Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 44


__ADS_3

Austin selalu bersembunyi di balik nanar perasaannya. Tak pernah ditemuinya wanita itu walau sekali pun, meski tak terhitung jumlahnya Jasmine memintanya untuk bertemu. Lebih tepatnya bertemu putrinya--Lily.


Hanya penampilan demi penampilan Jasmine yang merajalela di jagat internet, televisi juga majalah yang diintipnya sesekali, selebihnya tentang kenangan, biarkan menjadi lembar yang tak perlu diingatnya lagi.


Rasa takut akan kehilangan Lily membuat Austin tak bisa menahan untuk terus menghindari wanita yang mungkin ... masih sedikit dicintainya itu.


Kata-kata Jasmine yang berisi ancaman kecil akan mengambil hak asuh Lily beberapa waktu lalu, cukup mengganggu lekak-lekuk waktu yang dijalaninya.


Tapi jika hukum mengharuskan tarik menarik dalam tema memperebutkan ... maka mau tak mau, malas tak malas, Austin harus menerjuninya.


Sedangkan untuk kembali bersama, ia bahkan tak ingin mengharap lagi. Dunia Jasmine dengannya tak semanis ketika masih di rumah seng. Wanita itu kini dikelilingi pria-pria hebat dan keren yang sudah pasti bisa membahagiakan lebih daripadanya, termasuk Sigi.


Dua hari lalu, bersama Lily dan juga Tara, Austin baru kembali dari Amerika. Selain tujuan untuk melepas penat, berlibur, dan menghindari Jasmine tentu saja, ia juga berniat menyusul Andrew yang sejak saat ia melepasnya di bandara berbulan silam, kembarannya itu belum jua kembali ke Indonesia. Bahkan nomor ponsel yang digunakannya, tak lagi bisa ia hubungi.


Sial!


Kemana lagi perginya manusia laknat itu?


Merepotkan!


Mengalihkan pertanyaan juga segudang kekhawatirannya terhadap Andrew, Austin mencoba merangkap pikirnya dengan sugesti positif. Ia meyakinkan dirinya ... Andrew pasti akan baik-baik saja di luaran sana.


....


Sore ini, suasana cerah menguasai pelataran langit Jakarta di bagiannya. Austin baru saja membersihkan diri dari hitam, kotor, dan berminyaknya benda-benda di bengkelnya yang semakin ramai pengunjung setiap harinya. Bukan tak cukup tenaga pekerja di tempat usaha itu sebenarnya, Austin hanya senang melakukannya.


"Nim!" teriak Austin memanggil pengasuh Lily tepat ketika ia memasuki ruang pribadi si kecil yang dipenuhi mainan beserta rengrengannya.


"Iya, Boss Bule!" sahut Nimas dengan suara mendengung bergema. Sepertinya gadis itu tengah berada di dalam toilet, masih di bagian kamar Lily.


"Lily mana?!" tanya Austin dengan gerak mengedar--mencari.


"Tadi lagi maenin boneka di situ, Boss! Bentar, perut aku mules!"


"Kagak ada!"


"Masa, sih?! Tadi ada, kok. Baru aku mandiin!" Nimas masih menyahut dengan suara sama. "Coba cek di ruang bajunya!" saran Nimas.

__ADS_1


"Cepetan ngapa lu! Boker lama bener! Keluarin korsi ape keset, lu?!" ujar sengklek Austin dengan wajah kesal.


"Baru juga satu detik, Boss!"


"Ketek lu satu detik!" hardik pria itu lagi seraya melangkah mengikuti informasi Nimas.


Dan ....


"Ya, Tuhaaaaann. Hahahaha!" Austin tergelak keras, kala sepasang matanya mendapati sosok mungil nan gembul putrinya yang tengah sibuk mengacak-acak sesuatu.



Baru hanya diapers yang sempat dipasangkan Nimas pada tubuh telanjang Lily sebelum ia merasakan perutnya mulas, kemudian melanting sejenak untuk menunaikan hajatnya ke kamar mandi.


Nimas meninggalkan bocah itu bersama boneka-boneka yang mengilinginya di atas karpet berbulu di tengah kamarnya--sebelumnya.


Tak tahu apa yang kurang dari mainannya, bocah itu malah hengkang, dan berakhir memainkan popoknya hingga berserak ke sana kemari.


"Kamu ngapa niru kelakuan Om Tara, sih?!" Tubuh kenyal Lily telah direngkuh Austin ke dalam gendongan. Bocah itu nampak menggeliat-geliut saat ayahnya mencabut diapers di kepalanya. Sisa tawa Austin masih memulas kentara di wajah. Dengan peluk dan cium gemas, ia melangkah kembali ke kamar utama Lily.


Saat yang sama, Nimas baru saja keluar dari dalam kamar mandi. "Boss Bule ngetawain apa tadi?" tanyanya penasaran juga.


"Kapan Bang Tara jadi roh halus?" tanya konyol Nimas. Selama bekerja di sana, kelakuan sinting tuan-tuannya akhirnya juga tertular padanya.


"Jauh sebelum negara api menyerang!" jawab Austin sekenanya.


