
Beruntung, dengan segala ketidaksiapannya, Andrew tak harus melontarkan penjelasan detail perihal keingintahuan Austin, karena ponsel adiknya tersebut lebih dulu berdering, memotong tema.
"Apa?!" teriakan Austin menggema di tengah sunyinya malam, sesaat setelah panggilan itu diangkatnya. "Lu kalo bacot yang bener?!" semburnya pada orang di seberang teleponnya. Pria itu lalu melangkah memasuki kamar dengan wajah kelam, sementara ponsel masih ia letakkan di telinga.
"...."
"Udah dua hari lu bilang? Trus kenapa baru ngasih tahu gua sekarang?!"
"...."
"Yodah, gua bakal cari penerbangan paling cepet ke sana!" Dan panggilan pun ditutup Austin sepihak. Wajah cemas kental memulas wajahnya saat ini.
"Ada apa, Aust?!" Andrew bertanya setelah cukup memerhatikan. Namun ia tahu, jelas ada yang tak beres atas adiknya. "Penerbangan kemana maksud kamu?!"
Austin memaut wajahnya gusar, sebelum kemudian mengalihkan pandangnya pada Andrew. "Gua mau terbang ke London. Jasmine masuk rumah sakit di sana!"
Untuk kesekian kalinya, jantung Andrew dibuat terpental. Jasmine .... "Ke-kenapa? Ada apa sama dia?!" tanyanya sedikit tergagap.
"Kandyla bilang, Jasmine nenggelemin diri di bathtub kamar mandi hotel. Dia mau coba bunuh diri. Gua gak tahulah aslinya. Yang jelas, gua harus ke sana secepatnya!" sahut panik Austin tanpa curiga dengan ekspresi kaku kembarannya. Telapak tangannya mulai sibuk memainkan ponsel--memesan tiket pesawat untuk penerbangan paling cepat, melalui seseorang yang dikenalnya, entah siapa.
Kiprahnya sebagai seorang pembalap cukup terkenal di negara ini. Jika hanya urusan tiket, bukan masalah besar baginya, tentu saja.
Seperti terinjak tepat di antara jantung dan paru-paru, Andrew merasakan sakit dan sesak dalam waktu bersamaan. Jasmine ... mencoba bunuh diri? Apa karena dirinya?
Setidaknya begitu racau hatinya, gelisah.
Beberapa waktu kemudian ....
"Gua cabut," kata Austin yang sudah siap dengan koper di tangannya, di halaman bengkel. "Kalian, gua titip Lily," sambungnya mengarah pada Nimas dan juga Andrew.
"Tenang aja, 'pan ada siluman ini," kata Tara yang terpaksa bangun karena kegaduhan suara Austin tadi. Telapak tangannya menunjuk Andrew yang berdiri di sampingnya dengan senyuman konyol. "Mirip sama lu! Lily gak bakal klojotan gak ada lu."
Andrew membalas dengan tepukan singkat di pundak Tara, sebelum akhirnya kembali menatap Austin. "Iya, Aust. Aku bakal gantiin kamu jagain Lily. Ati-ati di jalan."
"Hooh." Tara menimpal. "Ya udah ayo, Le! Keburu macet kalo siangan." Ia telah berdiri dengan kesiapan untuk mengantar sahabatnya menuju bandara, mulai dari penampilan, hingga kunci mobil yang digenggamnya.
Austin menghela napas kasar sesaat, lalu mengangguk. "Iya. Kalo gitu gua cabut, Drew. Tolong jagain Lily buat gua."
"Serahin semua sama aku." Andrew membalas mantap.
__ADS_1
Sekilas pemuda kembar itu saling menepuk punggung, berpelukan. Tara menatapnya dengan senyuman lucu.
Segitu mesranya ya hubungan anak kembar, komentar nyinyirnya dalam hati.
Dan ....
Mobil yang membawa Tara dan Austin sudah berbelok semakin jauh dari pandangan Andrew. Padahal hari masih cukup gelap saat ini.
Pria itu menatapnya dengan gumpalan perasaan yang ia pun nerasa sulit untuk meredamnya. Semenjak pertemuannya dengan Jasmine di hotel tempo hari, dunia seolah menjungkirbalikannya dalam ruang cukup memusingkan.
Dengan langkah gontai Andrew berjalan kembali menaiki tangga, mengikuti Nimas yang lebih dulu melanting memasuki rumah. Dilihat dari arah yang diambilnya, sepertinya kembaran Austin itu memapah langkah menuju kamar Lily.
Pintu bergambar animasi Winnie The Pooh di depannya, disibaknya perlahan. Dan didapatnya wajah mungil dengan pipi gembul milik Lily yang masih terlelap di ranjang mininya. Nimas tak ada di sana. Wanita pengasuh itu berada di dapur, membuat bubur sayuran untuk anak asuh kesayangannya seperti biasa.
"Hello, Baby. Kita ketemu lagi," Andrew menyapa bocah itu dengan senyumnya. Sedikit membungkukkan tubuh untuk mengambil jarak pandang lebih intens atas balita cantik putri Austin tersebut. "Dia anaknya Austin sama Jasmine," gumamnya merasa tak menyangka dan sedikit masih merasa aneh, walau ritme pertemuan mereka terbilang sudah cukup banyak.
