
Berpuluh pasang wajah membentuk ekspresi cengang. Termasuk di antaranya ... Bastian Sigi. Pria itu terpaku di tempatnya tanpa suara. Selain tangkapan telinga yang kemudian secara perlahan meresap mengaliri hatinya. Ia terpana.
Lantunan merdu suara dua wanita itu benar-benar menjadi harmoni yang menenangkan. Tak ada suara yang menentang, tak ada komentar yang menggunjing. Semua seolah terbius oleh lembutnya suara Jasmine, dan serak tingginya suara Kandyla.
Lagu diakhiri dengan petikan lembut dari gitar yang dimainkan Kandyla. Setelahnya, ia dan Jasmine beradu pandang saling melempar senyum.
"Kita lanjutin ngamen," kata Kandyla.
Jasmine mengangguk seraya bangkit dari kursi piano yang didudukinya.
Gitar butut yang tersandar dinding di belakangnya, kembali diselempangkan Kandyla ke balik punggungnya.
Sebelum berlalu, sejenak ia dan Jasmine mengucapkan terimaksih pada Bastian Sigi, walaupun dengan lontaran kalimat bernada sarkas dan cukup sinis. Juga pada sekalian penonton yang menyaksikan pertunjukkan dadakan mereka.
"Kami permisi!" kata Jasmine. Lalu melenggang pergi meninggalkan tempat itu, menggamit serta lengan Kandyla tentu saja.
Mereka tak lagi peduli dengan audisi yang semula diminati Kandyla penuh semangat.
Nyatanya, debu jalanan lebih indah dan merangkul, dibandingkan pentas mewah dengan segala aturan yang menjijikan, komentar hati Kandyla pada akhirnya. Sesaat ditatapnya pintu utama kembar milik gedung itu, lalu menoleh pada Jasmine dengan senyuman riang yang terkesan dipaksakan. "Kita cari bus yang penuh!"
Di dalam aula, Bastian Sigi masih terdiam dengan segala ketololannya. Pintu di sudut ruangan yang baru saja menelan tubuh dua wanita itu, ditatapnya dengan raut ... entahlah, mungkin sedikit sesal. Semua pandangan juga suara-suara ricuh yang bergumul memenuhi ruangan, tak terhirau sedikit pun di mata dan telinga Sigi.
Setelah cukup lama dalam modenya, akhirnya pria itu memutuskan ....
....
Suara hentak cepat sepasang kaki Sigi terdengar berdebam di halaman gedung. Ia berlari dengan niat menyusul dua wanita bersuara merdu yang sempat disepelekannya itu.
Seribu sayang, pandangannya menangkap sosok-sosok itu baru saja memasuki sebuah bus di depan gerbang. "Tungguuuu!!!" teriaknya sia-sia saja, karena bus telah melaju lebih cepat sebelum kakinya sampai di ujung gerbang. "Sial!" serunya kesal seraya memukul udara.
Sampai akhirnya, sekepal pilihan diambil Sigi tanpa pikir panjang ....
__ADS_1
BREEEEEETTTTT
Sebuah sepeda motor keluaran Yamaha milik seorang satpam, dipinjam dan dipacunya secepat kelereng menggelinding dari atas lahan menukik.
"Itu dia busnya."
Tanpa berniat menghentikan, Sigi terus mengikuti bus yang dinaiki Kandyla dan juga Jasmine tepat di belakangnya. "Sejauh mana pun mereka melaju, bakal gua ikutin," tekad pria itu.
Bukankah sangat tolol, meraup puluhan gram emas yang merepotkan, dengan melepas dua butir berlian bernilai triliunan yang ringan dan menjanjikan, pikir Sigi setelah menyadari kekonyolannya membiarkan dua wanita itu pergi, hingga kini ia harus bersusah payah melakukan pengejaran.
Namun cukup melegakannya, ketika tak lama, bus yang dikejarnya itu pun berhenti sebelum memasuki area tol.
Sigi turut menghentikan laju motornya, lalu turun dengan cepat dan menstandartnya di tepi jalan. Tanpa melepaskan helm di kepalanya, pria itu berjalan gegas mendekat ke arah bus, berniat memasukinya sebelum kendaraan jumbo itu kembali melaju.
Namun belum sempat kakinya mencapai pintu bus, dua sosok yang diincarnya terlihat bergerak keluar, mengikuti beberapa penumpang yang turun lebih dulu di depannya.
Sigi tersenyum. Ia menunggu dengan kedua tangan bersilang. Tawa-tawa renyah dari mulut dua wanita itu mulai jelas tertangkap pendengarannya.