 Belum puas menyambangi putrinya, Austin sudah harus turun menyambut teriakan dari bagian bawah bangunan dengan wajah ditekuk, terpaksa. "Iya, bentar! Elah, rese amat tu cunguk!" umpatnya seraya berjalan menuruni tangga. Suara panggilan Tara mungkin bisa mengalahkan ledakan bom atom di Hiroshima.


Dan ....


"Ja-Jasmine!" gumamnya terperanjat. Langkahnya terhenti di sisa tiga anak tangga terakhir kala didapatinya sosok itu. Tanya hatinya, "Dari mana Jasmine tahu tempat ini?"


Dengan penampilan alakadar tanpa riasan make up dan sebagainya, sosok Jasmine telah berdiri di hadapannya. "Aku mau pergi ke London dalam waktu yang mungkin lama. Sekali ini aja, biarin aku ketemu Lily."


Austin termanggu. Egois, ia mengakui itu.


Tapi ....

__ADS_1


"Aku ibunya. Ibu yang lahirin dia! Tolong kasih aku kesempatan, Ben!" lanjut Jasmine dengan iras memohon bertitik air mata.


"Biarin dia kali ini, Le." Tara datang menyela. "Gua tau lu sayang Lily lebih dari diri lu sendiri. Tapi Jasmine juga punya hak atas anaknya."


Sekilas telapak tangan Jasmine menyeka basahan di pipinya. "Aku tahu aku bukan ibu yang baik. Aku tahu aku bodoh karena udah ninggalin dia. Tapi aku nyesel, Ben. Demi Tuhan aku nyesel. Tolong biarin aku temuin anakku."


Menghadapi perasaannya yang mulai kacau, Austin membuang wajahnya ke lain arah, sesaat saja, lalu kembali menatap Jasmine. "Sayangnya penyesalan kamu udah gak mempan buat aku," ujarnya menusuk. "Tiga jam! .... Cukup tiga jam, aku kasih kamu waktu hari ini sama Lily."


Austin benar-benar berhasil membalik keadaan. Dari awal yang dirinya berperan sebagai pelaku, kini berbalik Jasmine yang dibuatnya penuh kesalahan.


Jasmine menutup mulutnya tak percaya. Lantas dengan binar senangnya ia mengangguk-angguk penuh semangat. "Iya, Ben, iya. Gak papa. Aku mau!"


Menuruti ego, tiga jam bukanlah waktu yang lama. Bahkan hanya setara jentik jari dari jutaan waktu lainnya yang ia lewatkan tanpa Lily. Namun tak apa. Sesingkat ini cukup menjadi kesempatan yang mungkin tak akan didapatnya lagi esok hari, bahkan sampai kapan pun. Mungkin!


Tara menepuk sekilas pundak Austin dengan senyuman tipis. Lalu melenggang kembali pada kesibukannya di dalam bengkel, sesaat setelah Jasmine berlari menaiki tangga tanpa peduli apa pun lagi.


Desah kasar terhembus dari mulut Austin. Ditatapnya ujung tangga bagian atas yang baru saja dilewati Jasmine untuk memasuki bangunan rumahnya. Lalu dengan langkah tanpa tenaga, ia melangkah naik menyusul wanita itu menemui Lily.


---


Senyum lucu dari sepasang bibir mungil yang baru ditumbuhi beberapa gigi itu, terlihat menggemaskan. Lily tengah asyik bercanda dengan pengasuhnya.


Setelah menapak perlahan kakinya melewati pintu kamar yang menganga, Jasmine berdiri dengan senyuman haru ketika makhluk lucu itu sudah menguasai penglihatannya.


Seperti deras sungai ketika hujan menerjang, meluap-luap, hatinya merasakan ... betapa rindunya telah tak tertampung. Sudah sebesar itu. "Lily ... anakku ...."


Nimas yang tak menyadari kehadiran seseorang di belakangnya itu, sontak menoleh. Ia tercengang, mendapati sosok idola yang menempati urutan nomor satu dalam pembahasan sejagat bumi pertiwi saat ini, kini berada di dekatnya, tanpa tiket.


"Na-Nastya ... J-Jasmine!" ucapnya tergagap tak percaya. Apa yang dilakukan wanita terkenal itu di sini? Setidaknya begitu tanya hati Nimas di antara ketidaktahuannya.


Jasmine hanya tersenyum tipis sebagai bentuk sapanya pada Nimas. Ia mulai menurunkan tubuhnya untuk menyetarakan posisi dengan sang buah hati. "Sayang ...," ucapnya kembali dengan air mata memburai. Direngkuhnya tubuh mungil Lily, lalu menghujani buah hatinya dengan ciuman di seluruh bagian wajahnya. "Mama kangen Lily."


Dengan bingkai mata melebar, Nimas menatap tak percaya. Apa katanya? Mama?


Ja-jadi ... yang sering diobrolin Bang Tara sama Bang Boss itu ... beneran Jasmine yang ini?


Sampai tubuh Austin tegak berdiri di ambang pintu, mengalihkan perhatian Nimas.

__ADS_1


Gestur tangan Austin meminta pengasuh itu untuk keluar, membiarkan Lily merasakan moment singkat itu bersama ibunya.


__ADS_2