Wanita Bergilir

Wanita Bergilir
Chapter 43


__ADS_3

"Maaf, Sigi. Aku gak bisa."


Jawaban itu terlontar dari mulut Jasmine setelah cukup lama ia terjebak dalam keterkejutan atas permintaan Sigi beberapa saat lalu. Rangkulan pria itu di pinggangnya dalam tarian dansa tersebut sontak ia lerai.


Dengan gerak tergesa, Jasmine lalu berbalik badan meninggalkan lantai dansa sebelum mulut Sigi bersuara menyela jawabannya.


Bukan Sigi ada kekurangan, bukan juga tak pantas untuknya, pria itu bahkan lebih sempurna dari sekedar kata pantas. Jasmine hanya merasa 'tidak' saja. Entah itu 'tidak' siap, atau mungkin 'tidak' ada ketertarikan. Mengingat betapa rumit kisah cintanya bersama Austin dan juga Dayhan, Jasmine merasa dirinya tak ingin gegabah lagi dalam hal itu. Ia tak ingin salah langkah ke sekian kali.


Menyadari baru saja ditolak, Sigi berlari mengejar. Jasmine menghentak langkah cepatnya menuju ke lantai dua.


"Jas! Tunggu!"


Teriakan itu tak diindahkan Jasmine. Ia terus saja berjalan cepat. Sehelai pintu di kiri area dia tuju. Itu adalah kamar yang ditempatinya bersama Kandyla.


Suara hentak kaki Sigi terdengar kencang berdebam semakin dekat. Jasmine mempercepat langkahnya untuk segera memasuki kamar. Namun sayang, handle pintu tak sempat diraihnya.

__ADS_1


Sigi lebih dulu menarik tangannya untuk kemudian ia rengkuh tubuh langsing wanita itu ke dalam dekapnya. Hingga kini posisi keduanya berhadapan tanpa jarak. Perut dan dada mereka saling beradu, seiring sebuah ciuman dilakukan Sigi di bibirJasmine secara cepat.


Jasmine yang terkejut dengan perlakuan serampangan itu, sontak meronta. Didorongnya dada Sigi sekuat tenaga. Namun tak ada hasil. Sigi malah semakin mengetatkan perlakuannya. Ia bahka tak peduli pada Jasmine yang mulai kesulitan bernapas.


Rembasan air mata mulai turun dari mata wanita itu. Ia menangis seraya memukul-mukul dada bidang Sigi dengan ritme lemah.


Suara desis tangisan kecil Jasmine kemudian disadari Sigi. Dilepasnya ciuman, lalu ditatapnya Jasmine yang langsung terisak setelahnya.


"Jas ... maafin aku." Tubuhnya tersurut ke belakang seiring dorongan dua telapak tangan Jasmine di dadanya.


Belum sempat kata itu diusaikan Sigi, Jasmine lebih dulu melanting masuk ke dalam kamar dan mengunci diri. Tak ada jawaban walau satu kata pun dari mulutnya.


Sigi tercenung di tempatnya. " .... Aku cuma mo tahu, apa gak ada sedikit pun perasaan di hati kamu buat aku," lanjut pria itu dengan suara lirih dipulas raut menyesali.


Disentuh dan diusap bibirnya. Sisa ciuman paksanya atas Jasmine bahkan masih terasa. "Seperti ini pun bibir kamu terasa manis, apalagi kalo itu kita lakuin itu secara suka sama suka."

__ADS_1


Sigi masih bergeming di tempatnya untuk beberapa saat.


Sampai suara hentak sepatu mengudara di belakang. Yang membuat Sigi kemudian menoleh. "Jho. Ngapain lu di sini?" tanyanya sedikit terkejut.


Pria yang disapanya Jho itu nampak tersenyum. Senyuman yang dilihat sekilas pun, jelas mengartikan sebuah ejekan. Tepukan di pundak Sigi ia daratkan setelah jaraknya kini berdekatan. "Sosor paksa, Men!" ledeknya terkekeh kecil. "Seorang Sigi maen sosor paksa, Guys!" Dan kini berubah menjadi tawa.


"Apaan sih lu?!" Sigi kelabakan. Ditariknya tangan pria bernama lengkap Jhofandra itu menjauh dari depan pintu kamar Jasmine. "Pen gua tebas leher lu!" ia mengancam. Ancaman yang justru semakin mengeraskan tawa Jhofan hingga menggema.


"Hahahaha!"


"Diem lu, Kampret!" Sigi menghardiknya.


Jhofan menepis kasar tangan Sigi, lalu berdiri di hadapan sahabatnya itu masih dengan sisa tawa. Kedua telapak tangannya naik merangkum pipi mulus Sigi disertai tatapan lembut. "Lu kok lucu sih?"


Tanpa disadari keduanya, Kandyla muncul dari arah tangga. Gadis itu menatap mereka dengan wajah heran. "Kalian ngapain?"

__ADS_1


__ADS_2