Ia menyusun langkah lebih mendekat dengan gerak santai, seiring semakin jelas sosok-sosok itu menampakkan wujud mereka. Kedua tangan diselipkan Sigi di masing-masing kiri dan kanan saku celananya.
Tawa renyah Jasmine dan Kandyla sontak berubah hening. Dengan iras penuh tanya, keduanya lagi-lagi saling melempar pandang terheran. Sejenak diamati keduanya pemilik postur tinggi dan tegap itu dengan kening berkerut-kerut.
"Iya," Kandyla menyahut dengan nada ragu.
Jasmine jelas masih mengingat setelan pakaian yang membalut tubuh pria di depannya. Juga senyum yang tersungging dari balik helm yang kacanya tak tertutup itu. "Anda ... bukannya ...?"
Sigi mulai melepas helmnya perlahan. "Iya, kamu benar. Ini saya!" jawabnya lalu memeluk helm itu di depan perutnya.
"Buseh, kebentur matahari, tu muka malah makin glowing, yee?" Kandyla bergumam konyol seraya menatap lurus ke arah wajah tampan Sigi--sedikit mengagumi.
"Ngapain Anda di sini?" Lain dengan Jasmine yang bertanya dengan nada ketus. Tak nampak sedikit pun ketertarikannya pada Sigi, walau dilihat dari sisi mana pun, pria itu jelas dihujani karisma seorang bintang dengan segala bentuk kelebihan yang mumpuni.
Sigi memasang senyumannya. "Apa kalian lupa? Saya bahkan belum ngasih penilaian apa pun buat penampilan kalian tadi, kalian udah maen pergi-pergi aja!" kelakarnya.
__ADS_1
"Sayangnya kami gak butuh!" Jasmine menolak tanpa berpikir. "Yang tadi itu ... anggap aja kami cuma ngamen gratis. Bikin hiburan buat mereka yang deg-degan nunggu hasil keputusan Anda. Itu pun kalo mereka berkenan ... juga Anda, Tuan Yang Terhormat!"
"E-eh, Jas!" Langkah Kandyla terseok-seok, ketika Jasmine secara kasar dan cepat menarik lengannya untuk meninggalkan tempat itu sesegera mungkin.
Dan Sigi ... meskipun cukup terkejut dengan penuturan Jasmine, ia tetap memasang senyumannya. Bibir mungil dengan suara mendayu lengkap dengan wajah manisnya itu, cukup membuatnya tertarik. "Kamu, dan temanmu itu, gak akan bisa lepas dari aku!" gumamnya disertai seringai tipis yang cukup hidup.
Dengan langkah cepat, Sigi kembali mengejar dua wanita itu, tanpa peduli imej calm down yang biasa ia tunjukkan pada khalayak.
"Bisa dengarkan saya dulu?!" decit Sigi setelah berhasil menyalip langkah cepat Jasmine dan Kandyla. Ia berdiri melintang di depan kedua wanita itu. Satu telapak tangannya ia angkat dengan gestur menahan.
Dua pasang langkah kaki milik Jasmine juga Kandyla terhenti secara spontan.
"Anda mau apa lagi?!" tanya Jasmine diiringi ekspresi risih.
Kandyla hanya diam dengan tampang masam. Ia cukup berhasil menyingkirkan kekaguman yang sesaat lalu dilimpahkannya pada Sigi. Pikirannya mulai mencerna, membayangkan dengan perasaan, bagaimana sombongnya pria itu memperlakukannya dan juga Jasmine saat di gedung audisi itu beberapa waktu lalu.
"Saya suka suara kalian!"
Kandyla membeliak tak suka. "Trus kenapa lo tadi bikin kita kek gak ada moral di depan orang banyak?" Hilang sudah rasa segannya pada pria itu.
"Soal itu ... gua minta maaf!" Sigi tertular dengan kesongongan Kandyla. Bahasanya tak lagi ia susun secara formal. "Gua asli gak ada maksud buat permaluin kalian."
"Trus?" Jasmine menyergah.
"Ya ... cuma tes mental kalian aja."
"Buat?" Kandyla ingin tahu.
Bibir Sigi kembali tertarik ke samping. "Dunia hiburan itu keras, kalian tahu itu! Lebih-lebih kalo udah masuk ranah sebenarnya," katanya ringan saja. "Kalo kalian gak punya mental setangguh baja ... siap-siap terjungkal sebelum memulai. Makanya gua kasih kalian tes tambahan kayak tadi."
"Preeett!" Kandyla mengejek, matanya terlihat mendelik menanggapi.
Berbeda dengan Jasmine ...."Jadi maksud kamu?" ia menuntut serius.
__ADS_1
"Kalian akan langsung gua tarik ke dalam lebel, tanpa melalui tahap audisi."