinggang ramping Cindy yang terbalut cardigant rajut, untuk meraih posisi lebih intim dan nyaman tentunya. "Biarpun gak sesempurna cintanya Romeo, aku bakal usaha sampe cinta itu terpatri kokoh tanpa cela."
Rona wajah Cindy memerah di antara haru. "Aku cinta kamu, Kak!"
Yang lalu disambut Austin dengan senyum serupa. "Aku juga cinta kamu ... Sayang!"
Di tengah debur ombak yang membuih, dibelai angin yang berderu mengelilingi, di dalam ruang cinta sehangat balutan sutra, bibir mereka saling beradu, saling merengkuh, juga saling menikmati.
Membuat iri seluruh penghuni alam semesta.
...T H E E N D...
...🤎🤎🤎🤎🤎🤎...
Salam hangat untuk kalian semua yang sudah dengan setia membaca karya Author sampai bab ini. Terima kasih sebesar-besarnya.
Mohon maaf atas segala kekurangan dalam penulisan, ide cerita dll. Author masih terus belajar untuk itu.
Jangan Unfavo dulu ya. Agar kalian dapat notif kalo suatu saat Author rilis karya baru, akan Author infokan di novel ini.
^^^TRIMS💕^^^
^^^💫BINTANG PERAK💫^^^
__ADS_1