
Jam 19.00.
Kacang dan kulit-kulitnya menyatu berantakan terserak-serak.
Tortila kemasan jumbo yang telah terkupas serampangan, juga beberapa camilan lainnya, ramai terhambur di hampir seluruh bagian permadani seluas 2x2 meter di sebuah ruangan.
Diwarnai kaleng-kaleng minuman bersoda yang turut menyemarakkan.
Lampu ruangan dibiarkan mati begitu saja. Cahaya yang berpendar memperjelas jarak pandang, hanya dihasilkan dari layar televisi yang nampak menyala berkedip-kedip berganti suasana.
Sebuah film kartun produksi Malaysia--Les' Copaque, bertajuk 'Pada Jaman Dahulu', tengah mereka tonton dengan sejuta karisma--karisma anak TK.
Austin dan juga Tara.
"Lagi elu punya komuk ngapa kek Petter Parker, sih?!" komentar Tara menambah panjang tema yang tengah mereka bahas saat ini. Tengah dikupasnya sebutir kacang berundak tiga, yang lalu dilemparkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya santai saja. Ia bersilah ria dengan punggung tersandar bagian bawah sofa, yang atasnya direbahi Austin.
"Trus gua kudu robah muka gua jadi Optimus gitu?" Austin menghardik. Tubuhnya telentang lurus memenuhi kapasitas sofa, namun tangan dan mulutnya tetap sibuk mengoyak kacang yang bungkus jumbonya ia taruh di atas perut. "Udah ah, Tar. Males gua bahas Gaury!" potong pria itu seraya mengangkat tubuhnya, bangkit terduduk.
"Dih, lama-lama lu garap juga!"
"Kalo dia udah te-lanjang menggelinjang, gua siap-siap aja." Satu kaleng soda ditenggak Austin, hingga jakun di lehernya nampak naik turun seiring cairan yang mengaliri kerongkongannya.
"Keparat tetep aja keparat! Gosah segala alesan tu cewek agresif lah, keliwat gatel lah. Gak pantes lu jadi orang muna!" Tara mencibir sebal.
"Serah lu dah, Tar! Gua mo cabut!"
"Eh, mo kemana lu, Le?!" seru Tara menatap punggung Austin yang melangkah menuju kamar pribadinya.
"Bobo!"
"Masih jam tujuh, Kampred!!'
"Sengaja! Besok gua mo nemuin Jasmine!"
Suara itu didengar Tara, samar. Austin telah menghilang di balik pintu berwarna biru dengan poster bergambar soft gun tepat di bagian tengahnya. "Jasmine dia kata? Sapa pula itu?!" Tara menggedik bahu dengan bibir maju mundur mengerucut.
Esok harinya, pukul 10.00 pagi.
Setelah membersihkan diri akibat coreng-moreng oli di bengkelnya, Austin mulai memasangkan helm ke kepalanya tepat di hadapan motor gede kesayangannya.
Tara menghampiri dengan sebuah kunci inggris di tangannya. "Jadi cabut lu?!"
__ADS_1
"Iya." Sesingkat angin Austin menyahut. Tubuhnya mulai menyeret motornya dari parkiran, merayap menuju jalanan.
"Jasmine siapa sih, Le?" tanya kepo Tara.
"Bekas bini orang!"
Tara terperanjat mendengar cetusan Austin. Wajah terpelongonya setara segelas susu. "Bekasan bini orang?"
"Yo'i!"
"Yang bener aja lu, Le--"
Belum selesai mulut Tara berdecit, Austin sudah berpacu menunggangi motornya lebih dulu dan menjauh meninggalkannya dalam rasa penasaran yang mengental.
Beberapa waktu saja, Austin sudah tiba di tempat kemarin ia hampir menabrak Jasmine. Di atas motornya ia duduk seraya menghisap sebatang rokok di tepi jalan di dekat sebuah pohon ketapang. Helm-nya ia sampirkan pada kaca spion. Kini polos wajah tampannya tereskpos jelas tanpa sensor.
Ia akan mendatangi kediaman Jasmine setelah habis batang rokoknya. Karena merokok di dekat wanita hamil bukanlah hal yang bijak tentu saja, pikir Austin cukup memahami.
Perihal tujuannya, Austin sendiri tak mengerti, kenapa nalurinya terus menuntun lebih dekat dengan wanita hamil itu, di saat begitu banyak wanita cantik dengan tampilan tubuh menggoda, mengejarnya silih berganti tanpa henti. Termasuk beberapa pria gemoy, anggota Geng BLD alias Banci Level Darurat, yang sengaja nongkrong di kafe miliknya setiap sore.
Jijay, Chyiiinnn!! Austin bergidik seraya pontang-panting melarikan diri sebelum makhluk-makhluk ngondek itu membuat tubuhnya habis terkoyak, diraba-raba--acapkali terpaksa bertemu.
