Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 60


__ADS_3

BRAAKK


"Drew!"


Kasar pintu itu terbuka. Membuat pelukan Jasmine dan Kandyla terlerai seketika lalu menoleh ke arah yang sama--ambang pintu.


"Austin!" Bersamaan dua wanita itu menyebutkan nama orang yang kini sudah melesat di depan mereka--menghadap Andrew yang masih tergolek di atas ranjang.


"Gimana dia? Kagak metong, 'kan?" tanya pria itu ngegas dan tentu saja ... Beggeh!


"Peak! Pertanyaan lu ngajak gelud ya!" hardik Kandyla sengit. Otak lu ketinggalan di ******?!"


Austin tak mengindahkan dengan kata. Hanya sekilas lirikan tajam ditusukannya pada gadis itu. Kini ia berpindah tempat ke samping kembarannya dengan wajah cemas luar biasa. "Drew ... ngapa bisa kek gini, sih? Lu ngapa jadi menye, tibang ketiban lemari doang? Biasanya ultramen aja kalah sama lu.” Ekspresinya memang sedih. Austin sama sekali tak sedang bercanda. Bahkan sepasang mata hazel-nya pun nampak sedikit berkaca-kaca. Tapi kalimat-kalimat yang terlontar dari mulutnya, benar-benar membuat kedua wanita itu--terlebih Kandyla, geleng-geleng kepala.


Dengan tanggapan tak habis pikir, wanita yang akrab disapa Didy itu, berkomentar, "Sakit rohani tu anak!"

__ADS_1


Jasmine masih diam. Ia nampak tak peduli dengan kalimat konyol apa pun yang terlontar dari mulut Austin mau pun Kandyla. Fokusnya telak menyembah satu titik--Andrew Blue Bennedict.


"Maaf, Tuan dan Nona, ruang operasi sudah siap." Seorang perawat tiba-tiba muncul dari belakang Jasmine. Decit kehadirannya tak terdengar karena pintu memang tak tertutup lagi sejak kedatangan Austin ke ruangan itu.


Semua perhatian sontak berpusat ke arahnya.


"Operasi?" Austin memasang ekspresi terkejut. Wajahnya kini menghadap Kandyla dan Jasmine, menuntut jawaban sejelas-jelasnya.


Dan ia akhirnya paham, setelah kedua wanita itu dibantu seorang dokter yang baru saja tiba, menjelaskan keadaan Andrew secara rinci. Walaupun tetap tak bisa menepis, betapa kecemasan semakin kuat mencekiknya saat ini.


"Tapi dia bakal baik-baik aja, 'kan, Dok?"


***


Memakan waktu setidaknya enam jam, proses operasi Andrew dijalankan. Tiga jam pasca tindakan itu, ia belum juga sadarkan diri, meskipun kini telah dipindahkan ke ruang perawatan.

__ADS_1


Jasmine nampak masih setia menunggui di sana. Riasan tipis make up sisa pertunjukkan tadi siang, sudah mulai luntur tersapu keringat dan telapak tangan yang sesekali mengusap kasar dalam gusar.


“Jas, makan dulu, ya. Perut lu belom keisi apa-apaan dari tadi siang. Dan sekarang uda lewat tengah malem." Kandyla datang dengan sekantong makanan di tangannya.


"Aku gak lap--"


"Makan, Jas!" Austin tiba-tiba menyergah. "Seenggaknya lu punya tenaga buat nyambut dia sadar nanti."


Kepala Jasmine berotasi mengarahkan wajahnya pada pria mantan kekasihnya itu. Tak ada cakap. Hanya tatapan sedih dimandikan sesal yang menjadikan wajah cantiknya nampak kusut tak bercahaya.


"Iya, Jas. Tar lu sakit. Gua juga yang repot." Kandyla menambahkan. Kantong berisi bakmie itu mulai dibongkarnya di atas meja di samping sahabatnya. "Lu juga makan, Ben. Biar ada tenaga buat merangin abang lu kalo sadar nanti."


Menanggapi itu, Austin mendesah seraya membuang wajah. Ponsel di tangannya ia lempar ke sudut sofa. "Lu aja makan. Batre gua masih full."


"Dih. Lagak lu! Pingsan nyaho rasa!" dengus Kandyla.

__ADS_1


Belum perdebatan perihal makanan itu mereka usaikan, kesiur suara Andrew tiba-tiba terdengar, parau dan lemah.


"Jasmine ...."


__ADS_2