
Batita gembul berusia enam bulan itu nampak tenang terlelap di atas ranjang berpagar miliknya. Kelambu biru terbentang menutupi bagian atasnya--menghalau nyamuk-nyamuk menyentuh kulit lembut gadis kecil itu. Di bawahnya, di atas sehelai kasur berbulu, sang pengasuh--Nimas, juga nampak rekat terpejam, cukup kelelahan sepertinya wanita 27 tahunan itu.
Austin masuk mengendap ke dalam kamar bernuansa girly dengan ragam boneka dan pernak-pernik lucu di setiap sudutnya itu. Cahaya yang berpendar hanya berasal dari sebuah lampu tidur tipe berdiri di pojok ruangan. Dalam keremangan, Austin menyibak pelan kelambu halus ranjang putrinya. Ditatapnya lekat wajah mungil yang menyamping itu penuh cinta.
"Kamu cuma milik Daddy, Sayang. Daddy gak akan biarin siapa pun rebut kamu dari Daddy. Termasuk Mommy-mu sendiri!" Suara Austin terdengar parau, membentuk seperti rintih, namun cukup tegas dan menekan.
Tubuhnya ia bungkukan, beberapa jenak mengecup pipi gembul yang menyamping itu dalam dan penuh perasaan. Aroma khas minyak telon menyeruak masuk ke dalam penciumannya. Aroma yang selalu membuatnya tak sabar untuk segera merangkul dan menciuminya acapkali usai bekerja di bengkelnya--atau setelah apa pun.
"Have a nice dream, Sweety!"
Lalu kembali dengan perlahan, Austin meninggalkan kamar itu dengan perasaan yang entahlah, ia pun terasa bingung menyikapinya.
Pertemuan tak diduganya dengan Jasmine sore tadi, membuat setengah dari dirinya terasa aneh. Antara rindu, rasa ingin memeluk, marah, dan juga benci!
Selain permintaan paksa Jasmine atas putrinya, kehadiran Dayhan ... juga menjadi pemicu kegamangan dalam diri seorang Austin, hingga berakhir membentuk emosi yang tertahan.
Pintu kamarnya baru saja Austin dorong untuk tertutup setelah puas menemui Lily. Mengambil keintiman seorang diri dengan segala rasa yang dikaisnya secara mendadak.
Langit-langit putih yang dibentuk sedikit cekung di bagian tengah dengan sebuah lampu LED di titik pusatnya, menjadi buangan tatap Austin saat ini. Kedua lengan ia lipat untuk menyangga kepala dengan tubuh telah merebah di ranjang rendah miliknya.
Beberapa saat saja.
"Aarrggh! Apaan sih, gua!" Ia menghardik perasaannya sendiri, seraya dengan cepat mengangkat baringnya jadi terduduk. "Ngapa gua menye gini?" keluhnya pada diri sendiri, atau mungkin pada cicak yang berbaris di dinding, menatapnya penuh curiga. "Pan gua sendiri yang bilang, gua mau move on, kalo uda ngeliat Jasmine bahagia!" Ia menyadari. "Dan sekarang uda jelas! Jasmine uda bahagia sama tu laki! Ngapain gua lelepin dia di otak gua ampe sinting model begini? Gak guna!"
Austin geleng-geleng--mencoba menepis perasaannya mengikuti kehendak. Diusapnya kasar wajah kusamnya, laju memaut rambut gondrongnya ke belakang, hingga tak ada anak-anak rambut yang semula menjuntai berantakan menutupi sebagian wajahnya.
Diliriknya arloji di pergelangan tangannya. "Masih jam sebelas. Mending gua nge-game!" Seolah mendapat dukungan alam, Austin sepertinya berhasil menggeser galaunya. Dengan gerak semangat, ia meninggalkan empuk kasurnya, lalu melangkah menuju meja rendah di sisi kanan ruangan, di mana laptopnya ia letakkan.
Cukup lama si bule itu bergelut dengan game yang entah apa jenisnya. Hingga akhirnya ia mengalah juga pada kebosanan satu jam setelahnya.
"Duh, ngapain lagi, ya?" gumam Austin setelah mematikan dan merapikan alat-alat mainnya ke tempatnya semula. "Tara nongkrong di Gradas. Lumayan jauh juga kalu gua kudu nyusul," lanjutnya mulai bingung, sementara matanya masih nampak terang bercahaya, seolah menolak sapaan sang Peri Kantuk. "Ah, turun aja, dah!"
Tak lama ....
__ADS_1
Dengan sebuah gitar bolong di tangannya, Austin menuruni tangga bangunan rumahnya yang memang sengaja ia desain di luar bengkel dan juga kafe. Untuk memudahkan akses keluar masuknya ketika kedua cabang usahanya telah dalam keadaan tutup seperti saat ini.
