
"Mungkin karena warna rambut aku yang berubah, jadi dikira Ncing aku bule," kelakar Austin menanggapi pertanyaan heran Jasmine. "Aku bosen sama warna pirang. Ini aja aku baru itemin tadi pagi," sambungnya terkekeh seolah geli.
Jasmine tercenung. Anugerah wajah manisnya menampilkan ekspresi belum menerima.
Tapi jika benar begitu alasannya ... masuk akal juga! Ia manggut-manggut. "Tapi ...."
Austin menegakkan tubuhnya mengantisipasi. Bertingkah layaknya seorang Torero yang siap menghadapi banteng yang mengamuk di hadapannya. Kegamangan yang terlukis di wajah Jasmine, cukup menggambarkan bahwa isi kepala gadis itu belum sepenuhnya menerima alasan receh yang dilontarkannya. "Tapi apa?"
"Kenapa kamu mau repot-repot ngelakuin banyak hal buat aku, sepuluh hari belakangan ini? Padahal kerugian aku 'kan cuma rasa kaget juga sebungkus nasi?"
Bantengnya panjang banget! decit hati Austin konyol.
Musti gua jawab apa, nih? Sekarang ia meniru gaya simpanse--garuk-garuk kepala--bingung.
"Kalo aku bilang ... karena aku suka kamu, gimana?"
...*****...
Waktu menyeret mereka pada kedekatan yang semakin intim. Tiga belas hari berlalu.
Setelah lelah dengan kesibukan pekerjaannya di bengkel, Austin selalu menggerakkan kaki dan tubuhnya memacu motor gede miliknya pergi ke kediaman Jasmine.
Tara semakin geleng-geleng menyikapi keanehan sahabatnya itu. Ini kali pertama dalam hidupnya sepanjang ia mengenal Austin, pria itu bisa betah pada satu wanita.
Dan gilanya, yang bikin si bule itu makin gila, yang dipepetnya itu ... cewek bunting, Gengksss! Curhatan Tara di daun pisang.
Sporadis emang si bule!
Namun pria manis berambut gondrong itu tentu tak ingin pusing menanggapi kekonyolan bos sekaligus sahabatnya itu. Biarkan saja dia berjalan di zona-nya. Yang gila dia-dia sendiri ini. Asal jan seret-seret gua!
---
Saat ini hujan deras mencabar alam. Mega dibuat hitam dalam beberapa menit saja.
Kali ini Austin tak memakai intuisinya. Ia pergi serampangan tanpa persiapan mengenai hujan. Sesaat lalu matahari masih menebar kehangatan di seantero Jakarta. Lalu kenapa langit bisa tiba-tiba berkamuflase hingga membuat pria bule itu merasa tertipu?
Kini ia dalam keadaan kuyup. Terlambat mencari tempat untuk menepi, ketika bahkan motornya terjebak di tengah ramainya kemacetan.
Tidak ada pilihan lain--selain meneruskan. Jarak kawasan rumah Jasmine kurang lebih hanya tinggal dua kilo saja. Nantilah ia akan meminjam baju pada Jasmine sebagai gantinya, batin Austin asal saja, tanpa berpikir jika yang dimiliki Jasmin saat ini hanyalah daster-daster longgar ala-ala ibu hamil.
Tak sampai tiga puluh menit, Austin sudah memarkirkan motornya di tempat yang kini menjadi langganannya acapkali menyambangi kediaman Jasmine. Karena jalanan menukik menuju rumah wanita itu tak menyediakan rute untuk kendaraan sama sekali. Tidak motor, tidak sepeda, apalagi kereta api. Austin jalan kaki saja menuruni tembok berundak untuk sampai di tempat pujaan hatinya itu.
__ADS_1
Terhitung tinggal beberapa langkah saja menuju rumah tujuannya, sepasang kaki Austin tiba-tiba terhenti, matanya terbelalak lebar. Sungai deras di dekat kediaman Jasmine membludak hingga nyaris menyentuh pondasi yang membentengi tepiannya.
Jantung Austin berderu kencang. Rasa cemas menamparnya kuat.
Ia harus membawa Jasmine pindah dari tempat ini sesegera mungkin, tekad Austin. Sebelum air bah benar-benar menyapu habis rumah seng itu. Karena saat ini hujan mungkin akan rutin turun setiap harinya, sebab telah memasuki masanya di tahun ini.
Pintu mulai diketuknya--cukup keras.
Matanya sesekali mendongak ke atas langit di mana petir berkilat-kilat redup terang lalu menggelegar.
Sialnya, tak ada sahutan sama sekali dari dalam rumah, apalagi pintu terbuka. "Jasmine!" Austin mulai berteriak. "Jas!" Ketukan pintunya mulai berganti menjadi gedoran keras.
Hari sudah gelap dari sejam yang lalu. Saat ini mungkin angka perputaran jam menunjukkan angka tujuh. Dan kecemasan Austin semakin menanjak. Hujan semakin mengolok dirinya dengan milyaran liter air yang diturunkan langit semakin deras dan tak terkendali.