Lily nampak terusik, sedikit menggeliat dalam pejamnya, ketika telapak tangan Andrew mengelusi pipi gembulnya dengan sangat lembut.
Andrew masih menatapnya, semakin lama, semakin dalam dan lebih dalam. Hingga ekspresinya perlahan berganti datar, lalu tertarik membentuk kernyitan tebal.
DEG DEG DEG
Menghubungkan beberapa hal melalui hati dan pikirannya, bingkai mata Andrew seketika melebar, disusul seisi dada yang kuat berdentam tak karuan. Ia menegakkan tubuhnya gegas seolah tertendang sesuatu tak kasat mata.
"Pertemuan Austin dengan Jasmine ... apa lebih dulu dari aku?" tanyanya pada diri sendiri, mulai gamang. "Atau ...?" Wajahnya kembali terlempar pada Lily yang kini berganti hadap. Isi kepalanya mulai merayang berputar-putar. "Waktu itu ... kalo gak salah Tara pernah bilang ...."
"Iyak. Playboy sinting yang akhirnya jatuh cinta sama cewek bunting!"
Benar! Kalimat itu! Andrew mengingat jelas kalimat candaan si Sableng Tara itu. Walaupun pada saat itu ia tak begitu menganggap, tapi sekarang ... malah menjadi clue yang sekuat pikir ia gali kebenarannya.
"Kalau waktu awal Austin ketemu Jasmine, cewek itu udah dalam keadaan hamil, itu artinya ...?" Andrew memundurkan tubuhnya limbung. Memaut kasar rambutnya ke belakang. Kentara menunjukkan raut frustasi yang teramat. "Oh, God ... apa mungkin Lily ... anak aku?!"
_____________
Setelah melewati cukup banyak perputaran jarum jam, taksi yang membawa Austin akhirnya sampai di rumah sakit di mana Jasmine dirawat. Ia keluar dari dalamnya lalu berlari secepat tornado.
Meja resepsionis ditandanginya untuk mendapati informasi perihal keberadaan pasien atas nama Nastya Jasmine. Dan didapatnya satu menit kemudian.
Anggukkan singkat Austin gerakkan mengiring kata terima kasihnya pada petugas bergender wanita pemberi informasi tersebut.
__ADS_1
Tanpa babibu, tak mempedulikan betapa panjang dan lelah perjalanannya dari Jakarta hingga sampai di kota ini, ia melanting berlari menuju ruangan di mana Jasmine menjalani perawatan.
BRAK
Pintu yang dibukanya lebih dari bersemangat itu cukup mengagetkan orang-orang yang berada di dalamnya.
"Bule!" sambut Kandyla, seraya mengangkat tubuhnya terperanjat.
Sedangkan Denia dan salah satu lelaki dari pihak film, menatapnya terheran-heran.
"Gimana Jasmine?!" tanya gegas Austin, seraya bergerak melangkah cepat mendekat ke arah mereka.
Sekilas Kandyla menoleh Jasmine, lalu kembali pada Austin. "Dia baru aja tidur."
Austin menghela napas lelahnya, lalu melangkah perlahan ke arah samping brankar yang direbahi Jasmine.
Memahami posisi, Denia bangkit dari kursinya, lalu mempersilahkan Austin menggantikan. Ia dan seorang crew pria di belakangnya pamit undur diri untuk keluar, memberi ruang. Kecuali Kandyla yang mungkin akan dibutuhkan atas sebuah penjelasan yang ingin diketahui Austin, tentunya.
Setelah duduk, Austin meraih telapak tangan lemah dengan selang infus di punggungnya tersebut, lalu dikecupnya cukup dalam dengan pejaman mata menghayati penuh perasaan. Wajah manis dengan bibir pucat itu kemudian ditatapnya cemas. "Kenapa bisa kayak gini, sih, Jas?"
Gumaman itu terdengar miris di telinga Kandyla, namun juga tersurat makna lain di baliknya. Satu hal pertanyaan di kepala wanita itu sedari awal kejadian itu menimpa Jasmine;
"Bukannya lu tahu alesannya, Ben?!" tanyanya tak bisa menahan.
Austin spontan melengak ke arahnya. "Maksud lu?!"
"Iya! Jasmine lakuin ini tuh gara-gara lu!"
Kerutan di kening Austin menebal dalam sedetik. "Bisa lu ngomong lebih jelas?!"
Kandyla membeliak sebal. "Dengerin gua," pintanya, lalu mulai menjelaskan secara rinci segala yang diketahuinya, walau tak cukup jelas dan justru terdengar seperti lelucon.
"Lu kalo bacot jan ngadi-ngadi, Dil! Gua bahkan baru nongol di mari ini waktu! Abis lu telepon subuh-subuh kemaren, gua cabut langsung kemari, DA-RI IN-DO-NE-SIA!" elak Austin menekankan kalimat terakhir. Ia tentu tak merasa. "Kalopun gua nginep di itu hotel, gua pasti nyambangin lu juga lah!"
JRENG!
Pernyataan itu sukses membuat Kandyla tertegun. Ia lalu menatap Jasmine dengan wajah gamang, penuh kebingungan. "Trus ... malem itu, cowok yang angkat telepon Denia, ngaku-ngaku nama lu, siapa dong ...?"
..........
__ADS_1