Ranumnya dedaunan pohon mangga yang terletak di bawahnya sebuah kursi taman, dipilih Austin untuk ia duduk di sana--di depan halaman kafe miliknya.
Dengan punggung tersandar juga kaki yang ia naikan bersila, petikan demi petikan gitar mulai ia mainkan. Cangkir kopi panas yang dibawanya, diletakkan di sampingnya beserta ponsel yang juga turut diajaknya.
Suasana yang cukup damai dirasakan Austin malam ini.
Untuk hati yang sulit didebat, mengalah saja.
Aku bahkan sudah melangkah jauh di depanmu.
Untuk hati yang keras mempertahankan, pecah saja. Aku bahkan jauh lebih keras dari tekadmu.
Untuk hati yang setia merenung dalam kelam, mundur saja. Aku bahkan telah menemukan sinarku sendiri.
Untuk hati yang tengah menunggu di ujung senja, pulang saja. Aku bahkan telah memeluk malam tanpa kau sadari.
"Siapa sih, iseng banget?" umpat pria itu. Gitarnya ia sandarkan di atas kursi, meraih ponselnya, lalu berjalan menapaki sekitar--tentu saja mencari sumbernya.
Sampai langkahnya terhenti di halaman ruko yang terletak di sebelah bangunan miliknya.
Terhalang pohon karet, seorang gadis berambut bondol, nampak asik bermain dengan lembaran buku juga pulpennya--di atas kap mobil berwarna merah yang terparkir serampangan.
"Tu cewek ngapain tengah malem di sini?" gumam Austin bertanya-tanya. Dihampirinya gadis itu lebih dekat. "Elu yang punya tulisan ini?!" tanyanya dengan kepala menengadah ke arah gadis itu. Dilihat dari raut imutnya, mungkin usianya setara tujuh atau delapan belas tahun, juga dari kostum yang dikenakannya.
Gadis itu menoleh sontak. "Tulisan apa?"
Austin membeliak, membuang wajah. Dengan sedikit dengusan, ia kemudian membentang kertas di tangannya kembali, lalu dibacanya keras-keras bait demi bait.
"Hehe ...." Dengan polosnya gadis itu merenyih. "Iya. Itu punya gue."
"Kena pala gua!" sembur Austin. "Ngapain di sini lu malem-malem? Uda sepi juga." Wajah Austin nampak redup terang tertimpa cahaya bulan yang terhalang dedaunan di atasnya. "Turun lu! Gua panggilin serikiti, nih!"
__ADS_1
"Security, Kak." Gadis itu merevisi.
"Serah gua! Mulut, mulut gua!"
Baru saja satu kaki gadis itu menjuntai, suara dering ponselnya nampak nyaring terdengar.
Wajah kesal ia pasang untuk meraih benda itu dari dalam saku seragam SMA yang dikenakannya. "Nelpon mulu!"
"Pasti mak lu. Angkat aja. Jan jadi anak duraka lu!" Austin menakuti.
"Bukan! Bukan mama. Ini tu abang gue, Kak!"
"Ya udah, angkat! Atau lu mau gua yang angkatin!" seru Austin dengan gestur hendak merebut ponsel yang digenggam gadis itu.
"Nggak! Gak boleh." Dengan sigap ponsel itu dijauhkannya. "Nanti gue tambah dimarahinlah!" akunya ngegas. "Gue takut pulang, Kak."
Austin bersidekap tangan menatap wajah yang tertunduk itu. "Emang lu ngapain pake dimarahin?"
Pertanyaan Austin membuat gadis itu tercenung sesaat, lalu .... "Noh lu liat!"
Austin mengikuti kemana telunjuk gadis itu mengarah, lalu tersentak setelahnya. "Ebuseeehhh! Lu apain ni mobil ampe lecet-lecet?!"
"Hehe ...." Dengan cengiran polosnya, gadis itu mendongak, lalu menjawab, "Gue pake balapan, Kak."
"Bener-bener lu!" Goresan-goresan di body mobil itu lalu diusap Austin dengan tubuh membungkuk. "Pantesan lu klojotan kagak mo balik."
"Iya. Gue takut sama abang gue, Kak!" ungkap gadis itu dengan wajah frustasi. "Gua telat dateng ke sini. Bengkel itu udah tutup aja," katanya seraya menunjuk bengkel Austin yang telah rapi tertutup.
"Ngadi-ngadi lu ke bengkel tengah malem buta!" Austin menghardik. "Ya udah, mobil taro sini aja! Tar gua lelepin bengkel. Sekarang lu gua anter pulang pake motor gua!"
"Tapi, Kak ...."
"Abang lu biar gua yang urus!"
__ADS_1