Sosok dengan rambut cepol, daster selutut, juga karung dan besi pengais rongsoknya, tanpa diduga tertangkap pandangan Austin. Pria itu tersenyum mendapati yang dicarinya muncul tanpa harus ia datangi kediamannya di tepi sungai, dengan sampah-sampah yang membuatnya tak cukup nyaman sebenarnya.
Dengan mata berbinar, dan langkah semangat, Austin bergerak mendekati Jasmine yang baru saja keluar dari gang kecil arah rumahnya.
"Hay, Jasmine," sapa Austin setelah berada tepat di depan Jasmine. Senyuman maksimal yang selalu ia sembunyikan dari khalayak luar, termasuk Tara, kini ditunjukannya penuh keikhlasan.
Jasmine yang tengah sibuk memasukkan beberapa buah botol plastik yang baru saja ditemukannya ke dalam karung, sontak mengangkat wajahnya yang semula tertunduk, memandang pemilik suara sapaan yang cukup asing didengarnya.
Tatapan mereka berbentur melahirkan ekspresi berbeda.
Austin masih senyum-senyum saja. Telapak tangannya terlihat berdadah-dadah kecil di depan wajah, riang sekali.
Sampai sepersekian detik kemudian, pria itu mendapati hal tak wajar di wajah manis Jasmine. Rautnya berganti kernyitan heran. Wanita hamil itu nampak mundur gemetar dengan ekspresi ketakutan luar biasa, setelah menatap dan mengabsen mata dan wajah milik Austin cukup lekat, seolah menggali dimensi lain dari sudut pikirnya.
Mata coklat terang keemasan ... rambut pirang ... rahang tegasnya ... wajah itu ....
"Ja-jangan! Jangan!" racau Jasmine terbata-bata. Keringat dingin mulai berjatuhan di sekitar pelipisnya akibat serangan rasa takut yang luar biasa.
Sosok Austin seperti pemburu dengan badik tajam yang siap menghujam jantungnya tanpa perasaan, Jasmine menggambarkan kengeriannya atas diri pria itu.
__ADS_1
"Jasmine." Austin tentu merasa aneh dengan apa yang ditangkapnya dari diri wanita itu. Kenapa dengannya? Setidaknya seperti itu kata hatinya.
Semakin Austin berusaha mendekat, Jasmine justru semakin menghindar.
"Aku mohon, jangan deketin aku! Tolong pergi!"
"Jasmine! Ada apa?!" Austin masih berusaha mendekatinya--menuntut jawaban dari ekspresi ketar-ketir Jasmine terhadapnya.
"PERGIIIIIII!!"
Sampai teriakan itu membuat Austin terpaksa berhenti. Ia mematung terdiam di tempatnya tak meneruskan. Pandangannya semakin tersirat ketidakpahaman yang menghitam.
Beruntung tak ada siapa pun orang di sekitar tempat itu, yang mungkin akan memperkeruh suasana tak jelas yang sama sekali tak dimengerti Austin.
Akhirnya ia membiarkan Jasmine berlari meninggalkannya dengan air mata memburai penuh ketakutan.
"Ada apa sama tu cewek?" Austin bergumam seraya menatap jalanan kosong di hadapannya. "Kenapa dia ampe ketakutan liat muka gua?" lanjutnya menggaruk kepalanya yang tak gatal seulas pun. "Gua ganteng gini, kok."
Sempat Austin bercermin di kaca spion motornya untuk memastikan bahwa tak ada yang salah dengan wajahnya.
"Muka gua gada penyok. Cakepnya masih sekelas Brad Pitt," celoteh konyolnya seraya menegakkan tubuh menatap kembali gang kecil di kiri jalan di mana Jasmine tinggal di dalamnya.
Bayangan ketakutan wanita itu kini memenuhi pikirnya dengan vivid. "Gua harus cari tahu penyebabnya."
Memacu gontai motornya, Austin benar-benar merasa ada yang tak beres dengan Jasmine. Isi kepalanya kini hanya dipenuhi tentang wanita itu.
Seperti sebuah trauma mendalam yang dengan konyol mengkambinghitamkan dirinya sebagai pelaku, pikir Austin menerka asal saja.
Atau jangan-jangan ....
Amnesia yang berbulan lalu dideritanya, masih menyisakan kepingan hal yang tak bisa diingatnya--tentang siapa Jasmine di masa lalunya?
Tapi ....
Bukankah dokter menyatakan ia telah sembuh total empat bulan lalu. Itu hanya amnesia sementara.
Lalu Jasmine?
Siapa dia sebenarnya?
Apa hubungannya dengan ketakutan wanita itu?
__ADS_1