"Benn!!"
Austin membalik sontak tubuhnya, lalu mendongak. "Jasmin!" Laju dengan cepat ia berlari menanjak tangga di mana Jasmine berada. Meraih gegas telapak tangan wanita itu untuk membantunya turun. "Pelan, jalannya licin!" Kini dirangkulnya pundak Jasmine yang telah kuyup itu dengan langkah berhati-hati.
"Kamu ngapain di sini?" Jasmine bertanya setelah pasang kakinya dan pria itu tepat berada di depan pintu.
"Kamu dari mana? Kenapa ujan-ujanan malem-malem gini?!" Bukan menjawab, Austin balik bertanya. Wajah tampannya masih kacau disiksa kecemasan luar biasa.
"Aku abis dari bidan, periksa kandungan. Tapi pas pulang, keduluan ujan," jawab Jasmine. Pintu telah dibukanya lebar-lebar setelah membuka gembok kecilnya.
Austin masih berdiri di ambang pintu. Sementara Jasmine sudah masuk ke dalam rumahnya.
"Mana aku tau, kamu mau ke sini." Jasmine membeliak. Sehelai handuk diberikannya pada Austin. "Aku mau ganti baju. Pintu aku tutup, ya. Kamu tunggu di luar dulu bentar."
Austin hanya mengangguk. Jaket kulit juga kaos oblong putih yang dikenakannya ia lucuti satu persatu, kemudian dikaitkannya pada tali jemuran Jasmine di halaman--ia hujankan. Lalu mulai mengasak rambut hitamnya dengan handuk milik Jasmine.
Lima menit kemudian, pintu telah terbuka. Jasmine menyembul dengan longdress selutut berlengan pendek. Kepalanya ia balut dengan handuk yang digulungnya rapat, untuk menyerap air di rambutnya yang kuyup.
Mulanya ia biasa saja.
Sampai.
"Aarrggh!" teriakan Jasmine mendengking setelah Austin berbalik tubuh bertelanjang dada--menghadapnya. Hanya bagian punggungnya yang ditutupi Austin dengan handuk. Sementara tubuh depannya terekspos tanpa sensor. Beruntung, deru hujan masih keras terdengar. Jika tidak, teriakan Jasmine mungkin akan membuat Austin digebuki orang sekampung.
"Kamu kenapa?!"" tanya cemas Austin tak paham. Ia mendekat, namun Jasmine justru mundur menjauhinya. Cukup bingung kenapa wanita itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Kamu kenapa gak pake baju?!"
__ADS_1
Ha?
Sesaat Austin mulai sadar. Ia lantas tersenyum ringan. Merasa lucu, ternyata wanita itu terkejut hanya karena melihat bentuk tubuh seksinya. "Baju aku 'kan basah semua," ujarnya enteng.
Tanpa menunggu balasan Jasmine, Austin nyelonong saja masuk ke dalam rumah melewati tubuh pemiliknya yang masih asik menutup wajah.
"Aku pinjem sarung, atau apa kek! Celanaku basah."
....
....
....
Jasmine duduk tak nyaman bersender bantal di hulu kasur mininya. Sementara Austin memeluk dingin tubuhnya dibaluti selimut milik Jasmine, di bagian hilir dekat kaki wanita itu.
Hanya diterangi bolham berdaya sepuluh watt dengan pendar cahaya kekuningan, ruangan itu nampak terasa remang. Deru hujan deras dipadu debur air sungai yang meluap, masih terdengar menguasai suasana.
Tidak ada makanan, tidak juga teh hangat, tak ada apa pun untuk setidaknya menemani rasa dingin yang menyengat di ruangan beratap rendah itu.
"Jas ...." Suara Austin berkesiur, memecah kebisuan.
"Ya." Hanya melalui gerak matanya, Jasmine menanggapi panggilan pelan pria itu.
"Boleh aku nanya sesuatu?"
"Nanya apa?"
"Janji gakan marah?"
"Tergantung."
Terlihat Austin menarik napasnya, seraya membenarkan sedikit posisinya. "Umm ...."
....
"Mau nanya apa?" tanya Jasmine setelah melihat pria itu malah terpaku hanya diam saja memandanginya, seolah ragu untuk melontarkan pertanyaan. "Tanya aja," lanjut Jasmine tiba-tiba penasaran. "Kalo aku bisa jawab, pasti aku jawab. Kalo nggak, ya aku diem, atau keluarin jawaban penolakan."
Sesuatu yang ingin Austin ketahui, yang sekian waktu ditahannya, karena ragu juga cemas Jasmine akan tersinggung atau bahkan bersedih jika ia pertanyakan. Hal itu yang menyiksa rasa penasarannya sejak pertama ia mengenal wanita di hadapannya itu.
Mungkin ini saatnya, tekad Austin.
__ADS_1
"Kamu itu janda atau bukan? Trus, bapaknya anak yang kamu kandung ... ada di mana?"